0

MENGELOLA KEBERAGAMAN DI SEKOLAH

Posted by arifah.suryaningsih on Aug 23, 2015 in Uncategorized

Toleransi mengenai berbagai macam perbedaan merupakan sebuah tema pelajaran yang terus menerus diajarkan sejak seorang anak menapaki pendidikan formalnya. Tema ini menjadi sebuah topik penting yang wajib tersaji di sekolah untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang cinta damai. Namun pada kenyataannya Indonesia tidak juga terlepas dari berbagai kerusuhan maupun kekerasan dengan latar belakang permasalahan perbedaan. Perbedaan agama, perbedaan suku, kesenjangan sosial, dan masih banyak lagi kasus-kasus yang terjadi di sekitar kita.

Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan toleransi yang sudah diajarkan di sekolah masih berada pada tataran normatif. Sebagai contoh, sekolah cenderung merujuk pada capaian nilai/angka-angka pada pelajaran agama sebagai cerminan ketakwaan terhadap agama yang dianutnya. Sementara pada tataran praktis kurang mendapatkan perhatian, termasuk mengenai implementasi tentang apa dan bagaimana toleransi beragama itu.

……. Tulisan lengkap artikel ini telah saya ikut sertakan pada lomba yang diselenggarakan oleh CRCS UGM. Sehingga jika Anda menginginkan versi lengkapnya bersama 12 esai hasil pengalaman guru-guru dari sekolah lain, dimohon bersabar untuk menunggu terbitnya buku kumpulan esai keberagaman ini. 🙂 Terimakasih…..

 
0

Membuat Presentasi dengan Prezi

Posted by arifah.suryaningsih on Feb 3, 2014 in Uncategorized

Dimuat di: Kedaulatan Rakyat, 3 Februari 2014

 

Jika anda merasa bosan dengan tampilan presentasi dengan Power Point, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena tayangan presentasi yang kita sajikan maupun yang kita lihat sebagian besar melulu menggunakan aplikasi tersebut. Kita bisa mencoba membuat tayangan presentasi yang berbeda dengan perangkat lunak presentasi berbasis internet, yaitu Prezi.

Prezi bisa Anda dapatkan secara gratis maupun berbayar dengan mengakses situs http://prezi.com/. Selanjutnya pengguna harus menentukan lisensi apa yang akan ia gunakan sebelum membuat akun pada Prezi. Lisensi bebas biaya bisa didapatkan dengan memilih tipe public,  pada kategori ini pengguna tetap bisa menikmati fitur-fitur utama yang disediakan oleh Prezi dan juga memiliki ruang penyimpanan. Namun setiap prezi yang dibuat oleh pengguna berlisensi Public harus dipublikasikan di situs web Prezi agar bisa diakses oleh publik. Atau jika Anda menginginkan fasilitas yang lebih dari itu, Anda bisa membeli lisensi Enjoy atau Pro seharga 59$ dan 159$. Menariknya lagi, bagi pelajar ataupun pengajar yang memiliki email khusus edukasi, mereka akan bisa mendapatkan lisensi Edu Pro secara gratis dengan fasilitas yang sama dengan lisensi Pro.

Selanjutnya pengguna yang telah memiliki akun dapat menjelajah Prezi. Beberapa keunggulan Prezi diantaranya, aplikasi presentasi berbasis internet (SaaS – software as a Service) ini memiliki fasilitas Zooming User Interface (ZUI), yang memungkinkan pengguna untuk memperbesar dan memperkecil tampilan pada media presentasi mereka. Teks, gambar, video, dan media presentasi lainnya dapat ditempatkan di atas kanvas presentasi, kemudian  dikelompokkan dalam bingkai-bingkai yang telah disediakan. Pengguna tinggal menentukan ukuran relatif dan posisi antara semua obyek presentasi dan dapat mengitari serta menyorot obyek-obyek tersebut. Keunggulan lainnya, Prezi tentu saja dapat digunakan sebagai alat untuk membuat presentasi dalam bentuk linier (presentasi terstruktur)  maupun non-linier (berbentuk peta pikiran/mind map).

