0

Menyiapkan Pendidikan Tanggap Bencana

Posted by arifah.suryaningsih on Jan 29, 2019 in Uncategorized

Opini | Dimuat di: Harian Analisa, Sabtu, 26 Januari 2019

e-paper Harian Analisa, http://harian.analisadaily.com/epaper/read/2019-01-26

Alam tidak pernah kompromi dengan manusia dan seluruh penghuninya. Kapanpun dan dimanapun bencana bisa saja terjadi. Indonesia secara geografis terletak  sepanjang jalur Cincin Api (Ring of fire) di ujung pergerakan tiga lempeng dunia: Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik. Pada posisi itu, Indonesia tidak bisa mengelak sebagai negeri rawan bencana. Merujuk pada BBC Indonesia, melalui Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahwa, Indonesia menduduki peringkat tertinggi untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan gunung berapi. Indonesia juga menduduki peringkat tiga untuk ancaman gempa serta peringkat enam untuk banjir.  Juga berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UN-ISDR), Indonesia menjadi negara yang paling rawan terhadap bencana di dunia. Tingginya posisi Indonesia ini dihitung dari jumlah manusia yang terancam risiko kehilangan nyawa bila bencana alam terjadi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dalam periode 2005-2015 telah terjadi 11.648 kejadian bencana hidrometeorologi: banjir, gelombang ekstrem, kebakaran lahan dan hutan, kekeringan, dan cuaca ekstrem di Indonesia. Sementara 3.810 kejadian lain adalah bencana geologi—seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, dan tanah longsor. 

Rentetan bencana yang belum lama melanda pun kembali membuat seluruh masyarakat terhenyak. Kemudian menyadari bahwa sebagian besar dari kita belum siap menghadapinya. Kepanikan yang melanda membuat jumlah korban semakin banyak, hal tersebut  timbul karena kurangnya pembiasaan dan bekal pengetahuan supaya tetap berpikir tenang dan rasional. Panik yang menguasai diri bisa mengacaukan pikiran rasional manusia. Akibatnya manusia tidak bisa mengambil keputusan yang tepat.  Kemampuan mengendalikan panik dan mengutamakan pola pikir rasional, hanya bisa dilakukan dengan pelatihan dan pembiasaan.

Selain itu data menunjukkan bahwa penanganan bencana yang buruk, terutama pada proses mitigasi, dapat menyebabkan kerugian besar bagi negara. Misalnya, perkiraan Pendapatan Bruto Daerah (PDB) Yogyakarta yang jatuh pasca-gempa 2006 adalah sebesar 5 persen. Selain itu, gempa Padang ditaksir menurunkan pertumbuhan PDB daerah 0,3 persen pada 2009 dan 1,0 persen pada 2010.

Inilah pentingnya dilakukan mitigasi bencana masuk menjadi bagian dari kurikulum pendidikan.  Karena melalui pendidikan, pembelajaraan mitigasi bencana ini bisa lebih sistematis, terarah dan strategis. Bencana sudah berulang dan memakan banyak korban. Seharusnya pemerintah menjadikan program ini pada deretan prioritas utama. Melalui jalur pendidikan harapannya bisa langsung menyasar kepada rakyat banyak dan bisa dilakukan secara terintegrasi sejak level pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Wacana ini sudah lama didengungkan, namun masih jauh dari pelaksanaan. Kesadaran menghadapi bencana muncul sesudah bencana, dan hal ini terus terulang.

Jika kita tengok pada kasus-kasus bencana yang sudah-sudah. Banyak organisasi dan lembaga dan juga pemerintah spontan bergerak, setelah bencana terjadi. Sejak Tsunami Aceh, Gempa Jogja, Gempa NTB, Gempa Palu, dan yang terkini Tsunami Selat Sunda. Program-program trauma healing banyak sekali diberikan. Menyasar (tentu saja) hanya pada korban yang terdampak. Bagaimana menghilangkan, meredakan dan menghibur mereka. Setelahnya lupa begitu saja. Sementara bencana ini mengancam semua, semua bisa terdampak dengan tiba-tiba, dengan ataupun ada tanpa tanda. Sehingga mutlak kesiapan menghadapi bencana ini harus diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia. pada usia belajar melalui pendidikan-pendidikan formal, dan pada masyarakat umum melalui program-program khusus pendidikan mitigasi bencana untuk masyarakat.

