0

Menulis, Pilihan Hidup dan Panggilan Jiwa

Posted by arifah.suryaningsih on Oct 9, 2014 in RESENSI BUKU

Resensi | Dimuat di: Harian Analisa, Rabu, 8 Oktober 2014

nulis

Judul : NULIS ITU “DIPRAKTEKIN”
Penulis : TIM WESFIX
Penerbit :
  1. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
Tahun Terbit : Februari 2014
Halaman : 146 halaman
ISBN : 978-602-251-395-7

Banyak tulisan tentang menulis yang bisa kita temukan di berbagai macam buku strategi menulis, makalah-makalah seminar ataupun dari beberapa blog. Namun menulis bukan perkara mudah, bukan juga perkara penguasaan strategi semata. Diperlukan satu tekat yang kuat dan disiplin yang ketat untuk sesegera mungkin mempraktekkannya.

Tim Wesfix yang merupakan kumpulan beberapa penulis yang ingin mengajak pembaca untuk mengikuti jejak mereka dalam dunia kepenulisan. Melalui buku ini mereka memberikan berbagai macam solusi, strategi dan juga inspirasi bagi para penulis pemula ataupun calon penulis. Buku ini hadir dengan halaman full color dan gaya penyampaian yang serba visual, serta pembahasan yang singkat dan padat. Gaya penyampaiannya yang santai, didukung dengan layout yang menarik membuat buku setebal 146 halaman ini asyik dibaca. Read more…

 
0

Belajar Menjadi Manusia yang Hidup Tulus

Posted by arifah.suryaningsih on Aug 15, 2014 in RESENSI BUKU

Resensi | Dimuat di: Koran Jakarta, 15 Agustus 2014

Kondisi sekarang korupsi merajalela, penuh kekerasan, pornografi , tawuran pelajar/ antarkampung. Itulah wajah Indonesia. Seperti yang ditulis dalam sampul buku, “Terkadang kita malu memandang wajah kebudayaan sendiri. Dalam semangat melawan korupsi, kemunafi kan muncul di sana-sini. Pejabat-pejabat tertinggi kerap melindungi anggotanya yang korup. Ini kebiasaan terkutuk di mata masyarakat, tetapi menjadi tradisi agung di kalangan pejabat.”

Mohamad Sobary mengajak pembaca untuk memandang wajah kebudayaan Indonesia melalui kumpulan esai-esainya. Dengan gaya bahasanya yang sederhana, bahkan terkadang nylekit, namun justru itulah yang membuat tulisan-tulisannya menarik. Budayawan yang juga mantan peneliti bidang kebudayaan dan agama LIPI ini selalu menyerukan kepada masyarakat luas untuk terus bangkit. Hidup dan berkembang bukan karena dijaga dan dirawat, melainkan diberontak. Read more…

 
0

Mengenal Perjuangan Montessori untuk Dunia Pendidikan

Posted by arifah.suryaningsih on Apr 4, 2014 in RESENSI BUKU

Dimuat di : Koran Jakarta | Jumat, 4 April 2014 | Resensi

Pendidikan adalah suatu proses belajar menjadi manusia. Perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia nyatanya belum mampu memanusiakan peserta didik karena ketatnya aturan dan kurikulum yang justru membelenggu siswa di sekolah. Namun, upaya menuju ke arah itu tetap harus dilakukan.

Hasil pemikiran memanusiakan anak didik telah dilakukan seorang Maria Montessori sejak 6 Januari 1907 di Via dei Marzi 58 Roma. Saat itu, Montessori yang berlatar belakang pendidikan dokter meresmikan pembukaan Casa dei Bambini (rumah bagi anak-anak) yang pertama. Doktrin penting yang diajarkan Montessori “manusia itu berhasil bukan karena sudah diajarkan guru, tetapi lantaran mengalami dan melakukan sendiri.” Di dalam pendekatan Montessori, hampir tidak pernah ditemukan hukuman. Kalapun ada, hukuman yang diberikan hanya mengisolasi anak untuk tidak bergerak dan tidak melakukan apa pun, (halaman 54).

