0

UJIAN NASIONAL, ANTARA PRESTASI DAN PRESTISE

Posted by arifah.suryaningsih on May 26, 2014 in OPINI

Dimuat di: Suara Karya, Kamis/8 Mei 2014

Kegaduhan pesta demokrasi belum juga usai, namun untuk sementara waktu kekhusukan akan sejenak menggantikan euforia ini. Jutaan siswa di seluruh negeri sedang dan akan melaksanakan Ujian Nasional (UN). Jenjang SMA/K/MA hari ini mulai digelar, hingga dua hari kedepan (14 – 16 April 2014). Dilanjutkan dengan pelaksanaan UN untuk SMP/MTs (5-8 Mei 2014). Sedangkan ujian untuk SD/MI, telah ada keputusan dari pemerintah bahwa pada jenjang ini UN dihapuskan dan sebagai gantinya akan dilaksanakan ujian sekolah (US).

Gairah menyambut UN sudah terasa bersamaan di tengah berlangsungnya gegap gempita kampanye dari belasan partai politik. Tidak banyak yang mengeluhkan kondisi ini. Semua siswa di jenjang terakhir pendidikan dasar dan menengah tetap bersemangat dan berbondong-bondong mengikuti pelajaran-pelajaran tambahan di berbagai tempat. Bagaimana tidak? Selain akan menjadi tiket masuk pada jenjang pendidikan berikutnya, hasil UN juga merupakan sebuah prestise dan simbol keberhasilan seorang siswa terhadap pendidikan yang telah dienyamnya. Read more…

 
1

MEMBACA MENUJU KEMATANGAN BERFIKIR

Posted by arifah.suryaningsih on Apr 3, 2014 in OPINI

Dimuat di: Suara Karya| Sabtu, 29 Maret 2014

Membaca pada jaman dahulu merupakan kegiatan yang hanya dilakukan oleh para kaum elit dari kalangan istana dan juga para pemuka agama. Penemuan mesin cetak oleh Johannes Guttenberg pada tahun 1450 telah membongkar eksklusivitas sumber pengetahuan menjadi terbuka lebar. Kini buku bisa ditemukan dengan mudah dan murah dimana-mana. Sayangnya keterbacaannya masih  menjadi sebuah hal langka di negeri ini.

Indonesia hanya menerbitkan sekitar 24.000 judul per tahun dengan rata-rata cetak 3.000 eksemplar per judul. Sehingga dalam satu tahun Indonesia hanya menghasilkan 72 juta buku.  Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, berarti satu buku rata-rata dibaca oleh tiga hingga empat orang. Sementara UNESCO menstandarkan idealnya  satu orang membaca  tujuh judul buku per tahun. (Kompas, 16 Januari 2014). Bahkan hasil Proggress in International Reading and Literacy Study (PIRLS) menunjukkan bahwa siswa Indonesia untuk literasi membaca di tahun 2012 masih jauh dibawah rata-rata dunia, yaitu pada posisi ke 61 dari 65 negara dengan skor 396.

Maka tidak berlebihan jika Seno Gumira Ajidarma pernah menyampaikan dalam sebuah pidatonya, “Saya berasal dari negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, namun yang bisa dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar – yakni membaca untuk Read more…

 
0

Merawat Semangat Para Difabel

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 26, 2014 in OPINI

Opini | Dimuat di:  Kedaulatan Rakyat| Selasa, 26 Maret 2014

BERBAGAI kritikan keras terus mengalir menanggapi persyaratan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014 yang ternyata banyak terdapat diskriminasi terhadap kaum difabel. Disebutkan dalam ketentuan pendaftaran bahwa ada 20 program studi IPA dan 54 Program studi IPS yang tidak memperbolehkan enam kelompok difabel mendaftar, yaitu tuna netra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, buta warna sebagian dan buta warna keseluruhan. Somasi kepada Kemdikbud pun telah dilayangkan puluhan orang dari berbagai yayasan organisasi penyandang disabilitas beberapa waktu yang lalu.

Semangat mereka dalam menyuarakan hakhak untuk memperoleh kesetaraan dalam pendidikan begitu menggelora. Menggetarkan siapapun yang memiliki kepekaan dan empati kepada nasib mereka yang sering dianggap kurang beruntung. Mereka tentu lebih tahu dan paham tentang bagaimana ‘bertahan’ dengan segala macam kekurangannya. Pendidikan dasar dan menengah yang telah mereka tempuh telah mengajarkan banyak hal mengenai kemampuan, bakat, kapasitas dan juga kompetensinya dalam pelajaran yang dikuasainya.