Wikipedia.org menyebutkan bahwa aplikasi ini telah mendunia. Prezi telah digunakan pada Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum) sebagai bagian dari strategi presentasi dan pembuatan media. Arsitek dan ahli desain visual menggunakan Prezi untuk mempertunjukkan hasil karya mereka, dan juga sebagai alat yang berguna dalam memvisualisasikan ide desain mereka. Organisasi media menggunakan Prezi untuk membantu pembacanya dalam menjelajah informasi yang bersifat visual. Pada Juli 2011, The Guardian (UK) menggunakan Prezi untuk mempublikasikan grafis Peta Dunia terbaru di situs web mereka.

Kemampuan Prezi yang memudahkan audience untuk memahami pemikiran kompleks, ide-ide, atau informasi visual lainnya sangat diperlukan juga dalam dunia pendidikan. Guru/Dosen dapat lebih mudah memberikan penjelasan kepada siswa/mahasiswa dengan presentasi ini.  Sehingga tidak ada salahnya kita memulai mencoba melirik menggunakan aplikasi ini untuk dibawa ke dalam  ruang-ruang kelas. Selamat mencoba.

*Arifah Suryaningsih, Guru Multimedia – SMK N 2 Sewon

 
0

ISTRI, IBU DAN GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 24, 2013 in OPINI, Uncategorized

Dimuat di: Bernas Jogja, 24 Desember 2013

Ada seorang pejabat bersama istrinya sedang berhenti di sebuah pom bensin. Sementara sopir bertransaksi dan sang suaminya tetap sibuk dengan gadgetnya. Sang istri tiba-tiba menurunkan kaca jendela, dan selanjutnya terlibat mengobrol asyik dengan salah satu pegawai pom bensin selama proses pengisian bahan bakar. Sehingga dalam perjalanan selanjutnya, suami tidak tahan untuk bertanya kepada istrinya, “Mah, kok kamu sembarangan ngobrol dengan tukang bensin?”, selidiknya.

Dengan tenang sang istri menjawab, “Ohh.. itu tadi ya Pah, hmmm Papa lupa ya, itu kan Bang Asnawi, orang yang pernah naksir mamah dulu”.  Sang pejabat terbeliak kaget, dan sambil tertawa sisnis dia berkata,” hohoho…. walah-walah mah.. Mah! Coba Mamah dulu jadi istri si Asnawi itu, pasti Mamah sekarang tidak ada di dalam mobil mewah ini, anak-anak kita sekolah di sekolah kampung dan mamah cuma jadi istri seorang tukang bensin!”.  Sambil tersenyum, sang istri menjawab kalem, “Papah salah…, misalnya saya jadi istri Bang Asnawi, bisa jadi dia yang jadi pejabat, dan Papah yang jadi tukang bensin lho…. “

Ada ungkapan yang populer yang mengatakan “dibalik kesuksesan seorang pria pasti ada wanita yang hebat di belakangnya”.  Maka menjadi salah besar jika seorang pria sukses dengan gagahnya menepuk  dada sambil berkata, “Inilah hasil kerja kerasku”. Karena Tidak ada satu hasil kerja keras satu pun yang bisa terlahir tanpa dukungan seorang istri.

Perempuan sebagai “kanca wingking” atau orang yang mengatur segala hal tetang urusan rumah tangga, sudah tidak perlu diragukan lagi. Hasil penelitian yang ditunjukan Professor Keith Laws, seorang psikolog di University of  Hertfordshire Inggris, membuat para ilmuwan percaya bahwa perempuan lebih mampu merefleksikan masalah, sambil terus menyeimbangkan komitmen mereka yang lain ketimbang laki-laki. Perempuan dapat mengandalkan kedua tangan dan dua otak untuk bekerja simultan.