Guru dalam lingkup pendekatan Montessori tidak lagi disebut sebagai guru, melainkan direktris karena fungsinya lebih sebagai pengarah, fasilitator, dan observatori atau pengamat, (halaman 55). Peran besar Montessari dalam mengubah paradigma dunia adalah pada langkah yang harus guru lakukan terhadap siswa sebagaimana ditulis seorang psikolog dan master pada Montessorian Pedagogy and Methodology dari Universitas Roma Tre ini.

Seluruh perjalanan hidup Maria Montessori diceritakan secara singkat, tapi lengkap. Tahun 1906, saat berusia 36, Maria Montessori sudah menjadi tokoh terkenal di Italia. Ia tidak dikenal sebagai dokter, tetapi lebih sebagai pendidik. Pemikiran-pemikirannya yang sangat tajam sering menghiasi media massa nasional. Pada tahun yang sama, tuntutan reformasi di bawah pemerintahan Perdana Menteri Giovanni Giolitti terasa sangat kuat, khususnya di bidang pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, (halaman 43) Membaca sejarah perjuangan Montessori akan membuat orang menghargai hidup fungsi pendidikan secara global bagi pembangunan masyarakat dan bangsa. Read more…

 
0

MENGGAUNGKAN SEMANGAT BERUBAH MASYARAKAT

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 20, 2014 in RESENSI BUKU

Resensi Buku | Dimuat di : Koran Jakarta, 20 Maret 2014

Selama hampir 69 tahun merdeka, bukan kemakmuran, kedamaian, dan kesejahteraan yang diperoleh bangsa Indonesia. Persoalan datang silih berganti membawa bangsa ini terpuruk sehingga sulit keluar dari situasi demikian.

 

Harus ada tekad untuk berubah. Itu harus dimulai dari seluruh diri bangsa terutama para pemimpin.

 

Seperti dikatakan Albert Einstein, “Ukuran kecerdasan bukan terletak pada kebiasaan memakai alat-alat lama, tetapi kemampuan untuk berubah.” Kalimat inilah yang juga menginspirasi Rhenald Kasali dalam menggaungkan semangat perubahan. Menurutnya, seberapa pun jauh jarak yang ditempuh, perubahan tetap dimungkinkan.

 

Buku Lets Change merupakan kumpulan tulisan Rhenald Kasali yang pernah dimuat di media. Topiknya mulai dari leadership, pendidikan, ekonomi, birokrasi, pariwisata, hingga sosial.

 

Pemikiran dapat menjadi rujukan yang relevan. Buku terbagi ke dalam delapan kategori dengan kesamaan esensi, yaitu mendorong atau mengajak semua pihak untuk berani berubah.

 

Dalam hidup akan selalu muncul masalah-masalah baru yang tidak bisa dipecahkan dengan pola pikir dan cara-cara lama. Maka, harus dipecahkan dengan mengubah pola pikir strategis dan praktis. Read more…

 
0

POLITISASI GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 10, 2014 in RESENSI BUKU

Resensi | Dimuat di Kedaulatan Rakyat, 9 Maret 2014

 


Judul

:

GURU DALAM PUSARAN KEKUASAAN

Penulis

:

Dr. Arif Rohman, M. Si

Penerbit

:

CV.  Aswaja Pressindo

Tahun Terbit

:

November 2013

Halaman

:

 229 Halaman

ISBN

:

978 602 7762 96 1

 

Secara historis catatan sejarah perjuangan yang ditorehkan guru di Indonesia amat mengagumkan. Sehingga guru merupakan profesi yang teramat penting dan strategis yang dalam upaya memajukan peradaban manusia melalui pendidikan. Peran strategis guru inilah yang kemudian menjadi sasaran kaum penguasa daerah untuk menjadikan guru sebagai “alat” pelanggengan kekuasaannya.