Maka menjadi ironis ketika ‘bambu runcing’ perjuangan panjangnya serta merta ditumpulkan oleh peraturan yang menolak mereka. UUD 45 secara jelas dan tegas mengatur hak mereka memperoleh pendidikan yang layak. UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas juga demikian. Pun, dijelaskan secara gamblang pada UU No 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat bahwa sumber daya negara bukan milik mereka yang dianggap ‘normal’ saja, tetapi milik semua warga negara yang memiliki abilitas untuk mengembangkan karir dan cita-cita. Read more…

 
1

Televisi dan Pendangkalan Moral

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 2, 2014 in OPINI

Opini | Dimuat di: Koran Sindo, Selasa 4 Februari 2014

 

Banyak kajian dan penelitian telah membuktikan bahwa kehadiran teknologi kotak ajaib bernama televisi bukan saja mempercepat penyebaran arus informasi, tapi juga sekaligus mereduksi tata nilai masyarakat. Sayangnya, sebagian besar masyarakat kita tidak menyadari bahwa perilaku dan kehidupannya telah dipengaruhi oleh tayangan televisi tersebut.

Kehadirannya telah melebur dalam setiap ruang keluarga. Begitu penghuninya membuka mata maka akan menyala pula televisi di sana. Bahkan, suarasuara bising yang berasal dari kotak ajaib itu akan lebih mendominasi mengalahkan percakapan- percakapan ringan yang terjadi dalam keluarga. Karena itu, momentum yang seharusnya bisa digunakan untuk menjalin komunikasi sebagai perekat penghuni rumah secara tidak langsung telah terebut oleh siaran televisi.

Kini televisi tidak lagi sendiri. Kehadiran teknologi internet bersama komputernya, laptop, telephone cellular, Black- Berry, iPad, iPhone dengan segala macam aplikasi chatting, browsingdan juga kebebasan dalam bermedia sosial semakin menambah semarak dunianya para net-generation, anak-anak kita. Lemahnya kesadaran masyarakat akan hal ini terjadi secara terus menerus dan menahun sehingga hal ini menimbulkan dampak perubahan perilaku masyarakat. Televisi menjadi trendsetter mulai dari gaya rambut, gaya berbusana, gaya tutur.

Menyeluruh hingga gaya hidup kita tanpa disadari lebih berkiblat kepada televisi. Rhenald Kasali (2013) dalam bukunya “Camera Branding” mengatakan, kita tengah hidup dalam peradaban Social TVyang jauh lebih terlihat dan saling memperlihatkan. Perbuatan dan perkataan, mimik dan bahasa tubuh, individu close-up dan kerumunan wartawan yang mengejar berita, komentar para ahli, telah memengaruhi moodkita Read more…

 
0

Sentralisasi Guru, Solusi atau Masalah?

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 2, 2014 in OPINI

Opini | Dimuat di: Kedaulatan Rakyat, 25 Februari 2014

 

WACANA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang akan mengambil alih kembali kebijakan pengelolaan guru dari pemerintah daerah perlu menjadi pemikiran bersama. Kemdikbud menilai kebijakan desentralisasi guru yang ada saat ini lebih banyak menimbulkan masalah di daerah-daerah, antara lain posisi guru ketika pemilihan kepala daerah dikaitkan
dengan politik, sulitnya pemerataan distribusi guru dan tersendatnya penyaluran dana untuk tunjangan sertikasi guru.

Terjadinya relasi guru dengan penguasa daerah memang tidak bisa dihindarkan. Otonomi daerah menjadikan kepala daerah sebagai pihak paling berwenang dalam kegiatan pembangunan pendidikan. Sementara kebijakan desentralisasi pendidikan yang didasarkan pada UU No 32 Tahun 2004 yang kemudian diperbarui menjadi UU No 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah, mempunyai tujuan esensial untuk menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan masyarakat industri modern yang berakar dalam masyarakat setempat. Maka, seharusnya amanah desentralisasi tersebut harus mendukung peningkatan
profesionalitas guru, bukan sebaliknya, otonomi guru justru dikebiri demi perolehan ataupun pelanggengan kekuasaan.
Kondisi tersebut bahkan diperburuk dengan beberapa oknum guru yang justru memanfaatkan ‘pengaruh besar’ dirinya dalam
masyarakat untuk ‘bertransaksi’ dengan para penguasa. Tak jarang guru yang demikian akan menukar posisinya sebagai guru dengan jabatan struktural yang lebih empuk, nyaman dan strategis. Sehingga, alih-alih pemerataan guru dapat tercapai, justru jumlah guru menjadi berkurang karena tergiur oleh jabatan. Read more…