Kita bisa belajar dari Jepang. Negara ini biasa menghadapi bencana gempa, tsunami, topan, hingga banjir dengan beberapa cara. Salah satunya menerapkan kebijakan kurikulum pelajaran bencana sejak anak-anak di Jepang duduk di bangku taman kanak-kanak. Negara itu sudah komprehensif penangannya. Mulai dari pelajaran bencana jadi kurikulum, kebijakan tata ruang, hingga teknologi bangunannya. Termasuk juga kesadaran rakyatnya untuk mengamankan dirinya secara swadanya untuk membangun hunian yang aman terhadap gempa, tsunami ataupun bencana alam lainnya. (Republika.co.id,  3/10/2018 )

Mitigasi bencana harus dilakukan dalam dua cara. Pertama, pendekatan noninfrastruktur melalui pendidikan, sosialisasi dan simulasi secara rutin di sekolah dan masyarakat. Kedua, pendekatan infrastruktur, yaitu berupa pembangunan fisik seperti gedung evakuasi, jalur evakuasi yg layak, dan hutan pantai. (Kompas, 27/12/2018)

Pada tataran noninfrastruktur, yaitu melalui pendidikan.  Bentuk mitigasi bencana bukan sekadar materi tambahan atau mata pelajaran tambahan, tetapi lintas disiplin karena pemahaman bencana dan apa yang perlu dilakukan saat bencana datang, evakuasi, dan penanggulangan membutuhkan pendidikan utuh. Selain itu simulasi (pelatihan kesiapsiagaan) menghadapi bencana pun harus dilakukan secara masif, rutin dan melembaga. Seperti yang telah dilakukan pada kegiatan upacara bendera atau olahraga di sekolah, di kantor-kantor maupun di lingkungan masyarakat. Pelibatan lembaga-lembaga penanggulangan bencana seperti BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP – dahulu BASARNAS) untuk masuk ke dalam sekolah maupun masyarakat sangat dimungkinkan untuk mengedukasi secara langsung kepada siswa maupun masyarakat tentang beberapa hal teknis dan pokok mengenai penanggulangan kebencanaan.

Pada pendekatan infrastruktur, di setiap daerah khususnya pada daerah-raerah yang terpetakan merupakan rawan bencana, pembangunan infrastruktur  kebencanaan seharusnya menjadi skala prioritas untuk dibangun.  Sejak alarm early warning sistem bencana, jalur evakuasi, gedung evakuasi beserta kelengkapan fasilitas untuk bertahan, hingga struktur bangunan tahan bencana pada setiap kantor, fasilitas umum maupun rumah-rumah penduduk.  Termasuk tugas pemerintah untuk memetakan wilayah-wilayah yang tidak lagi layak huni pasca bencana. Termasuk membuat aturan untuk tidak lagi menghuninya serta memberi solusi atas hak rakyat atas kepemilikan sesudahnya. Seperti pada bencana Palu, dimana banyak tanah-tanah yang mungkin rawan terjadi likuifaksi. Harus dibebaskan untuk menghindari bencana yang mungkin terjadi. Dengan cara mengalihkannya untuk membangun taman-taman kota atau fungsi lainnya yang tidak akan membahayakan keselamatan rakyat jika bencana kembali melanda.  

Kedua hal ini perlu dibangun secara beriringan, sehingga kesiapan psikis dan fisik akan akan saling mendukung dan melengkapi, ketika bencana datang. Bukan hal yang mudah dan murah untuk melaksanakan semua ini. Dibutuhkan keseriusan pemerintah dan dukungan masyarakat untuk juga secara mandiri melakukan hal-hal yang memampukan diri sigap dan siap terhadap bencana. Pendidikan siaga bencana akan menguatkan kehidupan yang  harmonis masyarakat Indonesia dengan bencana, untuk selalu siap bersiasat guna memperkecil dampaknya. Semoga.

 
0

Tantangan Guru Abad 21

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 11, 2018 in OPINI


Dimuat di : KORAN JAKARTA, 1 Desember 2018

Salah satu persoalan besar pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu guru. Guna memotivasi guru untuk meningkatkatkan peran strategisnya dalam membangun sikap, keterampilan, dan pengetahuan guna meningkatkan mutu pendidikan, peringatan Hari Guru Nasional tahun 2018 mengambil tema “Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad 21”.