Sejak masa perjuangan kemerdekaan cerminan relasi guru dengan masyarakat mempunyai peranan yang sangat besar. Sehingga guru menjadi bagian tak terpisahkan dalam interaksi antar kelompok dalam masyarakat. Akibatnya, guru sering berkolaborasi aktif mempengaruhi masyarakat untuk memahami masalah-masalah kemasyarakatan dan mencari solusinya. (Hal – 5)

Namun sayangnya banyak terjadi praktek jaringan birokrasi pendidikan yang distortif, yang menyebabkan fenomena “state for itself” atau pembenaran dari untuk diri sendiri. Sehingga upaya pemecahan problem pendidikan belum dapat dilakukan secara komprehensif. Banyaknya kendala tersebut karena adanya keberagaman kapasitas intelektual para birokrat pelaksana disertai kondisi geografis dan kultur yang sangat beragam.

Buku setebal 229 halaman  ini merupakan karya penelitian disertasi yang dilatar belakangi oleh kegalauan penulis atas nasib guru yang menurut sudut pandangnya, guru adalah sosok yang hampir selalu menjadi obyek dan pelengkap penderita dari tindakan elit penguasa dominan. Meski kesejahteraan guru sudah beranjak lebih baik, namun ketertindasan guru relatif belum sirna.

Diakhir buku ini, penulis menyimpulkan bahwa memang terdapat politik dominasi oleh penguasa daerah terhadap otonomi guru yang lebih dikenal dengan politisasi guru baik secara tersurat maupun secara tersirat untuk meraih kepentingan politik. Praktek tersebut merupakan wujud dari political relation yang menjelma menjadi political bargaining dengan berujung pada power sharing.(Hal -203).

Buku ini tepat dibaca oleh para birokrat dan juga guru sendiri. Sehingga kebijakan yang di hasilkan akan lebih objektif dan fair, bukan semata mengutamakan kepentingan politis. Bagi guru mereka akan bisa lebih memahami otoritas yang dimilikinya sebagai pengajar.

Diresensi – Oleh: Arifah Suryaningsih, Guru SMK 2 Sewon – Alumni MM UGM

 
0

MEREVITALISASI PEMIKIRAN BAPAK PENDIDIKAN

Posted by arifah.suryaningsih on Feb 25, 2014 in RESENSI BUKU

Resensi | Dimuat di Jawa Pos, 23 Februari 2014

 

Judul

:

VISI PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA

Penulis

:

Bartolomeus Samho

Penerbit

:

Kanisius

Tahun Terbit

:

 2013

Halaman

:

115 halaman

ISBN

:

978-979-21-3547-3

 

Berbagai macam persoalan pendidikan di Indonesia diantaranya adalah sering terjadinya perubahan peraturan di dalamnya. Fenomena tersebut bisa di baca sebagai kecenderungan (para pemimpin) bangsa Indonesia yang terlalu mengagumi konsep dan metode pendidikan yang datang dari luar kemudian serta merta meniru tanpa pertimbangan yang cakap berkaitan dengan sosio-kultural kita. Akhirnya praksis pendidikan di Indonesia terkesan serba coba-coba, aktivitas pendidikan semata-mata hanya pada persoalan pengajaran dan ranah intelektualitas menjadi takaran utama.

Bartolomeus Samho mencoba mengingatkan kepada pembaca tentang profil Ki Hadjar Dewantara dalam beberapa citra dirinya yang ideal sekaligus memaparkan visi pendidikannya secara umum. Bahwa apa yang telah Ki Hajar sampaikan beberapa puluh tahun yang lalu yang menampilkan nilai-nilai tradisional Indonesia, tidak lekang dari tantangan-tantangan dalam tataran praksis implementatifnya saat ini.

