0

POLITISASI GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 10, 2014 in RESENSI BUKU

Resensi | Dimuat di Kedaulatan Rakyat, 9 Maret 2014

 


Judul

:

GURU DALAM PUSARAN KEKUASAAN

Penulis

:

Dr. Arif Rohman, M. Si

Penerbit

:

CV.  Aswaja Pressindo

Tahun Terbit

:

November 2013

Halaman

:

 229 Halaman

ISBN

:

978 602 7762 96 1

 

Secara historis catatan sejarah perjuangan yang ditorehkan guru di Indonesia amat mengagumkan. Sehingga guru merupakan profesi yang teramat penting dan strategis yang dalam upaya memajukan peradaban manusia melalui pendidikan. Peran strategis guru inilah yang kemudian menjadi sasaran kaum penguasa daerah untuk menjadikan guru sebagai “alat” pelanggengan kekuasaannya.

Sejak masa perjuangan kemerdekaan cerminan relasi guru dengan masyarakat mempunyai peranan yang sangat besar. Sehingga guru menjadi bagian tak terpisahkan dalam interaksi antar kelompok dalam masyarakat. Akibatnya, guru sering berkolaborasi aktif mempengaruhi masyarakat untuk memahami masalah-masalah kemasyarakatan dan mencari solusinya. (Hal – 5)

Namun sayangnya banyak terjadi praktek jaringan birokrasi pendidikan yang distortif, yang menyebabkan fenomena “state for itself” atau pembenaran dari untuk diri sendiri. Sehingga upaya pemecahan problem pendidikan belum dapat dilakukan secara komprehensif. Banyaknya kendala tersebut karena adanya keberagaman kapasitas intelektual para birokrat pelaksana disertai kondisi geografis dan kultur yang sangat beragam.

Buku setebal 229 halaman  ini merupakan karya penelitian disertasi yang dilatar belakangi oleh kegalauan penulis atas nasib guru yang menurut sudut pandangnya, guru adalah sosok yang hampir selalu menjadi obyek dan pelengkap penderita dari tindakan elit penguasa dominan. Meski kesejahteraan guru sudah beranjak lebih baik, namun ketertindasan guru relatif belum sirna.

Diakhir buku ini, penulis menyimpulkan bahwa memang terdapat politik dominasi oleh penguasa daerah terhadap otonomi guru yang lebih dikenal dengan politisasi guru baik secara tersurat maupun secara tersirat untuk meraih kepentingan politik. Praktek tersebut merupakan wujud dari political relation yang menjelma menjadi political bargaining dengan berujung pada power sharing.(Hal -203).

Buku ini tepat dibaca oleh para birokrat dan juga guru sendiri. Sehingga kebijakan yang di hasilkan akan lebih objektif dan fair, bukan semata mengutamakan kepentingan politis. Bagi guru mereka akan bisa lebih memahami otoritas yang dimilikinya sebagai pengajar.

Diresensi – Oleh: Arifah Suryaningsih, Guru SMK 2 Sewon – Alumni MM UGM

 
1

Televisi dan Pendangkalan Moral

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 2, 2014 in OPINI

Opini | Dimuat di: Koran Sindo, Selasa 4 Februari 2014

 

Banyak kajian dan penelitian telah membuktikan bahwa kehadiran teknologi kotak ajaib bernama televisi bukan saja mempercepat penyebaran arus informasi, tapi juga sekaligus mereduksi tata nilai masyarakat. Sayangnya, sebagian besar masyarakat kita tidak menyadari bahwa perilaku dan kehidupannya telah dipengaruhi oleh tayangan televisi tersebut.

Kehadirannya telah melebur dalam setiap ruang keluarga. Begitu penghuninya membuka mata maka akan menyala pula televisi di sana. Bahkan, suarasuara bising yang berasal dari kotak ajaib itu akan lebih mendominasi mengalahkan percakapan- percakapan ringan yang terjadi dalam keluarga. Karena itu, momentum yang seharusnya bisa digunakan untuk menjalin komunikasi sebagai perekat penghuni rumah secara tidak langsung telah terebut oleh siaran televisi.

