0

MENDAMBAKAN GENERASI TANPA ROKOK

Posted by arifah.suryaningsih on Oct 5, 2014 in OPINI

Dimuat di : Suara Karya, Senin 1 September 2014

generasi tanpa rokokKita patut berlega hati, bahwa mulai 24 Juni 2014 yang lalu, pemerintah mulai menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang penggantian peringatan tertulis di reklame dan bungkus rokok dengan peringatan dalam bentuk gambar. Peringatan tersebut berupa berbagai macam gambar kanker pada 40 persen penampang bungkus rokok. Ada lima gambar yang sudah dipilih untuk ditampilkan di bungkus rokok, yakni gambar kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru-paru, merokok membunuhmu, dan merokok dekat dengan anak berbahaya. Dengan dipampangkannya gambar-gambar penyakit yang mengerikan akibat merokok, paling tidak hal tersebut akan meminimalisir calon-calon perokok yang berasal dari kaum muda, atau bahkan anak-anak.

Semua ahli kesehatan termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama menyimpulkan, bahwa secara kesehatan, rokok banyak menimbulkan dampak negatif, lebih-lebih bagi anak dan masa depannya.  Rokok mengandung 4000 zat kimia dengan 200 jenis di antaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), di mana bahan racun ini didapatkan pada asap utama maupun asap samping, misalnya karbon monoksida, benzopiren, dan amoniak. Kemudian, berdasarkan laporan WHO pada 1999, sekitar 250 juta anak di dunia akan meninggal karena tembakau bila konsumsinya tidak dihentikan. Sedangkan di Indonesia, menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), ada 21 juta anak merokok per tahunnya dan jumlah tersebut terus meningkat. Read more…

 
0

Belajar Menjadi Manusia yang Hidup Tulus

Posted by arifah.suryaningsih on Aug 15, 2014 in RESENSI BUKU

Resensi | Dimuat di: Koran Jakarta, 15 Agustus 2014

Kondisi sekarang korupsi merajalela, penuh kekerasan, pornografi , tawuran pelajar/ antarkampung. Itulah wajah Indonesia. Seperti yang ditulis dalam sampul buku, “Terkadang kita malu memandang wajah kebudayaan sendiri. Dalam semangat melawan korupsi, kemunafi kan muncul di sana-sini. Pejabat-pejabat tertinggi kerap melindungi anggotanya yang korup. Ini kebiasaan terkutuk di mata masyarakat, tetapi menjadi tradisi agung di kalangan pejabat.”

Mohamad Sobary mengajak pembaca untuk memandang wajah kebudayaan Indonesia melalui kumpulan esai-esainya. Dengan gaya bahasanya yang sederhana, bahkan terkadang nylekit, namun justru itulah yang membuat tulisan-tulisannya menarik. Budayawan yang juga mantan peneliti bidang kebudayaan dan agama LIPI ini selalu menyerukan kepada masyarakat luas untuk terus bangkit. Hidup dan berkembang bukan karena dijaga dan dirawat, melainkan diberontak. Read more…

 
0

MELINDUNGI ANAK DARI KEKERASAN

Posted by arifah.suryaningsih on Aug 6, 2014 in OPINI

Dimuat di: KEdaulatan Rakyat, Senin 4 agustus 2014

Masalah kekerasan pada anak di Indonesia begitu luas dan kompleks. Mulai dari penelantaran, kekerasan di dalam rumah maupun di sekolah, pelecehan seksual, pembunuhan, dan sebagainya. Rentetan kajadian ini begitu intensif terjadi bukan hanya sekali dua kali. Bahkan berbagai data survei menunjukkan terjadinya peningkatan yang signifikan dari tahun-ke tahun atas kasus kekerasan kepada anak.

Banyak anak masih dipandang sebagai makhluk lemah dan selalu menjadi objek atas setiap kehidupan yang dilaluinya. Bahwa mereka tidak perlu didengar, mereka harus tunduk dan patuh tanpa syarat kepada orang dewasa, dan pengkerdilan hak-hak anak yang lainnya. Pandangan keliru tersebut masih banyak kita jumpai dalam kelompok-kelompok masyarakat yang meyakini bahwa pendidikan dan pola asuh anak didasarkan pada pengalaman turun temurun atas apa yang diperoleh dan dirasakan dari orangtuanya terdahulu.