 
0

Televisi Bukan Penuntun Perilaku

Posted by arifah.suryaningsih on Feb 14, 2014 in OPINI

Dimuat di: Suara Karya, Jumat, 14 Februari 2014

Banyak kajian dan penelitian telah membutikan, bahwa kehadiran teknologi kotak ajaib bernama televisi bukan saja mempercepat penyebaran arus informasi, namun juga sekaligus mereduksi tata nilai masyarakat. Sayangnya sebagian besar masyarakat kita tidak menyadari bahwa perilaku dan kehidupannya telah dipengaruhi oleh tayangan televisi tersebut.

Kehadiran televisi telah melebur dalam setiap ruang keluarga. Begitu penghuninya membuka mata, maka akan menyala pula televisi di sana. Bahkan, suara-suara bising yang berasal dari kotak ajaib itu akan lebih mendominasi mengalahkan percakapan-percakapan ringan yang terjadi dalam keluarga. Sehingga momentum yang seharusnya bisa digunakan untuk menjalin komunikasi sebagai perekat penghuni rumah secara tidak langsung telah terebut oleh siaran televisi.

Bahkan kini, televisi tidak lagi sendiri. Kehadiran teknologi internet bersama komputer, laptop, telephone cellular, Blacberry, iPad, iPhone dengan segala macam aplikasi chatting, browsing dan juga kebebasan dalam bermedia sosial semakin menambah semarak dunianya para net-generation, anak-anak kita. Lemahnya kesadaran masyarakat akan hal ini, terjadi secara terus menerus, menahun sehingga hal ini menimbulkan dampak perubahan perilaku masyarakat. Televisi menjadi trendsetter mulai dari gaya rambut, gaya berbusana, gaya tutur. Menyeluruh hingga gaya hidup kita tanpa disadari lebih berkiblat kepada televisi. Read more…

