Tantangan Guru Abad 21

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 11, 2018 in OPINI |

Dimuat di : KORAN JAKARTA, 1 Desember 2018

Salah satu persoalan besar pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu guru. Guna memotivasi guru untuk meningkatkatkan peran strategisnya dalam membangun sikap, keterampilan, dan pengetahuan guna meningkatkan mutu pendidikan, peringatan Hari Guru Nasional tahun 2018 mengambil tema “Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad 21”.

Dengan harapan, para guru mampu menjadi pendidik berdedikasi yang profesional dan bermartabat. Dia mampu membangun karakter bangsa dalam pendidikan abad ke-21. Sejarah Hari Guru Nasional dimulai dengan berdirinya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada tahun 1912 yang beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik.

Organisasi ini bukan hanya menumbuhkan kesadaran akan cita-cita kemerdekaan, namun juga memperjuangkan nasib para anggotanya. Juga kesamaan hak dan posisi antara guru pribumi dan Belanda. Tahun 1932 nama PGHB diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI).

Terbentuknya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), ketika diselenggarakan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24–25 November 1945 di Surakarta. Tuntutan profesionalisme guru yang semakin tinggi menumbuhkan banyak organisasi profesi guru lain yang menjadi wadah untuk terus menguatkan kompetensinya.

Juga untuk memajukan diri secara kolektif melalui berbagai organisasi tersebut. Jika dulu hanya ada satu organisasi, yaitu PGRI, sekarang telah tumbuh beberapa organisasi profesi guru berbadan hukum. Mereka bisa menjadi pilihan para guru untuk bersama- sama mengembangkan kompetensi, di antaranya Ikatan Guru Indonesia, Federasi Serikat Guru Indonesia.

Kini, setiap tanggal 25 November bukan hanya untuk memperingati ulang tahun salah satu organisasi profesi guru, namun pemerintah menetapkannya sebagai Hari Guru Nasional. Gebrakan nyata organisasi profesi ini menjadi harapan hampir tiga jutaan guru di seluruh Indonesia, tanpa terkecuali.

Ini termasuk juga perjuangan dalam rangka penguatan otonomi guru menuju sosok profesional yang didambakan. Rohman (2013) dalam bukunya Guru dalam Pusaran Kekuasaan mengatakan, konsep otonomi guru akan menjadi wahana pencerahan untuk bangkit dari keterbelakangan iptek dan kekuasaan dalam mengabdikan dirinya demi kemajuan kemanusiaan.

Secara historis, perjuangan yang ditorehkan guru Indonesia amat mengagumkan. Mereka merupakan profesi penting dan strategis yang dalam upaya memajukan peradaban manusia melalui pendidikan. Peran strategis guru inilah yang kemudian menjadi sasaran kaum penguasa daerah untuk menjadikannya sebagai “alat” pelanggengan kekuasaan.

Selama proses belajar mengajar masih juga ditunggangi kepentingan lain, sesungguhnya hakikat belajar untuk membangun peradaban bangsa tidak akan tercapai. Guru harus bisa memastikan merdeka dari segala kepentingan yang bisa melemahkan kompetensi dan profesionalismenya sebagai pendidik.

Seiring dengan perkembangan zaman, semakin besar pula tantangan guru dalam mengajar. Guru dituntut mampu mempelajari dan menyesuaikan banyak hal baru. Misalnya, cara menggunakan teknologi untuk pembelajaran, membuat media yang menarik bagi siswa, hingga cara dan strategi menghadapi generasi yang kini menjadi murid.

Karakteristik murid kini telah berubah. Mereka adalah para generasi Z yang terlahir di era ketika semua informasi sudah terkoneksi. Murid akan mengekpresikan kesantunan, sikap hormat, dan kepatuhannya kepada guru melalui cara berbeda pula. Apa yang dilihat, didengar dan dirasakan murid tentang gurunya akan melahirkan reaksi spontan, lugas, dan tanpa basa-basi.

Guru bertipe medioker atau bahkan otoriter tidak akan mendapat tempat di hati anak didik. Mereka adalah guru-guru yang menempatkan diri di atas siswanya. Mereka merasa paling berkuasa dan paling tahu di kelasnya. Guru demikian biasanya menganggap bodoh siswa dan hanya berorientasi pada tugas serta nilai.

 

Progresif

 

Guru diharapkan mampu menjadi orang yang berpandangan progresif seperti yang disuarakan Paulo Freire. Guru harus mampu memiliki gagasan, pandangan, dan pemikiran luar biasa yang dapat dijalankan dalam proses belajar mengajar. Dengan begitu, semangatnya mampu menebarkan gairah belajar bagi seluruh siswa, yang kini diposisikan sebagai pusat pembelajaran.

Hal tersebut menuntut pola relasi guru dengan muridnya secara inklusif. Guru harus meletakkan diri sebagai seseorang yang terlibat secara langsung dalam proses yang dilalui bersama siswa. Dia sejajar sebagai mitra dalam mengarungi samudera ilmu pengetahuan. Relasi yang demikian, jika dibangun di dalam kelas niscaya akan memberikan kenyamanan.

Ini memberi ruang bagi siswa untuk lebih leluasa dalam berekspresi, mengemukakan pendapat, dan berargumentasi. Akhirnya, merekalah yang akan menemukan sekaligus memecahkan masalah bersama-sama. Hanya pembelajarlah yang akan bertahan di situasi disruptif masa depan ini. Tidak hanya murid yang harus belajar.

Seorang guru justru harus menjadi teladan pembelajar sepanjang hayat. Karena melaluinya bisa terlahir generasi-genarasi pemimpin masa depan. Tilaar (2012), mengatakan bahwa legitimasi dari suatu pekerjaan atau jabatan dalam masyarakat abad ke-21 tidak lagi didasarkan pada amatirisme.

Dia harus berdasarkan pada kemampuan yang diperoleh secara sadar dan terarah dalam menguasai berbagai jenis ilmu pengetahuan dan keterampilan. Baca, tulis, hitung saja tidak cukup. Ada enam literasi dasar yang harus dikuasai orang dewasa menurut World Economic Forum. Mereka adalah literasi baca tulis, numerasi, finansial, sains, budaya-kewarganegaraan, serta literasi teknologi informasi dan komunikasi.

Penggunaan teknologi diharapkan mampu meningkatkan kedekatan guru dengan siswa, bukan malah sebaliknya. Untuk menjawab tantangan mengajar era digital, guru perlu meyakini bahwa teknologi bukanlah perangkat utama dalam kegiatan mengajar. Meski teknologi bisa melakukan banyak hal, peran guru untuk mencetak siswa berkualitas dan berkarakter tetap yang paling penting. Posisi guru tak tergantikan.

 

Arifah Suryaningsih, Spd, MBA, Guru SMK N 2 Sewon, Bantul

Tags: , , , ,

Reply

Copyright © 2019 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.