Pesatnya perkembangan jaman nyatanya telah merubah juga karakteristik anak pada setiap generasinya. Sehingga problematika yang dialami anak sudah pasti berbeda dengan apa  yang orangtuanya alami pada jamannya. Sehingga diperlukan upaya untuk terus mengedukasi masyarakat dan juga para orangtua mengenai hal ini, termasuk juga bagi para guru.

Ketika orang tua maupun guru masih bertindak sebagai penguasa atas hak-hak anak, dengan segala otoritasnya dia akan menjadikan dirinya eksclussive. Dan terbangunlah pola hubungan top-down (vertikal),  yang membuka celah untuk terjadinya kekerasan. Sementara Tapscott, telah mengatakan dalam Growing up Digital (1998), bahwa proses belajar dalam kebudayaan global menuntut guru untuk bertindak sebagai fasilitator, proses belajar adalah sesuatu yang menyesuaikan dengan siswa (costumized), sekolah sebagai pusat untuk bergembira, dan pembelajaran berpusat kepada siswa. Read more…

 
0

REVOLUSI PROFESI GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Jun 11, 2014 in OPINI

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Selasa 10 Juni  2014

Minat siswa yang mendaftar program studi (prodi) pendidikan guru di jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada SNMPTN 2014 kali ini, terutama Pendidikan Guru SD (PGSG), terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun ini, prodi PGSD menduduki posisi empat besar terfavorit, setelah manajemen, akuntansi, dan sistem informasi.

Hal ini merupakan sebuah harapan baru bagi peningkatan kualitas pendidikan kita. Melonjaknya minat siswa merupakan sebuah peluang mendapatkan calon guru yang lebih baik. Patut disayangkan jika naik daunnya profesi ini nyaris karena alasan peningkatan ekonomi yang diperoleh. Pemberian tunjangan profesi guru melalui UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 75 menyebutkan bahwa  profesi guru/dosen wajib memperoleh perlindungan dalam pelaksanaan tugasnya. Perlindungan tersebut termasuk pemberian imbalan yang wajar sehingga tidak menghambat tugasnya.

Read more…

 
0

UJIAN NASIONAL, ANTARA PRESTASI DAN PRESTISE

Posted by arifah.suryaningsih on May 26, 2014 in OPINI

Dimuat di: Suara Karya, Kamis/8 Mei 2014

Kegaduhan pesta demokrasi belum juga usai, namun untuk sementara waktu kekhusukan akan sejenak menggantikan euforia ini. Jutaan siswa di seluruh negeri sedang dan akan melaksanakan Ujian Nasional (UN). Jenjang SMA/K/MA hari ini mulai digelar, hingga dua hari kedepan (14 – 16 April 2014). Dilanjutkan dengan pelaksanaan UN untuk SMP/MTs (5-8 Mei 2014). Sedangkan ujian untuk SD/MI, telah ada keputusan dari pemerintah bahwa pada jenjang ini UN dihapuskan dan sebagai gantinya akan dilaksanakan ujian sekolah (US).

Gairah menyambut UN sudah terasa bersamaan di tengah berlangsungnya gegap gempita kampanye dari belasan partai politik. Tidak banyak yang mengeluhkan kondisi ini. Semua siswa di jenjang terakhir pendidikan dasar dan menengah tetap bersemangat dan berbondong-bondong mengikuti pelajaran-pelajaran tambahan di berbagai tempat. Bagaimana tidak? Selain akan menjadi tiket masuk pada jenjang pendidikan berikutnya, hasil UN juga merupakan sebuah prestise dan simbol keberhasilan seorang siswa terhadap pendidikan yang telah dienyamnya. Read more…

 
0

Mengenal Perjuangan Montessori untuk Dunia Pendidikan

Posted by arifah.suryaningsih on Apr 4, 2014 in RESENSI BUKU

Dimuat di : Koran Jakarta | Jumat, 4 April 2014 | Resensi

Pendidikan adalah suatu proses belajar menjadi manusia. Perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia nyatanya belum mampu memanusiakan peserta didik karena ketatnya aturan dan kurikulum yang justru membelenggu siswa di sekolah. Namun, upaya menuju ke arah itu tetap harus dilakukan.

