0

Mau dimuat di Kompas?

Posted by arifah.suryaningsih on Oct 21, 2014 in Tempat Curhat

Sharing | Sumber: Kompasiana.com

Artikel, merupakan pergulatan pemikiran dari seorang ahli atas masalah yang sedang berkembang di masyarakat. Harian KOMPAS, merasa perlu menyediakan ruang tersendiri guna menampung pergulatan pemikiran yang muncul di masyarakat, dan diharapkan bisa berdampak bagi yang lain. Maka, KOMPAS, menempatkan artikel sebagai intellectual exercise (asah intelektual). Rubrik artikel KOMPAS, bukan dimaksudkan untuk mencari nama, pun bukan dimaksudkan untuk (maaf) mencari uang. Maka artikel yang dimuat harian KOMPAS, diharapkan ditulis oleh ahlinya. Read more…

 
0

Tontonan dan Tuntunan Miss World

Posted by arifah.suryaningsih on Nov 22, 2013 in Tempat Curhat

Dimuat di: SUARA KARYA, 10 September 2013

 

Perhelatan akbar Miss World terus melenggang, di tengah hiruk-pikuk pro dan kontra atas pelaksanaannya. Kontes ratu sejagad tersebut tentu akan menyita perhatian mayoritas penduduk di 160-an negara seluruh dunia. Terlebih, bagi masyarakat Indonesia sebagai tuan rumah, suka tidak suka selama beberapa hari ke depan masyarakat kita akan disuguhi gebyar kontes ratu sejagat yang memenuhi ruang-ruang media di seantero Nusantara.
Pemerintah mengklaim bahwa satu sisi positif dari pelaksanaan kegiatan ini adalah sebagai ajang memperkenalkan Indonesia di kancah dunia. Sedangkan menurut saya, inilah cara instan yang ditempuh untuk mencuatkan nama Indonesia di kancah internasional. Bukan dengan menciptakan prestasi, tapi cukup menjadi tuan rumah Miss World saja.
Sementara yang terjadi, Indonesia tetaplah negara peringkat terbawah di bidang pendidikan, tetap menjadi negeri nomor tiga terkorup dunia, dan masih juga jarang mencetak prestasi di event-event dunia. Munculnya Indonesia sebagai tuan rumah dengan kemolekan Pulau Bali-nya seolah mengabarkan kepada dunia, meskipun negeri ini sedang dirundung banyak permasalahan, namun tetap cantik di mata dunia.
Perhelatan ini bahkan diadakan ketika dunia pendidikan kita sedang diterpa berbagai permasalahan, mulai dari kurikulum baru yang belum juga menunjukkan arah yang jelas, buku-buku ajar yang berbau kekerasan, pornografi, tawuran pelajar, ditambah lagi kasus yang memiriskan, yaitu ratusan guru di Indonesia terindikasi melakukan tindak amoral dengan ditemukannya pemalsuan ijazah yang mereka miliki. Ketika kita miskin tuntunan dan keteladanan, kehadiran tontonan-tontonan yang menghibur dan menyenangkan hati akhirnya akan dijadikan tuntunan.
Bahkan ketika remaja kita sedang resah dengan kehadiran kuesioner yang mempertanyakan ukuran alat vitalnya, ketika mereka berada pada masa yang paling penting untuk mengembangkan kepribadian dan fisik yang sehat, televisi-televisi di ruang keluarga mereka sedang menyiarkan kemolekan dan lekuk tubuh sempurna para finalis Miss World. Maka, kegamangan akan mempengaruhi kehidupan remaja kita, ketika pada saat fisik mereka mulai bertumbuh dan keinginan mengembangkan daya tarik mulai hadir. Sehingga, persepsi remaja terhadap kecantikan akan bermuara pada aspek lahiriah semata.
Gaya hidup masyarakat kita sudah terlalu banyak dijejali dengan siaran-siaran televisi yang selama ini telah mereduksi moral serta minim keteladanan terutama bagi para remaja kita. Syahputra, 2013 menyebutnya sebagai ‘rezim media’. Menurutnya, televisi sebagai bagian dari rezim media telah menentukan gerbang di mana informasi – budaya, sosial, ekonomi, politik dan bahkan isu agama, senantiasa mengalir membentuk lingkungan yang dibaca, dipercaya dan disikapi (diskurtif). Di sinilah akhirnya tontonan yang disajikan dalam media (termasuk ajang Miss World) akhirnya akan menjadi tuntunan, masyarakat khususnya kaum remaja akan menerima semua informasi tersebut sebagai sesuatu yang sah dan tanpa masalah.
Kontes kecantikan apa pun namanya, kegiatan semacam ini lebih kental dengan glamour dan hedonis. Apa yang dipertontonkan kepada publik hanyalah gemerlapnya, lenggak-lenggoknya dan bahkan mereka dilekati dengan berbagai macam produk kosmetik serta fashion yang diprediksi akan menguasai pasar mode ke depannya. Para wanita akan berkiblat kepada apa yang mereka kenakan.
Menengok sejarahnya, tujuan awal kegiatan ini adalah demi kepentingan kapitalis belaka. Eric Morley, perancang sekaligus koseptor kapitalisme global di London, sejak 1951 telah mengenalkan Festival Kontes Bikini. Acara ini dilaksanakan untuk memperkenalkan pakaian renang yang disebut oleh media sebagai ajang Miss World. Akhirnya melalui event inilah, Miss World menjelma menjadi sebuah bentuk waralaba (franchise). Ada 130 negara telah membeli waralaba yang akan menghasilkan keuntungan materi yang menggiurkan.
Pelaksanaan Miss World memiliki konsep 3B, brain (kecerdasan), beauty (kecantikan) dan behavior (keperibadian). Namun, kita tahu bahwa mereka lolos memasuki gerbang adu 3B ini atas dasar pesyaratan huruf B kedua, yaitu beauty – cantik secara fisik menjadi persyaratan mutlak mengiringi 2B yang lain. Artinya, ajang ini menjadi tuntunan yang keliru ketika para remaja kita memaknai kecantikan harus mengikutkan fisik di dalamnya.
Padahal, perempuan dengan kecantikan yang sesungguhnya adalah mereka yang bisa memberikan energi positif bagi lingkungan sekitar. Dengan demikian, kriteria perempuan yang cantik bukan lagi fisik, melainkan perempuan yang memiliki kemampuan dan prestasi tinggi, yang dapat memberikan kemanfaatan bagi dirinya sendiri dan orang lain. seperti yang dikatakan oleh Ainna Amalia. (Baca:
‘Kecantikan dalam Perangkap Kuasa’)
Maka, wanita-wanita tangguh, cerdas, berkepribadian luar biasa dan menginspirasi harus terus dihadirkan dalam ruang-ruang publik kita. Kolektivitas yang melibatkan media dalam memberikan role model bagi generasi kita perlu dibangun, bukan semata untuk kepentingan kapitalisme yang mampu meraup keuntungan dolar maupun rupiah. Remaja kita harus segera disadarkan dengan keteladanan. Bahwa menjadi cantik itu harus terdidik. Karena, melalui pendidikan, sebuah peradaban akan dibangun untuk mengangkat harkat dan martabat diri, keluarga dan juga bangsanya. ●

