0

Membaca dan Daya Saing Bangsa

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 5, 2015 in OPINI

Dimuat di: Suara Karya, 5 Desember 2015

Kegiatan wajib membaca selain buku mata pelajaran selama minimal 15 menit sebelum berlangsungnya kegiatan belajar mengajar (KBM), kini mewarnai sekolah-sekolah. Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 21 Tahun 2015.

Kehadiran Permendikbud ini bukan saja membawa spirit penanaman budi pekerti luhur dan menumbuhkan potensi unik serta utuh setiap anak, namun juga menjadi sebuah langkah strategis sekaligus harapan besar terdongkraknya minat baca siswa kita.

Terpuruknya minat baca bangsa kita, salah satunya terindikasi dari jumlah buku yang diterbitkan. Indonesia hanya menerbitkan sekitar 24.000 judul buku per tahun dengan rata-rata cetak 3.000 eksemplar per judul. Sehingga, dalam satu tahun Indonesia hanya menghasilkan 72 juta buku. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, berarti satu buku rata-rata dibaca oleh tiga hingga empat orang. Hal ini jauh dari yang distandarkan UNESCO, yaitu idealnya satu orang membaca tujuh judul buku per tahun. Lebih lanjut, rendahnya minat baca siswa kita ditunjukkan juga pada hasil Proggress in International Reading and Literacy Study (PIRLS) tahun 2012 yang menempatkan Indonesia di posisi ke-61 dari 65 negara.    Kehadiran negara melalui pollitical will-nya ini menjadi sebuah paksaan bagi sekolah sebagai lembaga pendidikan formal untuk melakukan gerakan literasi secara berkelanjutan. Membaca secara rutin terbukti mampu meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) di negara-negara maju. Karena, melaluinya, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dengan mudah dicapai. Read more…

 
0

UKG DAN HARAPAN PENINGKATAN MUTU GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Oct 29, 2015 in OPINI

Dimuat di: Kedaulatan Rakyat, Selasa, 27 Okt 2015

Jpeg

KR, 27.10.2015

Mutu guru yang rendah menjadi salah satu permasalahan pendidikan kita hingga saat ini. Terbukti dari hasil tes-tes yang diselenggarakan untuk siswa maupun tes untuk guru sendiri. Sebagai contoh, Peringkat tes PISA (Programme for International Student Assessment) maupun PIRLS (Proggress in International Reading and Literacy Study) – studi kemampuan dalam hal literasi matematika, sains dan membaca, siswa Indonesia hampir selalu menjadi langganan pada urutan terbawah dunia. Pun demikian dengan hasil UKG (Ujian Kompetensi Guru), UKKS (Ujian Kompetensi Kepala Sekolah) dan juga UKPS (Ujian Kompetensi Pengawas Sekolah), semua masih jauh dari nilai yang dipersyaratkan. Hasil capaian UKG pada tahun 2012 baru memiliki nilai rata-rata sebesar 4,7. Sedangkan hasil capaian UKKS dan UKPS adalah, 45,75 dari standar minimal kelulusan 70 skala 0-100.

Kondisi ini menjadi tantangan seluruh pelaku pendidikan. Apalagi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kemendikbud tahun 2019, menghendaki rata-rata kompetensi guru dapat mencapai angka 8.00 (delapan).   Artinya gap antara capaian dengan target yang diinginkan masih menganga sangat lebar. Dibutuhkan semangat dan kerja keras dari guru dengan dukungan pemerintah untuk menuju titik ideal pendidikan yang bermutu.

UKG yang akan diselenggarakan pada pertengahan bulan November mendatang menjadi sebuah upaya peningkatan mutu guru yang patut disambut dengan persiapan yang matang dari berbagai pihak. Tiga ribuan guru, baik itu PNS maupun GTT, baik itu sudah tersertifikasi maupun belum, akan mencoba kompetensi pedagogis dan profesionalnya melalui tes ini. Setidaknya ada empat hal yang harus dipersiapkan dalam UKG 2015 supaya bisa mencapai target angka delapan pada empat tahun mendatang. Read more…

 
0

UJI KOMPETENSI GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Oct 7, 2015 in OPINI

Opini | dimuat di: Koran Jakarta, 6 Oktober 2015

Koran Jakarta, 6 Okt 2015

Koran Jakarta, 6 Okt 2015

Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan melaksanakan Uji Kompetensi Guru (UKG) pada tahun anggaran 2015 ini terhadap 3 juta  guru lebih di seluruh Indonesia pada pertengahan November. UKG  dilaksanakan secara online bagi sekolah kabupaten/kota yang sudah siap dan offline bila belum siap.