Dengan harapan, para guru mampu menjadi pendidik berdedikasi yang profesional dan bermartabat. Dia mampu membangun karakter bangsa dalam pendidikan abad ke-21. Sejarah Hari Guru Nasional dimulai dengan berdirinya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada tahun 1912 yang beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik.

Organisasi ini bukan hanya menumbuhkan kesadaran akan cita-cita kemerdekaan, namun juga memperjuangkan nasib para anggotanya. Juga kesamaan hak dan posisi antara guru pribumi dan Belanda. Tahun 1932 nama PGHB diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI).

Terbentuknya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), ketika diselenggarakan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24–25 November 1945 di Surakarta. Tuntutan profesionalisme guru yang semakin tinggi menumbuhkan banyak organisasi profesi guru lain yang menjadi wadah untuk terus menguatkan kompetensinya.

Juga untuk memajukan diri secara kolektif melalui berbagai organisasi tersebut. Jika dulu hanya ada satu organisasi, yaitu PGRI, sekarang telah tumbuh beberapa organisasi profesi guru berbadan hukum. Mereka bisa menjadi pilihan para guru untuk bersama- sama mengembangkan kompetensi, di antaranya Ikatan Guru Indonesia, Federasi Serikat Guru Indonesia.

Read more…

Tags: , , , ,

 
0

Menumbuhkan Nalar Kritis di Era Digital

Posted by arifah.suryaningsih on Nov 22, 2018 in RESENSI BUKU


RESENSI: Dimuat di Koran Jakarta, 12/11/2018

Judul :Socrates Cafe

Penulis : Sahrul Mauludi

Penerbit : Elex Media Komputindo

Terbit : 2018

Tebal : 298 halaman

ISBN :978-602-04-8372-6

Seiring meningkatnya penggunaan internet melalui berbagai perangkat teknologi informasi dan komunikasi di semua lini bidang kehidupan, literasi digital merupakan kebutuhan mendesak yang harus diberikan kepada masyarakat. Buku ini mengajak pembaca selalu bertanya dan bersikap kritis terhadap penggunaan media digital dan beragam konten internet. Orang harus selalu bertanggung jawab dalam membuat informasi agar menjadi pengetahuan yang bisa diterapkan dalam kehidupan.

Buku ini memunculkan tokoh Socrates pada bab pertama, representasi filsuf yang berpandangan kritis dan dialektis. Kehadirannya di awal bab untuk memberi teladan kepada pembaca, prinsip dari filsuf kelahiran Athena (470) ini masih relevan dengan dunia saat ini. Socrates mengajak memikirkan tentang diri dan melakukan yang benar. Juga menyuarakan kebenaran dan terus menjaga jiwa agar bisa hidup dengan persahabatan dan cinta (halaman 2).

Kemudian juga, penulis mulai membahas fenomena-fenomena masyarakat digital pada bab-bab selanjutnya. Pada dunia yang sudah terkoneksi, masyarakat sebagai pengguna memiliki peran menentukan agar teknologi digunakan dalam konteks sosial, budaya dan politik yang spesifik (halaman 25). Idealnya, internet dapat memberi manfaat besar bagi setiap pengguna. Namun, dampak positif ini hanya dimungkinkan jika masyarakat memiliki tingkat literasi digital memadai dan memahami cara memanfaatkannya secara maksimal. Jika tidak, masyarakat hanya akan berselancar tak tentu arah, tanpa manfaat dan tujuan jelas. Bahkan dia dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Read more…

 
0

DUA CINTA SATU MASA

Posted by arifah.suryaningsih on Nov 4, 2018 in Uncategorized


“Lihatlah, ada dua titik yang bergerak di layar USG.” Sepenggal kalimat itu keluar dari mulut seorang bidan di sudut kota Jogja, ketika kami hanya ingin memastikan test pack  kehamilan kedua. Membawa saya dan suami kepada kesibukan luar biasa sesudahnya. Bukan hanya sekejab itu kami dibuat takjub. Bahkan hingga kini, pada sepuluh tahun setelah kelahirannya. Kami tidak pernah tidak sibuk, tidak pernah berhenti merasa takjub untuk setiap tahapan yang kita lalui. Sepuluh tahun nyatanya bukan waktu yang panjang, tidak sepanjang angan-anganku pada waktu mengandung mereka, bagaimana aku akan bisa melewatinya? Karena melewati setiap detik bersama mereka adalah sebuah keajaiban yang selalu kunikmati, tiada henti.