Hasil pemikiran memanusiakan anak didik telah dilakukan seorang Maria Montessori sejak 6 Januari 1907 di Via dei Marzi 58 Roma. Saat itu, Montessori yang berlatar belakang pendidikan dokter meresmikan pembukaan Casa dei Bambini (rumah bagi anak-anak) yang pertama. Doktrin penting yang diajarkan Montessori “manusia itu berhasil bukan karena sudah diajarkan guru, tetapi lantaran mengalami dan melakukan sendiri.” Di dalam pendekatan Montessori, hampir tidak pernah ditemukan hukuman. Kalapun ada, hukuman yang diberikan hanya mengisolasi anak untuk tidak bergerak dan tidak melakukan apa pun, (halaman 54).

Guru dalam lingkup pendekatan Montessori tidak lagi disebut sebagai guru, melainkan direktris karena fungsinya lebih sebagai pengarah, fasilitator, dan observatori atau pengamat, (halaman 55). Peran besar Montessari dalam mengubah paradigma dunia adalah pada langkah yang harus guru lakukan terhadap siswa sebagaimana ditulis seorang psikolog dan master pada Montessorian Pedagogy and Methodology dari Universitas Roma Tre ini.

Seluruh perjalanan hidup Maria Montessori diceritakan secara singkat, tapi lengkap. Tahun 1906, saat berusia 36, Maria Montessori sudah menjadi tokoh terkenal di Italia. Ia tidak dikenal sebagai dokter, tetapi lebih sebagai pendidik. Pemikiran-pemikirannya yang sangat tajam sering menghiasi media massa nasional. Pada tahun yang sama, tuntutan reformasi di bawah pemerintahan Perdana Menteri Giovanni Giolitti terasa sangat kuat, khususnya di bidang pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, (halaman 43) Membaca sejarah perjuangan Montessori akan membuat orang menghargai hidup fungsi pendidikan secara global bagi pembangunan masyarakat dan bangsa. Read more…

 
1

MEMBACA MENUJU KEMATANGAN BERFIKIR

Posted by arifah.suryaningsih on Apr 3, 2014 in OPINI

Dimuat di: Suara Karya| Sabtu, 29 Maret 2014

Membaca pada jaman dahulu merupakan kegiatan yang hanya dilakukan oleh para kaum elit dari kalangan istana dan juga para pemuka agama. Penemuan mesin cetak oleh Johannes Guttenberg pada tahun 1450 telah membongkar eksklusivitas sumber pengetahuan menjadi terbuka lebar. Kini buku bisa ditemukan dengan mudah dan murah dimana-mana. Sayangnya keterbacaannya masih  menjadi sebuah hal langka di negeri ini.

Indonesia hanya menerbitkan sekitar 24.000 judul per tahun dengan rata-rata cetak 3.000 eksemplar per judul. Sehingga dalam satu tahun Indonesia hanya menghasilkan 72 juta buku.  Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, berarti satu buku rata-rata dibaca oleh tiga hingga empat orang. Sementara UNESCO menstandarkan idealnya  satu orang membaca  tujuh judul buku per tahun. (Kompas, 16 Januari 2014). Bahkan hasil Proggress in International Reading and Literacy Study (PIRLS) menunjukkan bahwa siswa Indonesia untuk literasi membaca di tahun 2012 masih jauh dibawah rata-rata dunia, yaitu pada posisi ke 61 dari 65 negara dengan skor 396.

Maka tidak berlebihan jika Seno Gumira Ajidarma pernah menyampaikan dalam sebuah pidatonya, “Saya berasal dari negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, namun yang bisa dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar – yakni membaca untuk Read more…

 
0

Merawat Semangat Para Difabel

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 26, 2014 in OPINI

Opini | Dimuat di:  Kedaulatan Rakyat| Selasa, 26 Maret 2014

BERBAGAI kritikan keras terus mengalir menanggapi persyaratan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014 yang ternyata banyak terdapat diskriminasi terhadap kaum difabel. Disebutkan dalam ketentuan pendaftaran bahwa ada 20 program studi IPA dan 54 Program studi IPS yang tidak memperbolehkan enam kelompok difabel mendaftar, yaitu tuna netra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, buta warna sebagian dan buta warna keseluruhan. Somasi kepada Kemdikbud pun telah dilayangkan puluhan orang dari berbagai yayasan organisasi penyandang disabilitas beberapa waktu yang lalu.