UKG online maupun offline tahun 2012 bagi guru dan kepala sekolah, baru memiliki nilai rata-rata sebesar 4,7. Nilai tersebut masih jauh dari  target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kemendikbud tahun 2019, yang menghendaki rata-rata kompetensi guru dapat mencapai angka delapan.   Artinya tahun ini nilai rata-rata UKG harus naik  signifikan. Tentu hal ini membutuhkan upaya dan kerja keras guru.

Ujian tidak lagi meggelisahkan berlebihan para guru karena UKG bukan barang baru lagi. Para guru tak lagi  gagap teknologi seperti tahun 2012 yang sempat menjadi berita besar ketika itu. Namun lebih jauh dari persoalan teknis kemampuan guru tersebut, pemerintah harus memperhatikan beberapa isu. Di antaranya, meningkatkan kompetensi guru terus-menerus,  sistem UKG yang objektif,  kualitas soal, dan program-program tindak lanjut setelah UKG. Read more…

 
0

SEKOLAH TANPA KEKERASAN

Posted by arifah.suryaningsih on Aug 23, 2015 in OPINI

Dimuat di: Suara Karya, Jumat/14 Agustus 2015

Tahun ajaran baru dimulai, hanya berselang beberapa hari setelah peringatan Hari Anak Nasional. Isu-isu mengenai anak dengan segala macam permasalahannya masih menggema jelas, menguatkan pesan kepada seluruh lapisan masyarakat, bahwa belum sepenuhnya hak anak terpenuhi dan terlindungi. Masih banyak kasus-kasus kekerasan pada anak terjadi di sekitar kita, di lingkungan masyarakat, rumah, bahkan juga sekolah.

Termasuk, pada pelaksanaan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB), masih juga dihiasi dengan aksi-aksi perploncoan dan kekerasan yang bahkan beberapa kasus disinyalir berujung kepada kematian. Hal ini tentu menjadi tamparan keras dunia pendidikan. Padahal, larangan praktik perpeloncoan dalam kegiatan pengenalan siswa baru telah digaungkan oleh Kemendikbud jauh hari sebelum tahun ajaran baru dimulai. Ini tercantum dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 59389 Tahun 2015 yang sudah dikirimkan ke sekolah-sekolah, sekaligus dengan ancaman sangsi yang keras dan tegas jika ada pelanggaran.

Nyatanya, tahun ini MOS masih dijalankan berdasar kebiasaan di sebagian sekolah. Read more…

 
0

Mencari Sosok Kepala Sekolah Ideal

Posted by arifah.suryaningsih on May 11, 2015 in OPINI

Dimuat di: Suara Karya, Sabtu- 2 Mei 2015

Uji Kompetensi Kepala Sekolah (UKKS) dan Uji Kompetensi Pengawas Sekolah (UKPS) telah dilaksanakan, beberapa waktu lalu. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan pemetaan kompetensi kepala sekolah (Kepsek) dan pengawas sekolah (PS), sebagai dasar pelaksanaan program pembinaan dan pengembangan mereka dalam bentuk kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), serta sebagai alat kontrol pelaksanaan penilaian kinerja.

Kepala sekolah (Kepsek) adalah seorang guru yang diberi tugas tambahan sebagai pemimpin sekolah. Dengan tambahan tugas ini, maka seorang Kepsek memiliki ekivalen 18 jam mengajar. Artinya, jika jumlah jam mengajar minimal yang dipersyaratkan untuk seorang guru adalah 24 jam, maka seorang Kepsek masih mempunyai kewajiban mengajar sejumlah enam jam tatap muka dalam satu minggunya. Read more…

 
0

ERA BARU UJIAN NASIONAL

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 12, 2015 in OPINI

Dimuat di: Kompas, 28 Februari 2015

Ujian nasional 2015 akan diwarnai beberapa perbedaan dibandingkan dengan pelaksanaan UN tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan pertama adalah bahwa UN tahun 2015 tidak lagi digunakan sebagai penentu kelulusan siswa, hanya untuk pemetaan mutu pendidikan. Perbedaan kedua adalah pada tahun ini UN daring sudah mulai dilaksanakan di beberapa sekolah. Artinya, akan ada dua macam sistem ujian nasional, yaitu sistem manual dan sistem terkomputerisasi.