 
2

Mumpung Jadi Mahasiswa, Ayo Nulis…..

Posted by arifah.suryaningsih on Nov 26, 2012 in Tempat Curhat

Ngomong-ngomong tentang menulis, saya mulai menggairahkan kembali hobi menulis saya yang sudah lama saya “diamkan” atau lebih tepatnya dia “terkubur hidup-hidup” diantara kesibukan dan aktivitas saya. Berawal dari kuliah “Ethical Leadership”-nya Bapak Machfud Sholikhin, P.Hd yang menantang kami untuk mencurahkan pikiran kami supaya terbaca juga untuk orang lain, saya mulai menulis lagi

Sejak itu…. saya setiap hari menulis, beberapa lolos meja redaksi harian lokal,  itupun masih terbatas pada kolom profesi.

ini dia:

1. BErempati di Kala UNAS (KR, Terbit pada hari ke-2 UNAS SMK, 18 April 2012)

2. Guru Baru untuk Tahun Ajaran Baru (KR, Terbit pada hari ke-1, TA Baru, 16 Juli 2012)

3. Gurupun Boleh Berbahasa Gaul(KR, Terbit sehari setelah Sumpah Pemuda, 29 Okt 2012)

Sayangnya belum ada link online yang langsung merujuk ke URLnya. Dan saya belum juga bisa “naik kelas” untuk bisa menembus opini. Tapi ada koran online The Globe Journal yang ternyata mau menerbitkan naskah saya. Ini Dia…..

1. E- Learning, Membangun Budaya Berbagi Pengetahuan

 

Baiklah….. itu progress menulis saya sampai dengan hari ini, doain saya bisa “naik kelas” ya….. 🙂

Oia, berikut ini juga tulisan saya loh:

Mahasiswa mempunyai independensi yang luas, tidak berorientasi kepada materi, tidak ada keberpihakan, dan tidak pula terbelenggu kepada ikatan primordial. Yang ada hanyalah mengungkapkan kebenaran yang berasal dari ruang-ruang kuliah yang selalu membicarakan teori, apa yang sebaiknya dilakukan yaitu sebuah impian dalam dunia utopia yang menjadi keinginan dan harapan setiap manusia (das sollen). Sementara fenomena yang terjadi di negeri ini adalah para pemegang tampuk kekuasaan yang notabene mereka semua adalah juga para “mantan” mahasiswa yang dulunya sangat idealis, memegang teguh prinsip-prinsip das sollen yang setiap saat berdengung dalam debat-debat mahasiswa, dalam diskusi diskusi sengit mahasiswa, dalam seminar-seminar akbar yang sering digelar. Kemudian seakan lumer ketika ternyata dunia di luar ruang kuliah lebih “liar” dan “ganas”, semua teori-teori yang berasal dari bangku kuliah seolah menjadi angin lalu, banyak diterjang, dilanggar, dimanipulasi dan bahkan juga dikonspirasikan dalam sebuah sistem yang bahkan mungkin sulit untuk dibenahi.Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah, apakah yang dapat dilakukan mahasiswa untuk dapat “merubah dunia”?

Read more…

 
0

Aku Capek Sekolah, Bunda…

Posted by arifah.suryaningsih on Nov 14, 2012 in Tempat Curhat

Rasanya seperti tersambar petir disore bolong mendengar pernyataan putri sulungku sore tadi. Sehingga membuat malam ini aku merenung lama, mencoba menghitung bersama jam-jam belajarnya, sambil memijiti punggungnya yang pegal-pegal,  kami berdua ngobrol tentang apa yang dia rasakan setelah hampir 1 tahun dia berada di kelas tiga SD, ketika dia mulai menghabiskan sepertiga hari-harinya di sekolah tersebut, malam ini kukatakan padanya, “Kakak, malam ini Kakak tidak usah mengerjakan PR, dan tidak perlu belajar, kita pijitan aja sambil ngobrol yuk…?”. Matanya berbinar-binar mendengar pernyataanku, dan dia setuju setelah kuyakinkan bahwa bu guru dan pak guru tidak akan marah besok pagi padanya. Read more…

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.