Sejak minggu ke tiga, hingga minggu ke-37 menjelang kelahiran mereka. Kami memutuskan bersama dengan Dr. Dyah Rumekti, Sp.OG., dokter yang juga mengawal kehamilan dan kelahiran sulung kami. Diawali dengan perjalanan panjang tujuh bulan pertama, betapa tidak mudah menaikkan berat badan janin, karena metabolisme tubuhku yang kurang baik. Muntah setiap minum vitamin ataupun minum susu. Hingga minggu ke-26 berat mereka tidak beranjak menuju “zona aman”. Sehingga Dr. Dyah memberikanku sebuah ultimatum, “Jika satu minggu kedepan berat janin tidak juga naik, sebaiknya kita keluarkan saja. Merawat di luar akan lebih mudah dengan berat yang kurang seperti ini.” Kalimat itu menyulut semangatku, untuk bisa memberikan mereka asupan terbaik, kukesampingkan rasa mual, malas dan juga segala hal yang berkaitan dengan memanjakan rasa. Demi mereka! Sehingga memasuki minggu ke-30 berat janin merangkak naik, hingga minggu ke 37 ketika aku sudah tidak bisa lagi berbaring dengan nyaman, bernafas dengan gampang, dan bergerakku semakin lamban. Sehingga mereka harus dilahirkan.

Dimulai dengan berat badan masing-masing 1800 gram untuk Najla dan 2300 gram untuk Najwa, mungkin bagi kebanyakan orang itu adalah Berat Badan Lahir Rendah yang mengkhawatirkan.  “Ketika semua organ tubuh telah lengkap dan berfungsi dengan sempurna, juga ketika usia telah siap itu tidak akan menjadi masalah,” lagi-lagi dokter cantik di depanku ini selalu memberikan semangat. Baiklah, sehingga sepuluh hari setelah melahirkan mereka, hidupku hanya terpusat untuk memberi ASI saja, tidak untuk yang lain. Makan dan tidur secukupnya untuk kemudian setiap  dua jam setor ASI kepada keduanya. Kami boleh membawa pulang mereka jika selama tiga hari berturut-turut berat badan mereka naik. Melewati sepuluh hari untuk itu, ketika syarat terpenuhi, maka kami boleh pulang dari  Instalasi Maternal Perinatal (IMP) Maternal RS. DR. Sardjito Yogyakarta.

Rumah. Sukacita, semua menyambut dua manusia kecil itu mengenal tempat mereka pulang. Termasuk sulung kami yang pada waktu itu berusia 4,5 tahun.   Matanya berbinar-binar melihat sepasang adiknya yang baru dilihat setelah 10 hari kelahirannya. Kupeluk dan kubisikkan, “Selamat sayang, Kak Nada menjadi kakak untuk dua adik sekaligus, kakak yang hebat dan istimewa!”, matanya mengerjap, kemudian mencium pipi mungil kedua adiknya.

“Terkadang saya lupa, kapan terakhir menyisir rambut.”  Mungkin itu kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan betapa sibuknya kami setelah itu, tiga sampai empat  jam adalah waktu terbaikku bisa memejamkan mata, tidak pernah lebih dari itu. Setiap dua jam mereka pasti terbangun, tapi dengan interval yang beriringan. Ketika si kakak selesai, adik selanjutnya. Atau bahkan, adik belum selesai menyusu, kakak sudah keburu menjerit-jerit di tengah malam buta. Melelahkan? Tidak, tentu saja. Yang lebih tepat adalah, sangat melelahkan. Tapi ternyata semua ini lebih ringan daripada ketika hanya membayangkan, “bagaimana bisa merawat dua bayi kembar sekaligus?.”

Melewati malam-demi malam pada dua bulan pertama tidaklah sedramatis fase membayangkan. Ditambah dengan  sebuah komitmen untuk memberikan ASI secara eksklusif kepada mereka. Sehingga kudapan berat, buah-buahan, susu dan juga jug air putih harus selalu ada di dalam jangkauanku. Termasuk lima kali sehari untuk makan harus dianggap wajar untuk busui dua bayi kembar, yaitu sarapan, brunch (breakfast lunch), lunch beneran, makan sore dan dinner. Dengan menu seputaran, sayur brongkos, sayur daun katu, bayam wortel, sop brokoli, daging bacem, telor ayam kampung, tahu, tempe, seafood. Yang kesemuanya hanya cukup di steam atau direbus saja. Simple, urusan dapur lebih cepat  dan menghasilkan banyak ASI. Lupakan sejenak nikmat-nikmat gorengan di lidah.