Buku ini terbagi menjadi empat bagian, bagian pertama hingga ketiga menyibak beberapa lembaran sejarah kehidupan Bapak Pendidikan Indonesia ini. Di sana kita temukan bahwa sosok pendidik sejati itu memang gemar belajar dan cinta akan dunia pendidikan sejak masa kecilnya. Kecintaannya itu membuatnya selalu bertekad untuk belajar dan bersekolah. Keterbatasan ekonomi yang menghimpit kehidupan keluarganya di masa kecilnya, tidak menghambatnya untuk maju dan berkembang dalam hidup, sekolah dan belajar. Read more…

 
0

Mencermati Tiap Kehidupan guna Menemukan Hikmah

Posted by arifah.suryaningsih on Jan 29, 2014 in RESENSI BUKU

RESENSI BUKU | Dimuat di: Koran Jakarta,  Rabu, 15 Januari 2014

Judul

:

JENDELA HATI

Penulis

:

Wijayanto Samirin

Penerbit

:

PT.Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit

:

2014

Halaman

:

 177 Halaman

ISBN

:

978 602 03 0026 9

 

Kebaikan bisa diperoleh ketika seseorang mau membuka hati seluas-luasnya. Buku ini merupakan refleksi penulis atas kesehariannya bersama keluarga, kolega, bahkan di sekitarnya.

 

Dia berusaha menemukan hikmah di dalamnya. Rentetan catatan kecil diharapkan mampu membuka hati dan pikiran pembaca untuk bisa menemukan sisi baik setiap peristiwa. Buku 177 halaman ini memuat 65 cerita inspiratif yang ditulis dengan bahasa sederhana dan ringan.

 

Kumpulan tulisan dibagi ke dalam empat bagian: Mutiara KebaikanSehari-hari, Jejak-jejak Kearifan, Merajut Hikmah, serta Membingkai Kesadaran.

 

Tiap bagian memuat cerita ringkas, namun padat. Di sejumlah tulisan pembaca akan menemukan kejutan-kejutan kecil yang lucu atau mengharukan. Interaksi keseharian penulis dengan berbagai tokoh penting, pengusaha sukses, dan juga para cendekiawan memperkaya cerita.

 

Diceritakan mengenai salah satu tokoh yaitu mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) yang tidak pernah lelah. Pada hari Minggu saja dia tetap aktif berceramah di sebuah forum. Sungguh luar biasa energinya. JK tak kenal lelah menebar kebaikan.

 

Mungkin ada pembaca yang masih ingat kalimatnya, “Kalau hati, pikiran, dan tindakan senada, orang tidak akan pernah merasa lelah” (hal 76).

 

Judul Jendela Hati merupakan pesan utama dari seluruh tulisan. Di situ dimaknakan bahwa melalui jendela hati-lah manusia bisa menemukan mutiara hikmah dari berbagai persoalan hidup, baik ataupun buruk. Hidup adalah proses pembelajaran tiada henti.

 

Kebahagiaan memang unik. Dia bisa hadir di mana, kapan, dan di hati siapa saja. Dia hadir di kamar tidur besar yang bersih dan ber-AC atau di ruang kecil yang pengap dan gerah. Dia ada di bus kota yang penuh sesak atau di dalam kabin BMW seri-7 yang senyap, dingin disertai alunan musik lembut.

 

Ia muncul di hati seorang petinggi negara yang baru saja menyelesaikan tugas penting atau di hati seorang tukang sapu yang baru saja membersihkan sudut sekolah. Semua tergantung pada manusia yang punya kuasa atas diri, perasaan, dan cara pandang terhadap dunia (hal 174-175).

 

Cerita tentang Kaos Kaki Bolong mengakhiri kumpulan kisah. Sesungguhnya manusia memang menyukai pencitraan. Sesuatu yang terpampang dan mencolok akan dilihat.

 

Sebaliknya, bila sesuatu itu tersembunyi, jelas tak akan dilirik orang. Misalnya, karena tersembunyi, kaos kaki bolong tetap saja dipakai karena tak terlihat, sedangkan pakaian yang ternoda sedikit saja akan dipensiunkan di dalam lemari (hal 177).