Maka seorang perempuan akan dengan mudah melakoni kehidupannya menjadi seorang istri sekaligus sebagai ibu dan juga merangkap menjadi guru bagi anak-anaknya. Seorang Ibu telah menjadi guru ketika ketika seorang anak manusia mulai ditiupkan Ruh-nya oleh Sang Pencipta. Kelahiran seorang bayi di dunia, akan disambut oleh guru pertamanya. Sejak pertemuan pertama itulah, dimulainya sang bayi menerima pelajaran – demi pelajaran yang diberikan oleh sang ibu, mulai dari membuka mulut, menerima makanan, mengucapkan satu kata sampai dengan saatnya dia mencoba berjalan dengan kakinya sendiri, seorang bayi akan tumbuh besar bersama guru sejatinya.

Lebih dari itu seorang ibu harus terus belajar. Pola pendidikan anak di dalam keluarga banyak yang dilakukan dengan cara autodidak (berdasarkan pengalaman turun temurun atas apa yang diperoleh dan dirasakan dari orangtuanya terdahulu) harus segera ditinggalkan. Karena pengetahuan ibu terhadap pola asuh, perkembangan fisik dan psikis anak pada setiap usianya, sampai dengan pola makan anak adalah sebuah faktor penentu keberhasilan anak dalam mencapai kualitas hidupnya.

Pesatnya perkembangan jaman nyatanya telah merubah juga karakteristik anak pada setiap generasinya. Sehingga problematika yang dialami anak sudah pasti berbeda dengan apa  yang orangtuanya alami pada jamannya. Maka Kehidupan dunia modern yang penuh dengan tantangan serta persaingan menuntut seorang ibu menjadi guru atas anaknya tidak boleh hanya berbekal insting, naluri dan pengalaman orang tuanya di masa lalu.

Peran penting ibu sebagai seorang guru akan terus dibutuhkan oleh seorang anak. Jiwa pendidik yang telah melekat dalam hakikat seorang ibu, akan terus dibawanya dalam mendampingi setiap jengkal pertumbuhan anak-anaknya. Dorothy Law Nolte (1954), menggambarkan hubungan antara lingkungan yang diciptakan oleh orangtuanya dengan reaksi yang dilakukan anak, dalam sebuah puisi “Children Learn What They Live”, beberapa bait diantaranya antara lain: Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan….

Ketangguhan seorang perempuan dengan sebutan ibu, bahkan mengalahkan egonya sendiri. Dia tidak akan peduli dengan posisi dan kelelahannya. Dia akan segera menyingsingkan lengan bajunya ketika keluarganya didera problematika ekonomi. Solusinya adalah ibu akan bekerja.  Mulai dari menjadi buruh, menjajakan kue atau bahkan menjadi pahlawan devisa bagi negaranya.  Semua dilakoninya demi keselamatan keluarganya, terutama demi anak-anaknya.

Istri ataupun Ibu tidak boleh lelah, tidak boleh lemah, dan juga tidak boleh lengah.  Dia harus selalu merawat kesadaran, bahwa dirinya adalah “nyawa” dari keluarganya.  Segala sikap dan perbuatannya akan memberi dampak bagi kehidupan keluarganya dan menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Terjerembabnya banyak perempuan dan juga ibu dalam berbagai permasalahan menjadi sebuah alarm, bahwa jabatan, kemewahan maupun popularitas  yang ingin dicapai  dengan ambisi dan jalan pintas yang melewati batas akan dapat mematikan mimpi dan masa depan anak-anaknya.