 
0

Guru dan Kurikulum 2013

Posted by arifah.suryaningsih on Jan 29, 2014 in OPINI

Dimuat di: SUARA KARYA, Sabtu 25 Januari 2014

Hasrat besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk melaksanakan Kurikulum 2013 (K-13) secara menyeluruh sudah di depan mata. Sebanyak 208.000 sekolah dengan 31 juta siswa akan menggunakan K-13 secara serentak mulai tahun ajaran 2014/2015 mendatang. Keputusan Kemdikbud ini berangkat dari hasil monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan K-13 di beberapa sekolah melalui metode sensus beberapa waktu lalu.Hasil sensus menyebutkan bahwa K-13 terbukti mampu meningkatkan daya nalar siswa, hasrat membaca, semangat belajar dan juga mendorong anak lebih inovatif. Linier dengan hasil sensus tersebut, guru sebagai ujung tombak pelaksana tentu saja minimal harus memiliki kompetensi yang selaras dengan tujuan K-13 tersebut. Tidak ada yang meragukan konsep yang diusung kurikulum baru ini menyongsong era globalisasi yang ditandai dengan semakin lajunya tuntutan masyarakat konsumen terhadap kualitas produksi yang tinggi dan layanan prima di segala bidang.Termasuk tentunya bidang pendidikan. Investasi bidang ini sangat disadari oleh sebagian besar masyarakat sebagai tonggak majunya suatu peradaban dengan terbentuknya generasi penerus bangsa yang handal. Yaitu, bukan saja dalam penguasaan ilmu pengetahuan namun juga keterampilan menghadapi persaingan dunia.Tilaar (2012), mengatakan bahwa legitimasi dari suatu pekerjaan atau jabatan dalam masyarakat abad ke-21 tidak lagi didasarkan pada amatirisme, tetapi berdasarkan pada kemampuan yang diperoleh secara sadar dan terarah dalam menguasai berbagai jenis ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Maka, profesionalisme guru menjadi syarat mutlak untuk mengantarkan generasi muda memasuki era global ini.Namun sayangnya profesionalisme guru sendiri tidak seindah yang tertulis di atas kertas. Data menunjukkan bahwa tunjangan profesional yang telah dikucurkan untuk mendongkrak kinerja guru masih jauh dari harapan. Hasil penelitian Bank Dunia pada 14 Maret 2013 mengejutkan banyak pihak. Guru yang telah memperoleh tunjangan sertifikasi dan belum, menunjukkan prestasi yang relatif sama. Artinya perbaikan mutu pendidikan nasional setelah program sertifikasi tidak berdampak secara signifikan.Penelitian tersebut dilakukan sejak 2009 di 240 SD negeri dan 120 SMP di seluruh Indonesia, melibatkan 39.531 siswa. Hasil tes antara siswa yang diajar guru yang bersertifikasi dan tidak, untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, IPA dan Bahasa Inggeris, tidak terdapat pengaruh program sertifikasi guru terhadap hasil belajar siswa, baik di SD maupun SMP, (Kompas, 12 Juni 2013).Seperti diungkapkan Sumardianta (2013), permasalahan guru kini bukan lagi soal kesejahteraan, melainkan spirit dan keteladanan. Banyak guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik dan memperoleh tunjangan. Namun, perubahan yang dialami oleh sebagian besar guru, baru sebatas bergeser dari mediocre teacher menjadi superior teacher. Dari guru yang kerjanya sepanjang hari ngomong di depan kelas menjadi guru yang kerjanya mendemonstrasikan kewibawaan dan otoritasnya di hadapan murid.Tipe guru yang lain yaitu good teacher dan great teacher seperti yang dicita-citakan undang-undang tentang profesionalisme harus terus diperjuangkan. Sehingga, guru benar-benar sanggup membawa misi besar K-13 secara riil di lapangan, yaitu mengantarkan anak didik menjadi generasi yang tangguh.Pelatihan guru seperti yang dijanjikan pemerintah memasuki awal tahun ini, akan menjadi sebuah angin segar bagi 2,8 jutaan guru di seluruh penjuru negeri. Guru boleh berharap bahwa pelatihan kali ini seharusnya berbeda, bukan seperti pelatihan-pelatihan yang digelar hanya sekedar legitimasi pelaksanaan program dengan metode ceramah dan tanpa melibatkan peran aktif guru. Sehingga yang terjadi guru hanya datang, duduk, dengar, kemudian (mendengkur, karena kebosanan mengikuti acara.Metode paralel dan konsep master teacher (satu guru akan melatih sekian guru lainnya) yang hendak diusung jangan sampai sekedar kejar tayang, alias cepat kelar. Karena, apa yang mampu diserap guru dalam pelatihan tersebut akan menentukan nasib guru yang lain. Selepas mengikuti pelatihan, guru harus memberikan pengetahuan yang sama kepada rekannya.Sementara laporan hasil studi Jacques Delors (UNESCO) sejak 16 tahun lalu (1996), telah merekomendasikan empat soko guru pendidikan di abad XXI yaitu penguasaan pengetahuan (learning to know), kemampuan bekerja (learning to do), kemampuan mencapai tingkatan kepribadian yang mantap dan mandiri (learning to be) dan kemampuan hidup dalam bekerja sama (learning to live together). Ironisnya sistem pendidikan dan latihan yang selama ini dilaksanakan masih berkutat pada soko guru pertama, yaitu learning to know.Inilah tantangan besar bagi pemerintah. Kemendikbud harus mencari metode yang tepat untuk melatih para guru menuju kesiapan mereka terhadap pelaksanaan K-13 ini, karena inti dari pelatihan adalah perubahan. Pelatihan ini setidaknya memungkinkan guru untuk melakukan sendiri kegiatan inkuiri (pembelajaran yang mengedepankan observasi, bertanya menyimpulkan dan mengkomunikasikan) dan mendapatkan pengalaman langsung bagaimana pembelajaran terjadi (how people learn). Sehingga pola pikir guru akan lebih mudah berubah.

Lebih dari itu, kesinambungan terhadap apa yang telah diperoleh guru dari pelatihan harus terus berjalan. Melalui program pelatihan lanjutan yang dilakukan secara berkala, dengan tetap memperhatikan keberagaman budaya lokal yang dimiliki guru yang berasal dari berbagai daerah. Sehingga, pelaksanaan kurikulum tidak akan seragam dan kaku yang menganut satu atau dua model saja. Namun, penuh warna dengan tetap mempertahankan local wisdom. ***

Penulis adalah pendidik, alumni
Manajemen Kepengawasan Pendidikan, MM UGM.