Kini televisi tidak lagi sendiri. Kehadiran teknologi internet bersama komputernya, laptop, telephone cellular, Black- Berry, iPad, iPhone dengan segala macam aplikasi chatting, browsingdan juga kebebasan dalam bermedia sosial semakin menambah semarak dunianya para net-generation, anak-anak kita. Lemahnya kesadaran masyarakat akan hal ini terjadi secara terus menerus dan menahun sehingga hal ini menimbulkan dampak perubahan perilaku masyarakat. Televisi menjadi trendsetter mulai dari gaya rambut, gaya berbusana, gaya tutur.

Menyeluruh hingga gaya hidup kita tanpa disadari lebih berkiblat kepada televisi. Rhenald Kasali (2013) dalam bukunya “Camera Branding” mengatakan, kita tengah hidup dalam peradaban Social TVyang jauh lebih terlihat dan saling memperlihatkan. Perbuatan dan perkataan, mimik dan bahasa tubuh, individu close-up dan kerumunan wartawan yang mengejar berita, komentar para ahli, telah memengaruhi moodkita Read more…

 
0

Sentralisasi Guru, Solusi atau Masalah?

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 2, 2014 in OPINI

Opini | Dimuat di: Kedaulatan Rakyat, 25 Februari 2014

 

WACANA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang akan mengambil alih kembali kebijakan pengelolaan guru dari pemerintah daerah perlu menjadi pemikiran bersama. Kemdikbud menilai kebijakan desentralisasi guru yang ada saat ini lebih banyak menimbulkan masalah di daerah-daerah, antara lain posisi guru ketika pemilihan kepala daerah dikaitkan
dengan politik, sulitnya pemerataan distribusi guru dan tersendatnya penyaluran dana untuk tunjangan sertikasi guru.

Terjadinya relasi guru dengan penguasa daerah memang tidak bisa dihindarkan. Otonomi daerah menjadikan kepala daerah sebagai pihak paling berwenang dalam kegiatan pembangunan pendidikan. Sementara kebijakan desentralisasi pendidikan yang didasarkan pada UU No 32 Tahun 2004 yang kemudian diperbarui menjadi UU No 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah, mempunyai tujuan esensial untuk menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat industri modern yang berakar dalam masyarakat setempat. Maka, seharusnya amanah desentralisasi tersebut harus mendukung peningkatan
profesionalitas guru, bukan sebaliknya, otonomi guru justru dikebiri demi perolehan ataupun pelanggengan kekuasaan.
Kondisi tersebut bahkan diperburuk dengan beberapa oknum guru yang justru memanfaatkan ‘pengaruh besar’ dirinya dalam
masyarakat untuk ‘bertransaksi’ dengan para penguasa. Tak jarang guru yang demikian akan menukar posisinya sebagai guru dengan jabatan struktural yang lebih empuk, nyaman dan strategis. Sehingga, alih-alih pemerataan guru dapat tercapai, justru jumlah guru menjadi berkurang karena tergiur oleh jabatan. Read more…

 
0

MEREVITALISASI PEMIKIRAN BAPAK PENDIDIKAN

Posted by arifah.suryaningsih on Feb 25, 2014 in RESENSI BUKU

Resensi | Dimuat di Jawa Pos, 23 Februari 2014

 

Judul

:

VISI PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA

Penulis

:

Bartolomeus Samho

Penerbit

:

Kanisius

Tahun Terbit

:

 2013

Halaman

:

115 halaman

ISBN

:

978-979-21-3547-3

 

Berbagai macam persoalan pendidikan di Indonesia diantaranya adalah sering terjadinya perubahan peraturan di dalamnya. Fenomena tersebut bisa di baca sebagai kecenderungan (para pemimpin) bangsa Indonesia yang terlalu mengagumi konsep dan metode pendidikan yang datang dari luar kemudian serta merta meniru tanpa pertimbangan yang cakap berkaitan dengan sosio-kultural kita. Akhirnya praksis pendidikan di Indonesia terkesan serba coba-coba, aktivitas pendidikan semata-mata hanya pada persoalan pengajaran dan ranah intelektualitas menjadi takaran utama.