UN daring (dalam jaringan/online) atau yang disebut computer based test (CBT) ini diharapkan bisa memberi solusi atas pelaksanaan ujian yang lebih bersih dari kecurangan, meniadakan kebocoran soal, efektif dalam pelaksanaan, bahkan efisien dalam anggaran.

Dilaksanakannya UN daring merupakan perubahan besar sistem ujian nasional. Sebagai gambaran, pada UN 2013, siswa dihadapkan dengan lima variasi soal dalam satu ruang ujian.

Tahun 2014 dan 2015, siswa dihadapkan pada 20 variasi soal dalam satu ruang ujian. Seluruh soal dicetak pada kertas soal, kemudian siswa menjawab dengan cara melingkari jawaban yang dianggap benar menggunakan pensil jenis 2B pada lembar jawab komputer (LJK). Selanjutnya, LJK akan melewati alur pemeriksaan panjang sehingga hasil UN baru keluar dalam waktu panjang. Read more…

 
0

GURU MENUJU MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

Posted by arifah.suryaningsih on Oct 11, 2014 in OPINI

Opini | Dimuat di: Kedaulatan Rakyat, Sabtu/11 Okt 2014

KR_11_okt2014_guruMenujuMEAEra Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 tinggal beberapa saat lagi. Bentuk Integrasi ekonomi ASEAN ini memaksa kesepuluh negara anggotanya untuk bergegas mempersiapkan segala potensi yang dimiliki agar dapat meningkatkan daya saing dengan negara-negara besar di sekitarnya. Pasar tunggal berbasis produksi yang sangat kompetitif ini tentunya menuntut terlahirnya sumber daya manusia yang kompeten serta profesional agar bisa bersaing dengan sumber daya manusia dari luar negeri.

Sektor pendidikan merupakan tulang punggung untuk dapat menjadi penghasil SDM yang berdaya saing. Hal ini tentu saja menuntut juga kualitas tenaga pendidik di dalamnya, agar bisa mencetak sumber daya manusia yang siap bersaing di era MEA tahun 2015. Secara jumlah kita tidak kekurangan guru. Dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya rasio antara jumlah guru dan siswa di Indonesia sudah mencapai 1:25. Sayangnya kita masih juga terjebak pada permasalahan pemerataan dan kualitas guru.

Mengubah ataupun memperbaiki tata kelola pendidikan perlu menjadi agenda yang mendesak untuk segera dilakukan pada pemerintahan yang baru. Sehingga ketika sistem pendidikan ini tertata dengan baik, maka guru dapat lebih berkonsentrasi kepada pemberian pelayanan yang terbaik kepada siswanya. Bagaimana setiap saat mereka dapat melakukan peningkatan profesionalismenya secara kolektif maupun mandiri.

Read more…

 
0

MENDAMBAKAN GENERASI TANPA ROKOK

Posted by arifah.suryaningsih on Oct 5, 2014 in OPINI

Dimuat di : Suara Karya, Senin 1 September 2014

generasi tanpa rokokKita patut berlega hati, bahwa mulai 24 Juni 2014 yang lalu, pemerintah mulai menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang penggantian peringatan tertulis di reklame dan bungkus rokok dengan peringatan dalam bentuk gambar. Peringatan tersebut berupa berbagai macam gambar kanker pada 40 persen penampang bungkus rokok. Ada lima gambar yang sudah dipilih untuk ditampilkan di bungkus rokok, yakni gambar kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru-paru, merokok membunuhmu, dan merokok dekat dengan anak berbahaya. Dengan dipampangkannya gambar-gambar penyakit yang mengerikan akibat merokok, paling tidak hal tersebut akan meminimalisir calon-calon perokok yang berasal dari kaum muda, atau bahkan anak-anak.