 
0

ISTRI, IBU DAN GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 24, 2013 in OPINI, Uncategorized

Dimuat di: Bernas Jogja, 24 Desember 2013

Ada seorang pejabat bersama istrinya sedang berhenti di sebuah pom bensin. Sementara sopir bertransaksi dan sang suaminya tetap sibuk dengan gadgetnya. Sang istri tiba-tiba menurunkan kaca jendela, dan selanjutnya terlibat mengobrol asyik dengan salah satu pegawai pom bensin selama proses pengisian bahan bakar. Sehingga dalam perjalanan selanjutnya, suami tidak tahan untuk bertanya kepada istrinya, “Mah, kok kamu sembarangan ngobrol dengan tukang bensin?”, selidiknya.

Dengan tenang sang istri menjawab, “Ohh.. itu tadi ya Pah, hmmm Papa lupa ya, itu kan Bang Asnawi, orang yang pernah naksir mamah dulu”.  Sang pejabat terbeliak kaget, dan sambil tertawa sisnis dia berkata,” hohoho…. walah-walah mah.. Mah! Coba Mamah dulu jadi istri si Asnawi itu, pasti Mamah sekarang tidak ada di dalam mobil mewah ini, anak-anak kita sekolah di sekolah kampung dan mamah cuma jadi istri seorang tukang bensin!”.  Sambil tersenyum, sang istri menjawab kalem, “Papah salah…, misalnya saya jadi istri Bang Asnawi, bisa jadi dia yang jadi pejabat, dan Papah yang jadi tukang bensin lho…. “

Ada ungkapan yang populer yang mengatakan “dibalik kesuksesan seorang pria pasti ada wanita yang hebat di belakangnya”.  Maka menjadi salah besar jika seorang pria sukses dengan gagahnya menepuk  dada sambil berkata, “Inilah hasil kerja kerasku”. Karena Tidak ada satu hasil kerja keras satu pun yang bisa terlahir tanpa dukungan seorang istri.

Perempuan sebagai “kanca wingking” atau orang yang mengatur segala hal tetang urusan rumah tangga, sudah tidak perlu diragukan lagi. Hasil penelitian yang ditunjukan Professor Keith Laws, seorang psikolog di University of  Hertfordshire Inggris, membuat para ilmuwan percaya bahwa perempuan lebih mampu merefleksikan masalah, sambil terus menyeimbangkan komitmen mereka yang lain ketimbang laki-laki. Perempuan dapat mengandalkan kedua tangan dan dua otak untuk bekerja simultan.

Maka seorang perempuan akan dengan mudah melakoni kehidupannya menjadi seorang istri sekaligus sebagai ibu dan juga merangkap menjadi guru bagi anak-anaknya. Seorang Ibu telah menjadi guru ketika ketika seorang anak manusia mulai ditiupkan Ruh-nya oleh Sang Pencipta. Kelahiran seorang bayi di dunia, akan disambut oleh guru pertamanya. Sejak pertemuan pertama itulah, dimulainya sang bayi menerima pelajaran – demi pelajaran yang diberikan oleh sang ibu, mulai dari membuka mulut, menerima makanan, mengucapkan satu kata sampai dengan saatnya dia mencoba berjalan dengan kakinya sendiri, seorang bayi akan tumbuh besar bersama guru sejatinya.

Lebih dari itu seorang ibu harus terus belajar. Pola pendidikan anak di dalam keluarga banyak yang dilakukan dengan cara autodidak (berdasarkan pengalaman turun temurun atas apa yang diperoleh dan dirasakan dari orangtuanya terdahulu) harus segera ditinggalkan. Karena pengetahuan ibu terhadap pola asuh, perkembangan fisik dan psikis anak pada setiap usianya, sampai dengan pola makan anak adalah sebuah faktor penentu keberhasilan anak dalam mencapai kualitas hidupnya.

Pesatnya perkembangan jaman nyatanya telah merubah juga karakteristik anak pada setiap generasinya. Sehingga problematika yang dialami anak sudah pasti berbeda dengan apa  yang orangtuanya alami pada jamannya. Maka Kehidupan dunia modern yang penuh dengan tantangan serta persaingan menuntut seorang ibu menjadi guru atas anaknya tidak boleh hanya berbekal insting, naluri dan pengalaman orang tuanya di masa lalu.

Peran penting ibu sebagai seorang guru akan terus dibutuhkan oleh seorang anak. Jiwa pendidik yang telah melekat dalam hakikat seorang ibu, akan terus dibawanya dalam mendampingi setiap jengkal pertumbuhan anak-anaknya. Dorothy Law Nolte (1954), menggambarkan hubungan antara lingkungan yang diciptakan oleh orangtuanya dengan reaksi yang dilakukan anak, dalam sebuah puisi “Children Learn What They Live”, beberapa bait diantaranya antara lain: Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan….