Satu hal yang paling berat adalah ketika saatnya tiba, harus meninggalkan bayi untuk kembali bekerja. Tidak banyak pilihan bagi seorang Aparatur Sipil Negara untuk bisa berlama-lama dengan sang bayi. Dua bayi tepatnya. Sehingga strategi terbaik yang sudah direncanakan harus segera direalisasikan. Memompa ASI di malam hari, menyimpan dalam kantong-kantong dan wadah ASI, menghangatkan untuk mereka sesuai dengan urutan tanggal yang seharusnya tertulis rapi. Namun urutan tanggal yang tertulis rapi di stok ASI tidak berlaku untuk mereka, karena stok di dalam semua wadah tidak cukup banyak untuk sempat diberi tanggal pumping.  Siang hari harus kembali ke rumah untuk setor ASI, demikian seterusnya hingga salah satu dari mereka terkadang menjerit-jerit karena sudah tidak sanggup untuk menunggu ASI bagiannya. Panik? Tentu saja. Mengeluh? Rasanya saya sudah tidak ada waktu untuk itu. Sehingga rencana untuk enam bulan eksklusif harus terhenti memasuki bulan ke-5.

Semakin nikmat mereka menghisap dot dengan susu formula, semakin berkurang ASI yang bisa kuhasilkan. Sehingga masa MPASI tiba di usia ke-6 bulan cukup melegakanku. Komitmen selanjutnya adalah tidak memberikan mereka MPASI instan. Tidak sekalipun. Perjuangan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Keduanya selalu lahap dengan aneka menu yang kuberikan. Pure kentang brokoli dengan ikan salmon, adalah menu favorit mereka. Tanpa pernah melewati konstipasi, tanpa melewati sakit yang berarti, sekedar pilek, demam karena perubahan cuaca maupun kondisi pasca imunisasi, mereka tumbuh dengan sempurna. Mulai mengucapkan kata-kata pertamanya pada 12 dan 13 bulannya. Menapak dengan sempoyongan pada kaki-kaki kecilnya pada 13 dan 15 bulannya. Hingga berlarian kesana kemari, sehingga kami tidak boleh sekalipun kehabisan energi.

“9 bulan + 3.650 hari = teman diperut, partner bermain, belajar, berdebat, berebut, berkonflik, becanda dan juga bersekongkol. Selamat hari lahir, kembar-kembir.” – Kutuliskan sepenggal kalimat itu kemarin, pada 27 September 2018 di akun Instagram @arifahfafa untuk ulangtahun ke-10 mereka.  Untuk sepenggal kebersamaan kami dalam satu dasawarsa ini, waktu yang sebentar, karena masih kupinta waktu yang lebih dan lebih lama lagi dari Nya. Sehingga kelak bisa kulihat mereka terus menjadi bintang, memberi kebaikan dan menebarkan manfaat bagi  sekelilingnya, bagi negerinya. Hingga hari ini, ketika secara fisik, akademis, maupun hafalan surat-surat Al-Qurannya  telah melampaui teman sebayanya, itu semua cukup menjadi mood booster terbesar kami.

Tags: , ,

 
0

Membaca dan Daya Saing Bangsa

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 5, 2015 in OPINI


Dimuat di: Suara Karya, 5 Desember 2015

Kegiatan wajib membaca selain buku mata pelajaran selama minimal 15 menit sebelum berlangsungnya kegiatan belajar mengajar (KBM), kini mewarnai sekolah-sekolah. Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 21 Tahun 2015.

Kehadiran Permendikbud ini bukan saja membawa spirit penanaman budi pekerti luhur dan menumbuhkan potensi unik serta utuh setiap anak, namun juga menjadi sebuah langkah strategis sekaligus harapan besar terdongkraknya minat baca siswa kita.