Bartolomeus Samho mencoba mengingatkan kepada pembaca tentang profil Ki Hadjar Dewantara dalam beberapa citra dirinya yang ideal sekaligus memaparkan visi pendidikannya secara umum. Bahwa apa yang telah Ki Hajar sampaikan beberapa puluh tahun yang lalu yang menampilkan nilai-nilai tradisional Indonesia, tidak lekang dari tantangan-tantangan dalam tataran praksis implementatifnya saat ini.

Buku ini terbagi menjadi empat bagian, bagian pertama hingga ketiga menyibak beberapa lembaran sejarah kehidupan Bapak Pendidikan Indonesia ini. Di sana kita temukan bahwa sosok pendidik sejati itu memang gemar belajar dan cinta akan dunia pendidikan sejak masa kecilnya. Kecintaannya itu membuatnya selalu bertekad untuk belajar dan bersekolah. Keterbatasan ekonomi yang menghimpit kehidupan keluarganya di masa kecilnya, tidak menghambatnya untuk maju dan berkembang dalam hidup, sekolah dan belajar. Read more…

 
0

Televisi Bukan Penuntun Perilaku

Posted by arifah.suryaningsih on Feb 14, 2014 in OPINI

Dimuat di: Suara Karya, Jumat, 14 Februari 2014

Banyak kajian dan penelitian telah membutikan, bahwa kehadiran teknologi kotak ajaib bernama televisi bukan saja mempercepat penyebaran arus informasi, namun juga sekaligus mereduksi tata nilai masyarakat. Sayangnya sebagian besar masyarakat kita tidak menyadari bahwa perilaku dan kehidupannya telah dipengaruhi oleh tayangan televisi tersebut.

Kehadiran televisi telah melebur dalam setiap ruang keluarga. Begitu penghuninya membuka mata, maka akan menyala pula televisi di sana. Bahkan, suara-suara bising yang berasal dari kotak ajaib itu akan lebih mendominasi mengalahkan percakapan-percakapan ringan yang terjadi dalam keluarga. Sehingga momentum yang seharusnya bisa digunakan untuk menjalin komunikasi sebagai perekat penghuni rumah secara tidak langsung telah terebut oleh siaran televisi.

Bahkan kini, televisi tidak lagi sendiri. Kehadiran teknologi internet bersama komputer, laptop, telephone cellular, Blacberry, iPad, iPhone dengan segala macam aplikasi chatting, browsing dan juga kebebasan dalam bermedia sosial semakin menambah semarak dunianya para net-generation, anak-anak kita. Lemahnya kesadaran masyarakat akan hal ini, terjadi secara terus menerus, menahun sehingga hal ini menimbulkan dampak perubahan perilaku masyarakat. Televisi menjadi trendsetter mulai dari gaya rambut, gaya berbusana, gaya tutur. Menyeluruh hingga gaya hidup kita tanpa disadari lebih berkiblat kepada televisi. Read more…

 
0

EDMODO: BELAJAR ONLINE ALA FACEBOOK

Posted by arifah.suryaningsih on Feb 10, 2014 in TEKNO

Dimuat di: Digital KR | Senin, 10 Februari 2014

Belajar dengan sistem online di era digital adalah perkara mudah, karena kini siapapun bisa membentuk komunitas. Tergantung bagaimana komitmen dalam mengelola dan mengembangkan konten yang dihadirkan sehingga tetap menarik bagi anggota komunitas. Seperti dikutip dari The Next Web, tercatat per bulan September 2013, pengguna aktif bulanan Facebook kini sudah melewati angka 1,19 miliar akun. Dari angka tersebut, 874 juta pengguna di antaranya mengakses Facebook dari perangkat mobile.