Ketangguhan seorang perempuan dengan sebutan ibu, bahkan mengalahkan egonya sendiri. Dia tidak akan peduli dengan posisi dan kelelahannya. Dia akan segera menyingsingkan lengan bajunya ketika keluarganya didera problematika ekonomi. Solusinya adalah ibu akan bekerja.  Mulai dari menjadi buruh, menjajakan kue atau bahkan menjadi pahlawan devisa bagi negaranya.  Semua dilakoninya demi keselamatan keluarganya, terutama demi anak-anaknya.

Istri ataupun Ibu tidak boleh lelah, tidak boleh lemah, dan juga tidak boleh lengah.  Dia harus selalu merawat kesadaran, bahwa dirinya adalah “nyawa” dari keluarganya.  Segala sikap dan perbuatannya akan memberi dampak bagi kehidupan keluarganya dan menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Terjerembabnya banyak perempuan dan juga ibu dalam berbagai permasalahan menjadi sebuah alarm, bahwa jabatan, kemewahan maupun popularitas  yang ingin dicapai  dengan ambisi dan jalan pintas yang melewati batas akan dapat mematikan mimpi dan masa depan anak-anaknya.

 
0

Sinergi Tiga Pilar Pendidikan

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 11, 2013 in OPINI

Dimuat di: SINAR HARAPAN,  10 Desember 2013

Mulai tahun depan, tidak akan ada lagi anak sekolah dasar (SD) yang tidak naik kelas. Meskipun belum mampu menguasai pelajaran pada jenjang kelasnya, anak tersebut akan dapat terus melanjutkan ke kelas berikutnya dengan mengikuti remedial yang telah diprogramkan guru di sekolahnya.
Itulah kebijakan pendidikan terbaru yang dikeluarkan pemerintah yang didasarkan kepada tuntutan pola penilaian yang mengutamakan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Apakah itu sebuah kabar baik? Sekilas kebijakan tersebut mampu menenteramkan hati bukan saja bagi para siswa, namun juga orang tua.
Selama ini, banyak masyarakat kita memberikan label bodoh kepada anak-anak yang terpaksa tinggal kelas. Akibatnya fenomena tersebut membuat anak menjadi takut gagal (fear of failure) dan menilai belajar sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan (task aversiveness).
Pada akhirnya anak-anak belajar hanya untuk mencapai nilai akademis yang tinggi; sehingga di satu sisi kebijakan itu memang dirasakan lebih memanusiakan murid. Secara psikologis murid yang tertinggal tidak akan lagi harus menanggung malu ketika harus tetap tinggal di kelas lamanya.
Namun, hal itu justru patut menjadi kewaspadaan kita semua, karena di sisi lain kelonggaran itu tentu saja tidak akan memacu siswa untuk memiliki daya saing yang tinggi, bahkan mungkin akan menggerogoti motivasi diantara mereka. Ditambah lagi, model remedial yang direncanakan diberlakukan untuk anak-anak yang belum mampu menguasai pelajaran bukanlah perkara mudah.
Pembelajaran remedial pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan atau kelambatan belajar. Pemberian pembelajaran remedial meliputi dua langkah pokok, yaitu pertama mendiagnosis kesulitan belajar dan kedua memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran remedial.