Terpuruknya minat baca bangsa kita, salah satunya terindikasi dari jumlah buku yang diterbitkan. Indonesia hanya menerbitkan sekitar 24.000 judul buku per tahun dengan rata-rata cetak 3.000 eksemplar per judul. Sehingga, dalam satu tahun Indonesia hanya menghasilkan 72 juta buku. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, berarti satu buku rata-rata dibaca oleh tiga hingga empat orang. Hal ini jauh dari yang distandarkan UNESCO, yaitu idealnya satu orang membaca tujuh judul buku per tahun. Lebih lanjut, rendahnya minat baca siswa kita ditunjukkan juga pada hasil Proggress in International Reading and Literacy Study (PIRLS) tahun 2012 yang menempatkan Indonesia di posisi ke-61 dari 65 negara.    Kehadiran negara melalui pollitical will-nya ini menjadi sebuah paksaan bagi sekolah sebagai lembaga pendidikan formal untuk melakukan gerakan literasi secara berkelanjutan. Membaca secara rutin terbukti mampu meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) di negara-negara maju. Karena, melaluinya, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dengan mudah dicapai. Read more…

 
0

UKG DAN HARAPAN PENINGKATAN MUTU GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Oct 29, 2015 in OPINI


Dimuat di: Kedaulatan Rakyat, Selasa, 27 Okt 2015

Jpeg

KR, 27.10.2015

Mutu guru yang rendah menjadi salah satu permasalahan pendidikan kita hingga saat ini. Terbukti dari hasil tes-tes yang diselenggarakan untuk siswa maupun tes untuk guru sendiri. Sebagai contoh, Peringkat tes PISA (Programme for International Student Assessment) maupun PIRLS (Proggress in International Reading and Literacy Study) – studi kemampuan dalam hal literasi matematika, sains dan membaca, siswa Indonesia hampir selalu menjadi langganan pada urutan terbawah dunia. Pun demikian dengan hasil UKG (Ujian Kompetensi Guru), UKKS (Ujian Kompetensi Kepala Sekolah) dan juga UKPS (Ujian Kompetensi Pengawas Sekolah), semua masih jauh dari nilai yang dipersyaratkan. Hasil capaian UKG pada tahun 2012 baru memiliki nilai rata-rata sebesar 4,7. Sedangkan hasil capaian UKKS dan UKPS adalah, 45,75 dari standar minimal kelulusan 70 skala 0-100.

Kondisi ini menjadi tantangan seluruh pelaku pendidikan. Apalagi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kemendikbud tahun 2019, menghendaki rata-rata kompetensi guru dapat mencapai angka 8.00 (delapan).   Artinya gap antara capaian dengan target yang diinginkan masih menganga sangat lebar. Dibutuhkan semangat dan kerja keras dari guru dengan dukungan pemerintah untuk menuju titik ideal pendidikan yang bermutu.

UKG yang akan diselenggarakan pada pertengahan bulan November mendatang menjadi sebuah upaya peningkatan mutu guru yang patut disambut dengan persiapan yang matang dari berbagai pihak. Tiga ribuan guru, baik itu PNS maupun GTT, baik itu sudah tersertifikasi maupun belum, akan mencoba kompetensi pedagogis dan profesionalnya melalui tes ini. Setidaknya ada empat hal yang harus dipersiapkan dalam UKG 2015 supaya bisa mencapai target angka delapan pada empat tahun mendatang. Read more…

 
0

UJI KOMPETENSI GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Oct 7, 2015 in OPINI


Opini | dimuat di: Koran Jakarta, 6 Oktober 2015

Koran Jakarta, 6 Okt 2015

Koran Jakarta, 6 Okt 2015

Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan melaksanakan Uji Kompetensi Guru (UKG) pada tahun anggaran 2015 ini terhadap 3 juta  guru lebih di seluruh Indonesia pada pertengahan November. UKG  dilaksanakan secara online bagi sekolah kabupaten/kota yang sudah siap dan offline bila belum siap.

UKG online maupun offline tahun 2012 bagi guru dan kepala sekolah, baru memiliki nilai rata-rata sebesar 4,7. Nilai tersebut masih jauh dari  target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kemendikbud tahun 2019, yang menghendaki rata-rata kompetensi guru dapat mencapai angka delapan.   Artinya tahun ini nilai rata-rata UKG harus naik  signifikan. Tentu hal ini membutuhkan upaya dan kerja keras guru.