Momentum ketertarikan massal terhadap berbagai fitur media sosial inilah yang selanjutnya melahirkan sebuah ide dari Nic Borg dan Jeff O’hara pada akhir tahun 2008 dengan mengembangkan pembelajaran sosial untuk guru/dosen, siswa/mahasiswa. Pembelajaran online berplattform jejaring sosial ini diberi nama EDMODO.

Calon pengguna Edmodo dapat masuk ke situs ini dengan sangat mudah dan bisa mendapatkan akun tanpa berbayar. Pengguna tinggal mengetikkan alamat URL: https://www.edmodo.com/ Selanjutnya pengguna dapat memilih fitur yang akan digunakan. Ada 4 pilihan fitur untuk mendaftar: yaitu 1. I’m a Teacher : untuk guru, 2. I’m a Student : untuk murid, 3. I’m a Parent : untuk orang tua, dan 4. School&District : untuk menghubungkan sekolah kita ke Edmodo. Read more…

 
0

Membuat Presentasi dengan Prezi

Posted by arifah.suryaningsih on Feb 3, 2014 in Uncategorized

Dimuat di: Kedaulatan Rakyat, 3 Februari 2014

 

Jika anda merasa bosan dengan tampilan presentasi dengan Power Point, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena tayangan presentasi yang kita sajikan maupun yang kita lihat sebagian besar melulu menggunakan aplikasi tersebut. Kita bisa mencoba membuat tayangan presentasi yang berbeda dengan perangkat lunak presentasi berbasis internet, yaitu Prezi.

Prezi bisa Anda dapatkan secara gratis maupun berbayar dengan mengakses situs http://prezi.com/. Selanjutnya pengguna harus menentukan lisensi apa yang akan ia gunakan sebelum membuat akun pada Prezi. Lisensi bebas biaya bisa didapatkan dengan memilih tipe public,  pada kategori ini pengguna tetap bisa menikmati fitur-fitur utama yang disediakan oleh Prezi dan juga memiliki ruang penyimpanan. Namun setiap prezi yang dibuat oleh pengguna berlisensi Public harus dipublikasikan di situs web Prezi agar bisa diakses oleh publik. Atau jika Anda menginginkan fasilitas yang lebih dari itu, Anda bisa membeli lisensi Enjoy atau Pro seharga 59$ dan 159$. Menariknya lagi, bagi pelajar ataupun pengajar yang memiliki email khusus edukasi, mereka akan bisa mendapatkan lisensi Edu Pro secara gratis dengan fasilitas yang sama dengan lisensi Pro.

Selanjutnya pengguna yang telah memiliki akun dapat menjelajah Prezi. Beberapa keunggulan Prezi diantaranya, aplikasi presentasi berbasis internet (SaaS – software as a Service) ini memiliki fasilitas Zooming User Interface (ZUI), yang memungkinkan pengguna untuk memperbesar dan memperkecil tampilan pada media presentasi mereka. Teks, gambar, video, dan media presentasi lainnya dapat ditempatkan di atas kanvas presentasi, kemudian  dikelompokkan dalam bingkai-bingkai yang telah disediakan. Pengguna tinggal menentukan ukuran relatif dan posisi antara semua obyek presentasi dan dapat mengitari serta menyorot obyek-obyek tersebut. Keunggulan lainnya, Prezi tentu saja dapat digunakan sebagai alat untuk membuat presentasi dalam bentuk linier (presentasi terstruktur)  maupun non-linier (berbentuk peta pikiran/mind map).