Sementara itu, ada dua permasalahan besar pendidikan kita yang akan sangat memengaruhi program ini. Pertama, pemerataan guru yang masih jauh dari harapan dan kedua, negara kita masih defisit guru SD sebanyak 112.000 orang. Jumlah guru SD di sekolah negeri dan swasta yang ada sekitar 185.000 orang. Dari jumlah tersebut, hanya 60 persen guru yang sudah memenuhi kualifikasinya, yaitu telah menempuh S-1. Sisanya 40 persen bukan S-1 (Kemdikbud.org).
Jadi, bisa dibayangkan jika sebuah sekolah yang gurunya saja masih jauh dari jumlah ideal, bahkan banyak terjadi satu guru mengajar sekaligus beberapa jenjang kelas. Kemungkinan seorang guru tersebut akan mampu memberikan layanan kepada para muridnya yang “tertinggal” menjadi sangat kecil.
Selanjutnya kita juga tidak dapat menutup mata dengan kondisi masyarakat dan kebanyakan keluarga di Indonesia, bahwa kita termasuk masyarakat pemburu materi yang masih harus memenuhi kebutuhan hidup.
Kondisi ini membuat sebagian besar keluarga di negeri ini menyandarkan pendidikan anaknya di bangku-bangku sekolah. Kelelahan yang mendera karena kesibukannya memenuhi kebutuhan materi membuat mereka tidak lagi mempunyai energi yang lebih untuk pendidikan anak-anaknya di rumah.
Bahkan, studi dari berbagai lembaga internasional seperti TIMSS, PIRLS, dan PISA menunjukkan, kemampuan bernalar dan juga berliterasi bangsa ini masih rendah. Jika kebijakan tersebut terburu-buru dilaksanakan tanpa kajian yang lebih mendalam, dikhawatirkan hal tersebut justru mengendorkan daya saing di dalam lingkungan belajar.
Padahal, meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan bertambahnya kelas menengah yang bertumbuh hingga mencapai 131 juta orang pada 2010 menuntut upaya peningkatan kualitas SDM sehingga mampu memiliki daya saing yang tinggi. Ini karena dengan meningkatkan daya saing, kualitas SDM maupun daya saing produk yang dihasilkan negara kita dapat mengungguli negara lain; sehingga tidak lagi menjadi konsumtif akan produk dari negara lain.
Temuan Paul Stoltz pada 1997 tentang ketangguhan pribadi (Adversity Quotient) sebagai prediktor baru dalam melihat kesuksesan, melengkapi IQ, EQ, SQ yang lebih dulu populer jelas-jelas harus mendapatkan tempat disekolah dasar.
Mulai dari pendidikan dasar inilah anak harus mempunyai motivasi tinggi. Pencapaian motivasi ini akan diraih jika ada lingkungan yang mendukung. Reward dan punishment tetap harus diberlakukan, tentu saja harus sejalan dengan rohnya pendidikan yang humanis.
Tidak naik kelas adalah sebuah punishment yang memang harus diterima oleh mereka yang tidak dapat mencapai standar yang ada. Tidak naik kelas adalah sebuah pelajaran “kecewa” yang harus dialami anak. Itu akan menjadi cambuk, bukan saja bagi anak yang malas dan belum mampu bersaing, namun juga bagi mereka yang mungkin sudah dapat melewatinya.
Jika kini semua anak pasti akan naik kelas, pembelajaran yang berdaya saing harus kita ciptakan kepada mereka. Dengan demikian, mereka tetap akan menjadi anak-anak yang tidak lembek, tetapi mempunyai daya juang yang tinggi.
Bukan hanya di sekolah, namun juga di dalam keluarga dan lingkungan tempat anak tersebut bertumbuh. Dituntut peran yang lebih besar lagi dari kedua pilar ini, karena memang sinergitas sekolah, keluarga dan lingkungan adalah mutlak diperlukan bagi keseimbangan pendidikan seorang anak manusia. ●