 
0

Menilik Kembali Seni Tutur Hikayat Aceh

Posted by arifah.suryaningsih on Nov 22, 2013 in Uncategorized

Artikel dimuat di: Analisa Daily, Jumat 22 No 2013

Kejayaan Aceh dimasa lalu pernah membawa pula kegemilangan sebuah kesenian bersyair yang disebut seni tutur hikayat, yang kini nyaris hilang karena kurangnya pelestarian. Padahal seni tutur hikayat ini adalah ibu dari semua seni di Aceh. Hal ini disebabkan karena semakin jarangnya seniman menekuni seni tutur hikayat seiring sepinya panggung. Bahkan kini tinggal ada enam seniman di Aceh yang menguasai seni tutur hikayat dan aktif. Banyak masyarakat Aceh yang tidak kenal lagi akan adanya kesenian ini. (Kompas, 20 Sept 2013)

 

Seni tutur hikayat merupakan sebuah media interaktif untuk menyampaikan dongeng mengenai kepahlawanan, perjuangan, petunjuk kehidupan, sanjungan kepada raja hingga kisah-kisah keseharian. “Dongeng interaktif “ ini yang merupakan hiburan rakyat Aceh di masa lalu. Kini semakin tergusur ketika “Alladin, Malin Kundang, Bawang Merah Bawang Putih” dan beberapa kisah dongeng klasik lainnnya tayang di televisi. Walaupun heroisme dan keindahannya kurang begitu terasa, dengan alur cerita yang seperti dipaksakan serta terlalu banyak improvisasi di dalamnya. Namun jika kita lihat saat anak-anak menontonnya, mereka terpaku di depannya, menikmati dengan begitu asyiknya sampai mungkin lupa waktu.

 

Ada beberapa sisi yang kurang pas terhadap lahirnya dongeng-dongeng klasik yang ber-casing modern ini. Antara lain, pertama, jam tayang sinetron dongeng ini kebanyakan hadir di jam-jam wajib belajar anak yaitu antara pukul 19.00 sampai dengan 22.00 yang itu bertepatan dengan jam prime time-nya siaran televisi, dimana pada jam tersebutlah produser membidik jumlah audience terbesar untuk pendapatan dari iklan.

 

Iklan juga mempunyai pengaruh besar bagi tumbuh kembangnya anak. Iklan bisa berpengaruh terhadap karakter si anak. Sebuah riset menjelaskan, anak-anak yang cenderung materialis percaya bahwa lewat benda dan produk-produklah kebahagiaan dan kesuksesan bisa diraih. “Iklan di televisi adalah penghasut. Anak-anak yang kurang puas dalam kehidupan mereka berubah menjadi materialistis dari waktu ke waktu,” kata Suzanna Opree, pimpinan riset dari Jurusan Komunikasi Universitas Amsterdam. (Kompas.com, 23/8/2012)

 

Kedua, improvisasi yang terkadang berlebihan terhadap cerita yang sesungguhnya, melahirkan versi dongeng yang lain dan menjadikan dongeng tersebut terasa jauh dari sisi originalitasnya. Banyak sekali tambahan-tambahan cerita yang berkonotasi “lebay” (berlebihan) di dalamnya, yang pastinya hal tersebut menjadi tuntutan produser untuk memanjang-manjangkan seri tayangan sinetron dongeng tersebut kaitannya dengan ongkos produksi dan sisi bisnis. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, relakah kita, ketika daya imajinasi anak-anak menjadi tidak terasah dengan baik, tergantikan dengan visualisasi “apa adanya”, dan bahkan kedekatan kita direbut oleh tayangan-tayangan dongeng versi sinetron tersebut di televisi?

 

Menurut pengamat anak, Seto Mulyadi: “Dalam menyampaikan isi cerita, televisi bisa saja menarik perhatian si anak karena dilakukan melalui visualisasi. Tapi dalam hal-hal lain ada yang hilang dan tidak bisa digantikan, yaitu kesempatan berkomunikasi secara langsung dan kesempatan berdialog. Mendongeng, kini menjadi sebuah tantangan besar bagi orangtua, yang terlalu sibuk dengan segala macam aktivitas dan rutinitasnya sehingga kedekatan dengan anak-anaknya kurang bisa terbangun melalui sebuah kegiatan sederhana tersebut.