Wikipedia.org menyebutkan bahwa aplikasi ini telah mendunia. Prezi telah digunakan pada Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum) sebagai bagian dari strategi presentasi dan pembuatan media. Arsitek dan ahli desain visual menggunakan Prezi untuk mempertunjukkan hasil karya mereka, dan juga sebagai alat yang berguna dalam memvisualisasikan ide desain mereka. Organisasi media menggunakan Prezi untuk membantu pembacanya dalam menjelajah informasi yang bersifat visual. Pada Juli 2011, The Guardian (UK) menggunakan Prezi untuk mempublikasikan grafis Peta Dunia terbaru di situs web mereka.

Kemampuan Prezi yang memudahkan audience untuk memahami pemikiran kompleks, ide-ide, atau informasi visual lainnya sangat diperlukan juga dalam dunia pendidikan. Guru/Dosen dapat lebih mudah memberikan penjelasan kepada siswa/mahasiswa dengan presentasi ini.  Sehingga tidak ada salahnya kita memulai mencoba melirik menggunakan aplikasi ini untuk dibawa ke dalam  ruang-ruang kelas. Selamat mencoba.

*Arifah Suryaningsih, Guru Multimedia – SMK N 2 Sewon

 
0

Guru dan Kurikulum 2013

Posted by arifah.suryaningsih on Jan 29, 2014 in OPINI

Dimuat di: SUARA KARYA, Sabtu 25 Januari 2014

Hasrat besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk melaksanakan Kurikulum 2013 (K-13) secara menyeluruh sudah di depan mata. Sebanyak 208.000 sekolah dengan 31 juta siswa akan menggunakan K-13 secara serentak mulai tahun ajaran 2014/2015 mendatang. Keputusan Kemdikbud ini berangkat dari hasil monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan K-13 di beberapa sekolah melalui metode sensus beberapa waktu lalu.Hasil sensus menyebutkan bahwa K-13 terbukti mampu meningkatkan daya nalar siswa, hasrat membaca, semangat belajar dan juga mendorong anak lebih inovatif. Linier dengan hasil sensus tersebut, guru sebagai ujung tombak pelaksana tentu saja minimal harus memiliki kompetensi yang selaras dengan tujuan K-13 tersebut. Tidak ada yang meragukan konsep yang diusung kurikulum baru ini menyongsong era globalisasi yang ditandai dengan semakin lajunya tuntutan masyarakat konsumen terhadap kualitas produksi yang tinggi dan layanan prima di segala bidang.Termasuk tentunya bidang pendidikan. Investasi bidang ini sangat disadari oleh sebagian besar masyarakat sebagai tonggak majunya suatu peradaban dengan terbentuknya generasi penerus bangsa yang handal. Yaitu, bukan saja dalam penguasaan ilmu pengetahuan namun juga keterampilan menghadapi persaingan dunia.Tilaar (2012), mengatakan bahwa legitimasi dari suatu pekerjaan atau jabatan dalam masyarakat abad ke-21 tidak lagi didasarkan pada amatirisme, tetapi berdasarkan pada kemampuan yang diperoleh secara sadar dan terarah dalam menguasai berbagai jenis ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Maka, profesionalisme guru menjadi syarat mutlak untuk mengantarkan generasi muda memasuki era global ini.Namun sayangnya profesionalisme guru sendiri tidak seindah yang tertulis di atas kertas. Data menunjukkan bahwa tunjangan profesional yang telah dikucurkan untuk mendongkrak kinerja guru masih jauh dari harapan. Hasil penelitian Bank Dunia pada 14 Maret 2013 mengejutkan banyak pihak. Guru yang telah memperoleh tunjangan sertifikasi dan belum, menunjukkan prestasi yang relatif sama. Artinya perbaikan mutu pendidikan nasional setelah program sertifikasi tidak berdampak secara signifikan.Penelitian tersebut dilakukan sejak 2009 di 240 SD negeri dan 120 SMP di seluruh Indonesia, melibatkan 