Ujian tidak lagi meggelisahkan berlebihan para guru karena UKG bukan barang baru lagi. Para guru tak lagi  gagap teknologi seperti tahun 2012 yang sempat menjadi berita besar ketika itu. Namun lebih jauh dari persoalan teknis kemampuan guru tersebut, pemerintah harus memperhatikan beberapa isu. Di antaranya, meningkatkan kompetensi guru terus-menerus,  sistem UKG yang objektif,  kualitas soal, dan program-program tindak lanjut setelah UKG. Read more…

 
0

MENGELOLA KEBERAGAMAN DI SEKOLAH

Posted by arifah.suryaningsih on Aug 23, 2015 in Uncategorized


Toleransi mengenai berbagai macam perbedaan merupakan sebuah tema pelajaran yang terus menerus diajarkan sejak seorang anak menapaki pendidikan formalnya. Tema ini menjadi sebuah topik penting yang wajib tersaji di sekolah untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang cinta damai. Namun pada kenyataannya Indonesia tidak juga terlepas dari berbagai kerusuhan maupun kekerasan dengan latar belakang permasalahan perbedaan. Perbedaan agama, perbedaan suku, kesenjangan sosial, dan masih banyak lagi kasus-kasus yang terjadi di sekitar kita.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan toleransi yang sudah diajarkan di sekolah masih berada pada tataran normatif. Sebagai contoh, sekolah cenderung merujuk pada capaian nilai/angka-angka pada pelajaran agama sebagai cerminan ketakwaan terhadap agama yang dianutnya. Sementara pada tataran praktis kurang mendapatkan perhatian, termasuk mengenai implementasi tentang apa dan bagaimana toleransi beragama itu.

……. Tulisan lengkap artikel ini telah saya ikut sertakan pada lomba yang diselenggarakan oleh CRCS UGM. Sehingga jika Anda menginginkan versi lengkapnya bersama 12 esai hasil pengalaman guru-guru dari sekolah lain, dimohon bersabar untuk menunggu terbitnya buku kumpulan esai keberagaman ini. 🙂 Terimakasih…..

 
0

SEKOLAH TANPA KEKERASAN

Posted by arifah.suryaningsih on Aug 23, 2015 in OPINI


Dimuat di: Suara Karya, Jumat/14 Agustus 2015

Tahun ajaran baru dimulai, hanya berselang beberapa hari setelah peringatan Hari Anak Nasional. Isu-isu mengenai anak dengan segala macam permasalahannya masih menggema jelas, menguatkan pesan kepada seluruh lapisan masyarakat, bahwa belum sepenuhnya hak anak terpenuhi dan terlindungi. Masih banyak kasus-kasus kekerasan pada anak terjadi di sekitar kita, di lingkungan masyarakat, rumah, bahkan juga sekolah.

Termasuk, pada pelaksanaan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB), masih juga dihiasi dengan aksi-aksi perploncoan dan kekerasan yang bahkan beberapa kasus disinyalir berujung kepada kematian. Hal ini tentu menjadi tamparan keras dunia pendidikan. Padahal, larangan praktik perpeloncoan dalam kegiatan pengenalan siswa baru telah digaungkan oleh Kemendikbud jauh hari sebelum tahun ajaran baru dimulai. Ini tercantum dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 59389 Tahun 2015 yang sudah dikirimkan ke sekolah-sekolah, sekaligus dengan ancaman sangsi yang keras dan tegas jika ada pelanggaran.

Nyatanya, tahun ini MOS masih dijalankan berdasar kebiasaan di sebagian sekolah. Read more…

 
0

Mencari Sosok Kepala Sekolah Ideal

Posted by arifah.suryaningsih on May 11, 2015 in OPINI


Dimuat di: Suara Karya, Sabtu- 2 Mei 2015

Uji Kompetensi Kepala Sekolah (UKKS) dan Uji Kompetensi Pengawas Sekolah (UKPS) telah dilaksanakan, beberapa waktu lalu. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan pemetaan kompetensi kepala sekolah (Kepsek) dan pengawas sekolah (PS), sebagai dasar pelaksanaan program pembinaan dan pengembangan mereka dalam bentuk kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), serta sebagai alat kontrol pelaksanaan penilaian kinerja.

Kepala sekolah (Kepsek) adalah seorang guru yang diberi tugas tambahan sebagai pemimpin sekolah. Dengan tambahan tugas ini, maka seorang Kepsek memiliki ekivalen 18 jam mengajar. Artinya, jika jumlah jam mengajar minimal yang dipersyaratkan untuk seorang guru adalah 24 jam, maka seorang Kepsek masih mempunyai kewajiban mengajar sejumlah enam jam tatap muka dalam satu minggunya. Read more…

Copyright © 2019 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.