 

Adalah sebuah asumsi yang salah ketika perkembangan teknologi mulai menggeser paradigma bahwa segala macam dongeng ataupun cerita dapat tersampaikan melalui media-media modern yang ada. Pada penggunaan teknologi untuk penyampaian pesan cerita, tidak ada pola hubungan face-to-face, komunikasi, dan kehangatan yang dapat anak terima dari orangtuanya.

 

Sedangkan hal tersebut dapat berdampak luar biasa terhadap perkembangan anak. Seperti yang dikatakan Lilian Holewell dalam bukunya: A book for Children Literature, sedikitnya ada enam manfaat dongeng, yaitu: 1) Mengembangkan daya imajinasi dan pengalaman 2) memuaskan kebutuhan ekspresi diri. 3) memberikan pendidikan moral tanpa menggurui anak. 4) Memperlebar cakrawala mental si anak dan memberikan kesempatan untuk meresapi keindahan. 5) Menumbuhkan rasa humor dalam diri anak dan 6) memberikan persiapan apresiasi sastra dalam kehidupan si anak setelah ia dewasa.

 

Kehadiran dongeng kepahlawanan, perjuangan, petunjuk kehidupan, sanjungan kepada raja hingga kisah-kisah keseharian dapat diceritakan melalui seni tutur hikayat. Karena pada dasarnya kesenian ini bisa menjadi media yang sangat interaktif bagi anak dengan orangtua maupun gurunya. Dalam moment tersebut anak bisa melihat secara langsung bagaimana penutur berekspresi, menatap, berkelakar atau menyisipkan hal-hal lucu yang dapat membuat mereka tertawa bersama, menangis bersama ataupun berdiskusi bersama. Komunikasi yang dibangun melalui kesenian mendongeng seperti ini tidak akan pernah mengalami bias atau distorsi dalam penyampaian pesannya. Berbeda sekali ketika dongeng hanya tersampaikan melalui media TV, dongeng tidak tersampaikan secara interaktif, statis dan anak tidak dirangsang untuk menjadi lebih kritis.

 

Kita hidup di era global. Dimana pola pergaulan dan gaya hidup menjadi lebih terbuka serta permisif terhadap hampir semua permasalahan. Kebebasan pers, reformasi, perekonomian global, semua membawa pengaruh pola hidup dan tatanan sosio kultural yang berdampak juga terhadap transformasi nilai-nilai agama, moral dan budaya nasional.

 

Menghidupkan kembali seni tutur hikayat diantara anak-anak dalam pendidikan keluarga maupun pendidikan formal, sebenarnya bukanlah perkara sulit. Terlibasnya kesenian yang sarat dengan muatan pendidikan ini seharusnya menjadi sebuah tantangan besar bagi rakyat Aceh untuk memperjuangkannya. Pekan Kebudayaan Aceh yang kini sedang digelar adalah sebuah momentum yang tepat untuk kembali mengingatkan akan kejayaan kesenian ini dalam perannya menyampaikan pesan-pesan moral positif.

 

Kehadiran dongeng melalui seni tutur hikayat sama artinya, orangtua maupun guru mampu berfokus menciptakan sumber-sumber kebahagiaan bagi anak, membangun berjuta harapan agar mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang humanis, peka terhadap lingkungan sosial dan budaya. Semuanya bisa diciptakan lewat cinta, persahabatan, permainan, dan sikap yang jauh dari materialis. Bagi anak-anak, setiap hari adalah hal yang istimewa dan luar biasa, jika ada daya dukung yang diberikan oleh semua orangtua ataupun orang dewasa didekatnya. ***

 

Penulis adalah Pendidik. Alumnus Program Manajemen Kepengawasan Pendidikan MM UGM.

 
1

Hello world!

Posted by arifah.suryaningsih on Jun 22, 2012 in Uncategorized

Selamat datang di blog.ugm.ac.id. Ngebloglah dan curahkan pikiran anda disini. Silahkan menggunakan fasilitas ini dengan penuh tanggung jawab.

Admin blog akan melakukan peringatan apabila ada abusement/pelanggaran dalam penggunaan fasilitas ini.

selamat berkarya 🙂

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.