39.531 siswa. Hasil tes antara siswa yang diajar guru yang bersertifikasi dan tidak, untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, IPA dan Bahasa Inggeris, tidak terdapat pengaruh program sertifikasi guru terhadap hasil belajar siswa, baik di SD maupun SMP, (Kompas, 12 Juni 2013).Seperti diungkapkan Sumardianta (2013), permasalahan guru kini bukan lagi soal kesejahteraan, melainkan spirit dan keteladanan. Banyak guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik dan memperoleh tunjangan. Namun, perubahan yang dialami oleh sebagian besar guru, baru sebatas bergeser dari mediocre teacher menjadi superior teacher. Dari guru yang kerjanya sepanjang hari ngomong di depan kelas menjadi guru yang kerjanya mendemonstrasikan kewibawaan dan otoritasnya di hadapan murid.Tipe guru yang lain yaitu good teacher dan great teacher seperti yang dicita-citakan undang-undang tentang profesionalisme harus terus diperjuangkan. Sehingga, guru benar-benar sanggup membawa misi besar K-13 secara riil di lapangan, yaitu mengantarkan anak didik menjadi generasi yang tangguh.Pelatihan guru seperti yang dijanjikan pemerintah memasuki awal tahun ini, akan menjadi sebuah angin segar bagi 2,8 jutaan guru di seluruh penjuru negeri. Guru boleh berharap bahwa pelatihan kali ini seharusnya berbeda, bukan seperti pelatihan-pelatihan yang digelar hanya sekedar legitimasi pelaksanaan program dengan metode ceramah dan tanpa melibatkan peran aktif guru. Sehingga yang terjadi guru hanya datang, duduk, dengar, kemudian (mendengkur, karena kebosanan mengikuti acara.Metode paralel dan konsep master teacher (satu guru akan melatih sekian guru lainnya) yang hendak diusung jangan sampai sekedar kejar tayang, alias cepat kelar. Karena, apa yang mampu diserap guru dalam pelatihan tersebut akan menentukan nasib guru yang lain. Selepas mengikuti pelatihan, guru harus memberikan pengetahuan yang sama kepada rekannya.Sementara laporan hasil studi Jacques Delors (UNESCO) sejak 16 tahun lalu (1996), telah merekomendasikan empat soko guru pendidikan di abad XXI yaitu penguasaan pengetahuan (learning to know), kemampuan bekerja (learning to do), kemampuan mencapai tingkatan kepribadian yang mantap dan mandiri (learning to be) dan kemampuan hidup dalam bekerja sama (learning to live together). Ironisnya sistem pendidikan dan latihan yang selama ini dilaksanakan masih berkutat pada soko guru pertama, yaitu learning to know.Inilah tantangan besar bagi pemerintah. Kemendikbud harus mencari metode yang tepat untuk melatih para guru menuju kesiapan mereka terhadap pelaksanaan K-13 ini, karena inti dari pelatihan adalah perubahan. Pelatihan ini setidaknya memungkinkan guru untuk melakukan sendiri kegiatan inkuiri (pembelajaran yang mengedepankan observasi, bertanya menyimpulkan dan mengkomunikasikan) dan mendapatkan pengalaman langsung bagaimana pembelajaran terjadi (how people learn). Sehingga pola pikir guru akan lebih mudah berubah.

Lebih dari itu, kesinambungan terhadap apa yang telah diperoleh guru dari pelatihan harus terus berjalan. Melalui program pelatihan lanjutan yang dilakukan secara berkala, dengan tetap memperhatikan keberagaman budaya lokal yang dimiliki guru yang berasal dari berbagai daerah. Sehingga, pelaksanaan kurikulum tidak akan seragam dan kaku yang menganut satu atau dua model saja. Namun, penuh warna dengan tetap mempertahankan local wisdom. ***

Penulis adalah pendidik, alumni
Manajemen Kepengawasan Pendidikan, MM UGM.