 

 
0

Meningkatkan Profesionalitas Guru

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 11, 2013 in OPINI

Dimuat di: SUARA KARYA,  26 November 2013

Kita telah memasuki abad millenium, dimana kemudahan akses informasi semakin mendominasi segala lini kehidupan. Keadaan ini merupakan sebuah tantangan bagi bangsa kita untuk mensejajarkan diri dengan bangsa lain, dengan segala potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Jika tidak terus bergerak, maka kita pasti akan tertinggal. Patut disyukuri beberapa hal kita bisa unggul dibandingkan dengan bangsa lain, namun di sisi lain beberapa hal kita juga masih dinilai jauh tertinggal, semisal rendahnya kemampuan bernalar serta rendahnya minat membaca yang keduanya merupakan suatu indikator kemajuan sebuah bangsa.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan dalam pidato kenegaraan, 16 Agustus 2013 lalu bahwa kemungkinan bangsa ini akan terjebak dalam ekonomi menengah (middle income trap). Dimana masyarakat kita merupakan orang-orang yang pengeluaran per kapita per harinya sebesar 2-20 dolar AS. Dari pengertian tersebut, menurut McKinsey, jumlah kelas menengah di Indonesia dari 2003 sejumlah 81 juta naik sekitar 50 juta orang menjadi 131 juta orang pada 2010. Hal ini tentu merupakan peningkatan yang sangat fantastik.
Namun, peningkatan ini tetap harus diwaspadai. Jangan sampai kita terlena dan terjebak dengan hasil yang sangat cepat. Banyak contoh dari berbagai negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang masuk dalam jebakan kelas menengah, namun pertumbuhannya justru malah jadi tersendat dan menjadi konsumtif akan produk dari negara lain. Maka, peningkatan kualitas SDM harus terus dilakukan agar kita akan mampu bertahan dan bahkan mampu mengungguli negara lain.
Pendidikan merupakan sebuah jalan yang diharapkan mampu membawa bangsa ini kepada kemajuan, dengan guru sebagai garda terdepan pemimpinnya. Tilaar (2012), mengatakan, bagaimanapun bentuk masyarakat yang akan datang, profesi guru tetaplah diperlukan. Fungsi dan peranannya bisa saja terus berubah, namun profesi ini akan tetap langgeng selama manusia memerlukan sosok guru untuk membantu setiap perkembangannya, yang tidak mungkin diserahkan begitu saja kepada kekuatan alam.
Guru diharapkan mampu membimbing anak manusia melalui setiap tahap perkembangannya. Guru dianggap mempunyai pengalaman dan kemampuan khusus dalam membantu anak manusia menjadi seorang yang berkepribadian dan sanggup memasuki dan menghadapi dunia baru yang penuh dengan tantangan dan harapan.
Guru sekarang, bukan lagi disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Hal ini terjadi setelah tunjangan sertifikasi guru digulirkan, sehingga guru dituntut untuk benar-benar profesional menjalankan pekerjaannya. Menjadi profesional dibutuhkan sebuah mental transformasional, bukannya malah menjadi transaksional (sekuler-kapitalistik), yaitu sebatas mentransfer ilmu untuk siswanya selama 24 jam mengajar, dan sebagai imbalannya mereka mendapatkan tunjangan profesional.
Itulah tantangan besar seorang guru. Maka, perubahan atas dirinya pun mutlak diperlukan, karena tanggung jawab besar ada di pundaknya. Seorang guru seharusnya mempunyai dasar ilmu pengetahuan yang kuat serta mau dan mampu meng-update informasi dan pengetahuan yang ada padanya. Masyarakat yang kompetitif tentu saja hanya bisa terlahir dengan bantuan seorang guru yang profesional juga.
Keberanian seorang guru melakukan sebuah transformasi dalam model pembelajarannya adalah sebuah langkah besar bagi dirinya untuk memberikan satu hal terbaik bagi siswanya. Keputusan bertransformasi itu dapat diartikan guru mampu melepaskan segala macam kungkungan status quo lingkungan, keterbelakangan dan juga ketertinggalan. Artinya, ia dia telah menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri dalam mengalahkan egoisme, kemalasan dan juga kenyamanan. Semua dilakukan untuk orang lain, yaitu siswanya.
Hari guru yang diperingati setiap tanggal 25 November bertepatan juga dengan hari kelahiran organisasi terbesarnya, PGRI, yang kini telah memasuki usianya yang ke-68. Di usianya ini, profesi guru di negeri ini boleh dikatakan baru menggeliat beberapa tahun terakhir, setelah kesejahteraannya mulai diperhatikan.

Repotkan Guru
Sinyalemen ini pun nyatanya mampu mendongkrak minat lulusan SMA memasuki LPTK. Terlepas dari pandangan bahwa niatan mereka ini karena sekedar mengejar materi, namun hal ini merupakan sebuah kabar baik, bahwa peningkatan jumlah peminat menjadi guru akan memberikan ruang untuk menyeleksi calon-calon guru yang lebih baik.
Maka, harapan besar akan terlahirnya guru-guru yang lebih berkualitas mulai terbangun. Semua tentu saja harus diimbangi dengan peningkatan kualitas guru yang sudah ada. Keluhan-keluhan dari berbagai pihak akan stagnannya kinerja guru, bahkan menurun pasca kesejahteraannya dinaikkan, harus menjadi lampu kuning bagi pemerintah maupun guru sendiri.
Pemerintah harus menetapkan standar yang lebih jelas dan tegas untuk penilaian keprofesionalan seorang guru. Berubah-ubahnya persyaratan dan ketatnya aturan seharusnya bukan malah menyulitkan dan merepotkan apalagi menambah pekerjaan guru. Kecenderungan yang ada, banyak guru kini malah sibuk memperjuangkan nasibnya sendiri, bolak-balik mengurusi berkas ini dan itu, yang kesemuanya itu justru akan mengganggu kinerjanya pada tataran proses belajar mengajar yang menjadi pekerjaan utamanya.
Sebaliknya guru harus memberikan umpan balik yang seimbang atas perbaikan yang telah diupayakan oleh pemerintah. Integritas, konsistensi dan komitmen seorang guru adalah sebuah harga mati yang harus dimiliki untuk mengantarkan anak-anak didiknya menjadi manusia yang lebih unggul dan berkualitas. Selamat Hari Guru! ●

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.