Semua ahli kesehatan termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama menyimpulkan, bahwa secara kesehatan, rokok banyak menimbulkan dampak negatif, lebih-lebih bagi anak dan masa depannya.  Rokok mengandung 4000 zat kimia dengan 200 jenis di antaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), di mana bahan racun ini didapatkan pada asap utama maupun asap samping, misalnya karbon monoksida, benzopiren, dan amoniak. Kemudian, berdasarkan laporan WHO pada 1999, sekitar 250 juta anak di dunia akan meninggal karena tembakau bila konsumsinya tidak dihentikan. Sedangkan di Indonesia, menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), ada 21 juta anak merokok per tahunnya dan jumlah tersebut terus meningkat. Read more…

 
0

MELINDUNGI ANAK DARI KEKERASAN

Posted by arifah.suryaningsih on Aug 6, 2014 in OPINI

Dimuat di: KEdaulatan Rakyat, Senin 4 agustus 2014

Masalah kekerasan pada anak di Indonesia begitu luas dan kompleks. Mulai dari penelantaran, kekerasan di dalam rumah maupun di sekolah, pelecehan seksual, pembunuhan, dan sebagainya. Rentetan kajadian ini begitu intensif terjadi bukan hanya sekali dua kali. Bahkan berbagai data survei menunjukkan terjadinya peningkatan yang signifikan dari tahun-ke tahun atas kasus kekerasan kepada anak.

Banyak anak masih dipandang sebagai makhluk lemah dan selalu menjadi objek atas setiap kehidupan yang dilaluinya. Bahwa mereka tidak perlu didengar, mereka harus tunduk dan patuh tanpa syarat kepada orang dewasa, dan pengkerdilan hak-hak anak yang lainnya. Pandangan keliru tersebut masih banyak kita jumpai dalam kelompok-kelompok masyarakat yang meyakini bahwa pendidikan dan pola asuh anak didasarkan pada pengalaman turun temurun atas apa yang diperoleh dan dirasakan dari orangtuanya terdahulu.

Pesatnya perkembangan jaman nyatanya telah merubah juga karakteristik anak pada setiap generasinya. Sehingga problematika yang dialami anak sudah pasti berbeda dengan apa  yang orangtuanya alami pada jamannya. Sehingga diperlukan upaya untuk terus mengedukasi masyarakat dan juga para orangtua mengenai hal ini, termasuk juga bagi para guru.

Ketika orang tua maupun guru masih bertindak sebagai penguasa atas hak-hak anak, dengan segala otoritasnya dia akan menjadikan dirinya eksclussive. Dan terbangunlah pola hubungan top-down (vertikal),  yang membuka celah untuk terjadinya kekerasan. Sementara Tapscott, telah mengatakan dalam Growing up Digital (1998), bahwa proses belajar dalam kebudayaan global menuntut guru untuk bertindak sebagai fasilitator, proses belajar adalah sesuatu yang menyesuaikan dengan siswa (costumized), sekolah sebagai pusat untuk bergembira, dan pembelajaran berpusat kepada siswa. Read more…

 
0

REVOLUSI PROFESI GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Jun 11, 2014 in OPINI

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Selasa 10 Juni  2014

Minat siswa yang mendaftar program studi (prodi) pendidikan guru di jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada SNMPTN 2014 kali ini, terutama Pendidikan Guru SD (PGSG), terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun ini, prodi PGSD menduduki posisi empat besar terfavorit, setelah manajemen, akuntansi, dan sistem informasi.

Hal ini merupakan sebuah harapan baru bagi peningkatan kualitas pendidikan kita. Melonjaknya minat siswa merupakan sebuah peluang mendapatkan calon guru yang lebih baik. Patut disayangkan jika naik daunnya profesi ini nyaris karena alasan peningkatan ekonomi yang diperoleh. Pemberian tunjangan profesi guru melalui UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 75 menyebutkan bahwa  profesi guru/dosen wajib memperoleh perlindungan dalam pelaksanaan tugasnya. Perlindungan tersebut termasuk pemberian imbalan yang wajar sehingga tidak menghambat tugasnya.

Read more…

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.