 
0

Mencermati Tiap Kehidupan guna Menemukan Hikmah

Posted by arifah.suryaningsih on Jan 29, 2014 in RESENSI BUKU

RESENSI BUKU | Dimuat di: Koran Jakarta,  Rabu, 15 Januari 2014

Judul

:

JENDELA HATI

Penulis

:

Wijayanto Samirin

Penerbit

:

PT.Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit

:

2014

Halaman

:

 177 Halaman

ISBN

:

978 602 03 0026 9

 

Kebaikan bisa diperoleh ketika seseorang mau membuka hati seluas-luasnya. Buku ini merupakan refleksi penulis atas kesehariannya bersama keluarga, kolega, bahkan di sekitarnya.

 

Dia berusaha menemukan hikmah di dalamnya. Rentetan catatan kecil diharapkan mampu membuka hati dan pikiran pembaca untuk bisa menemukan sisi baik setiap peristiwa. Buku 177 halaman ini memuat 65 cerita inspiratif yang ditulis dengan bahasa sederhana dan ringan.

 

Kumpulan tulisan dibagi ke dalam empat bagian: Mutiara KebaikanSehari-hari, Jejak-jejak Kearifan, Merajut Hikmah, serta Membingkai Kesadaran.

 

Tiap bagian memuat cerita ringkas, namun padat. Di sejumlah tulisan pembaca akan menemukan kejutan-kejutan kecil yang lucu atau mengharukan. Interaksi keseharian penulis dengan berbagai tokoh penting, pengusaha sukses, dan juga para cendekiawan memperkaya cerita.

 

Diceritakan mengenai salah satu tokoh yaitu mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) yang tidak pernah lelah. Pada hari Minggu saja dia tetap aktif berceramah di sebuah forum. Sungguh luar biasa energinya. JK tak kenal lelah menebar kebaikan.

 

Mungkin ada pembaca yang masih ingat kalimatnya, “Kalau hati, pikiran, dan tindakan senada, orang tidak akan pernah merasa lelah” (hal 76).

 

Judul Jendela Hati merupakan pesan utama dari seluruh tulisan. Di situ dimaknakan bahwa melalui jendela hati-lah manusia bisa menemukan mutiara hikmah dari berbagai persoalan hidup, baik ataupun buruk. Hidup adalah proses pembelajaran tiada henti.

 

Kebahagiaan memang unik. Dia bisa hadir di mana, kapan, dan di hati siapa saja. Dia hadir di kamar tidur besar yang bersih dan ber-AC atau di ruang kecil yang pengap dan gerah. Dia ada di bus kota yang penuh sesak atau di dalam kabin BMW seri-7 yang senyap, dingin disertai alunan musik lembut.

 

Ia muncul di hati seorang petinggi negara yang baru saja menyelesaikan tugas penting atau di hati seorang tukang sapu yang baru saja membersihkan sudut sekolah. Semua tergantung pada manusia yang punya kuasa atas diri, perasaan, dan cara pandang terhadap dunia (hal 174-175).

 

Cerita tentang Kaos Kaki Bolong mengakhiri kumpulan kisah. Sesungguhnya manusia memang menyukai pencitraan. Sesuatu yang terpampang dan mencolok akan dilihat.

 

Sebaliknya, bila sesuatu itu tersembunyi, jelas tak akan dilirik orang. Misalnya, karena tersembunyi, kaos kaki bolong tetap saja dipakai karena tak terlihat, sedangkan pakaian yang ternoda sedikit saja akan dipensiunkan di dalam lemari (hal 177).

 

Buku ini mengajak pembaca untuk memandang kehidupan dengan positif agar lebih bijaksana dalam menyikapi ragam persoalan kehidupan. Untuk menjadi bijak, manusia tidak perlu menunggu sampai tua karena setiap saat dunia senantiasa mengajarkan banyak sebab berbagai rahasia selalu menyertai setiap denyut kehidupan.