Semangat mereka dalam menyuarakan hakhak untuk memperoleh kesetaraan dalam pendidikan begitu menggelora. Menggetarkan siapapun yang memiliki kepekaan dan empati kepada nasib mereka yang sering dianggap kurang beruntung. Mereka tentu lebih tahu dan paham tentang bagaimana ‘bertahan’ dengan segala macam kekurangannya. Pendidikan dasar dan menengah yang telah mereka tempuh telah mengajarkan banyak hal mengenai kemampuan, bakat, kapasitas dan juga kompetensinya dalam pelajaran yang dikuasainya.

Maka menjadi ironis ketika ‘bambu runcing’ perjuangan panjangnya serta merta ditumpulkan oleh peraturan yang menolak mereka. UUD 45 secara jelas dan tegas mengatur hak mereka memperoleh pendidikan yang layak. UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas juga demikian. Pun, dijelaskan secara gamblang pada UU No 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat bahwa sumber daya negara bukan milik mereka yang dianggap ‘normal’ saja, tetapi milik semua warga negara yang memiliki abilitas untuk mengembangkan karir dan cita-cita. Read more…

 
0

“DIGITAL TALKING BOOK” UNTUK TUNANETRA

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 26, 2014 in TEKNO

Digital | Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin 25 Maret 2014

Perkembangan dunia digital mampu memberikan berbagai macam kemudahan bukan saja bagi masyarakat kebanyakan, namun juga bagi para penyandang tuna netra. Kehadiran buku bicara atau Digital Talking Book (DTB) merupakan jawaban atas permasalahan mahalnya buku Braille yang dapat mereka miliki untuk mengakses berbagai macam informasi baik yang berhubungan dengan pendidikan, kebudayaan, maupun pengetahuan-pengetahuan lain.

Informasi audio (file audio digital) dalam DTB, disusun sedemikian rupa secara bertingkat sesuai dengan levelnya menurut format/standard DAISY (Digital Audio based-Information System), berdasarkan struktur buku aslinya. DAISY menempatkan bab pada level yang paling tinggi dan menempatkan paragraf pada level paling rendah, dengan cara memberikan kode-kode tertentu yang dapat dibaca atau dimengerti oleh player.

Kita dapat menggunakan Software Obi 3.0.1 yang baru saja dirilis pada 31 Desember 2013 yang lalu untuk dapat menghasilkan sebuah DTB (ataupun menggunakan versi sebelumnya). Software ini dapat kita dapatkan secara gratis dengan mengunjungi http://www.daisy.org/obi . Siapapun dapat menjalankan, memodifikasi dan mendistribusikannya, karena Obi  dapat diproduksi secara rumahan maupun produksi skala Read more…

 
0

MENGGAUNGKAN SEMANGAT BERUBAH MASYARAKAT

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 20, 2014 in RESENSI BUKU

Resensi Buku | Dimuat di : Koran Jakarta, 20 Maret 2014

Selama hampir 69 tahun merdeka, bukan kemakmuran, kedamaian, dan kesejahteraan yang diperoleh bangsa Indonesia. Persoalan datang silih berganti membawa bangsa ini terpuruk sehingga sulit keluar dari situasi demikian.

 

Harus ada tekad untuk berubah. Itu harus dimulai dari seluruh diri bangsa terutama para pemimpin.

 

Seperti dikatakan Albert Einstein, “Ukuran kecerdasan bukan terletak pada kebiasaan memakai alat-alat lama, tetapi kemampuan untuk berubah.” Kalimat inilah yang juga menginspirasi Rhenald Kasali dalam menggaungkan semangat perubahan. Menurutnya, seberapa pun jauh jarak yang ditempuh, perubahan tetap dimungkinkan.

 

Buku Lets Change merupakan kumpulan tulisan Rhenald Kasali yang pernah dimuat di media. Topiknya mulai dari leadership, pendidikan, ekonomi, birokrasi, pariwisata, hingga sosial.

 

Pemikiran dapat menjadi rujukan yang relevan. Buku terbagi ke dalam delapan kategori dengan kesamaan esensi, yaitu mendorong atau mengajak semua pihak untuk berani berubah.

 

Dalam hidup akan selalu muncul masalah-masalah baru yang tidak bisa dipecahkan dengan pola pikir dan cara-cara lama. Maka, harus dipecahkan dengan mengubah pola pikir strategis dan praktis. Read more…

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.