 

Hanya, seseorang harus cermat menafsirkannya. Dibutuhkan sikap rendah hati bagaikan gelas kosong untuk diisi dengan belajar, merenung, dan berusaha.

 

 
0

Perspektif Baru Rahasia Sukses Memimpin Perusahaan

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 24, 2013 in RESENSI BUKU

RESENSI BUKU | Dimuat di: Koran Jakarta, Senin, 02 Desember 2013

Judul : GREAT SPIRIT GRAND STRATEGY
Penulis : ARIEF YAHYA
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit :  September 2013
Halaman : 304 halaman
ISBN : 979-979-22-7621-3

Belajar ilmu kepemimpinan tidak cukup hanya melalui pendidikan formal, pelatihan, ataupun kursus-kursus. Dibutuhkan lebih dari itu, yaitu keteladanan konkret dan mau belajar dari pengalaman para pemimpin sukses. Refleksi kepemimpinan mereka menjadi sebuah pelajaran yang lebih realistis dan autentik untuk kelengkapan.

Buku Great Spirit Grand Strategy menawarkan sebuah perspektif baru dan orisinal mengenai rahasia sukses organisasi melalui kekuatan harmoni spirit-strategi. Buku 304 halaman tersebut merupakan kumpulan pengalaman pribadi penulis kala memimpin salah satu BUMN terkemuka di negeri ini, mulai dari posisi kakandatel, kadivre, direktur, hingga kini sebagai direktur utama.

Dijelaskan dalam pendahuluan buku ini bahwa sukses berkesinambungan (sustainable success) sebuah organisasi terwujud karena adanya keseimbangan antara spirit dan strategi. Keseimbangan tersebut dimungkinkan karena peran sentral para pemimpin paripurna yang memiliki kemampuan untuk mengolah rasa, rasio, raga, dan karsa yang solid (hal xix).

Kunci sukses berkesinambungan terbagi ke dalam tiga elemen, yaitu filosofi korporat, arsitektur kepemimpinan, dan budaya perusahaan. Selanjutnya, ketiganya dijadikan subjudul buku, yaitu Bagian I Corporate Philosophy, II Leadership Architecture, dan III Corporate Culture. Tiga elemen tersebut merupakan senjata pamungkas pemimpin paripurna dalam membawa organisasi berlayar menuju sukses jangka panjang, puluhan, bahkan ratusan tahun.

The Corporate Philosophy: Always The Best adalah sebuah keyakinan dasar (bacic belief) yang harus dimiliki setiap insan untuk selalu memberi yang terbaik dalam setiap pekerjaan untuk mendedikasikan dan mempersembahkan sesuatu kepada perusahaan, bangsa, dan negara (hal 41).

Selain itu, seorang pemimpin haruslah mencintai bawahan dalam bentuk perhatian dan kontribusi. Ketika seseorang memberi cinta kepada para bawahan, dia akan balik dicintai orang-orang yang dipimpinnya tersebut.

The Heart of Leadership menekankan pada olah rasa dan roh, sementara the head of leadership lebih menekankan pada rasio dan raga. Di sini pemimpin lebih mengandalkan kemampuan dalam menghasilkan buah ide untuk mengembangkan bisnis dan meningkatkan perusahaan di pasar (hal 97).

Pada akhir buku diceritakan secara detail cara perusahaan menetapkan center of excellent sebagai srategic initiative pertama dan utama di perusahaan. Strategi kepemimpinannya tertuang secara jelas pada bagian ini sehingga pembaca mendapat sebuah contoh riil strategi kepemimpinan yang telah berhasil diterapkan di PT Telkom, yang dikenal dengan istilah The Telkom Way.

Buku ini bukan hanya tepat dibaca para calon pemimpin ataupun pemimpin sebuah perusahaan, namun juga dapat dikonsumsi para mahasiswa, dosen, guru, bahkan para birokrat. Buku juga dapat dijadikan sebagai bahan perenungan dan perbandingan untuk memperbaiki diri.

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.