 

Buku ini mengajak pembaca untuk memandang kehidupan dengan positif agar lebih bijaksana dalam menyikapi ragam persoalan kehidupan. Untuk menjadi bijak, manusia tidak perlu menunggu sampai tua karena setiap saat dunia senantiasa mengajarkan banyak sebab berbagai rahasia selalu menyertai setiap denyut kehidupan.

 

Hanya, seseorang harus cermat menafsirkannya. Dibutuhkan sikap rendah hati bagaikan gelas kosong untuk diisi dengan belajar, merenung, dan berusaha.

 

 
0

Perspektif Baru Rahasia Sukses Memimpin Perusahaan

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 24, 2013 in RESENSI BUKU

RESENSI BUKU | Dimuat di: Koran Jakarta, Senin, 02 Desember 2013

Judul : GREAT SPIRIT GRAND STRATEGY
Penulis : ARIEF YAHYA
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit :  September 2013
Halaman : 304 halaman
ISBN : 979-979-22-7621-3

Belajar ilmu kepemimpinan tidak cukup hanya melalui pendidikan formal, pelatihan, ataupun kursus-kursus. Dibutuhkan lebih dari itu, yaitu keteladanan konkret dan mau belajar dari pengalaman para pemimpin sukses. Refleksi kepemimpinan mereka menjadi sebuah pelajaran yang lebih realistis dan autentik untuk kelengkapan.

Buku Great Spirit Grand Strategy menawarkan sebuah perspektif baru dan orisinal mengenai rahasia sukses organisasi melalui kekuatan harmoni spirit-strategi. Buku 304 halaman tersebut merupakan kumpulan pengalaman pribadi penulis kala memimpin salah satu BUMN terkemuka di negeri ini, mulai dari posisi kakandatel, kadivre, direktur, hingga kini sebagai direktur utama.

Dijelaskan dalam pendahuluan buku ini bahwa sukses berkesinambungan (sustainable success) sebuah organisasi terwujud karena adanya keseimbangan antara spirit dan strategi. Keseimbangan tersebut dimungkinkan karena peran sentral para pemimpin paripurna yang memiliki kemampuan untuk mengolah rasa, rasio, raga, dan karsa yang solid (hal xix).

Kunci sukses berkesinambungan terbagi ke dalam tiga elemen, yaitu filosofi korporat, arsitektur kepemimpinan, dan budaya perusahaan. Selanjutnya, ketiganya dijadikan subjudul buku, yaitu Bagian I Corporate Philosophy, II Leadership Architecture, dan III Corporate Culture. Tiga elemen tersebut merupakan senjata pamungkas pemimpin paripurna dalam membawa organisasi berlayar menuju sukses jangka panjang, puluhan, bahkan ratusan tahun.

The Corporate Philosophy: Always The Best adalah sebuah keyakinan dasar (bacic belief) yang harus dimiliki setiap insan untuk selalu memberi yang terbaik dalam setiap pekerjaan untuk mendedikasikan dan mempersembahkan sesuatu kepada perusahaan, bangsa, dan negara (hal 41).

Selain itu, seorang pemimpin haruslah mencintai bawahan dalam bentuk perhatian dan kontribusi. Ketika seseorang memberi cinta kepada para bawahan, dia akan balik dicintai orang-orang yang dipimpinnya tersebut.

The Heart of Leadership menekankan pada olah rasa dan roh, sementara the head of leadership lebih menekankan pada rasio dan raga. Di sini pemimpin lebih mengandalkan kemampuan dalam menghasilkan buah ide untuk mengembangkan bisnis dan meningkatkan perusahaan di pasar (hal 97).

Pada akhir buku diceritakan secara detail cara perusahaan menetapkan center of excellent sebagai srategic initiative pertama dan utama di perusahaan. Strategi kepemimpinannya tertuang secara jelas pada bagian ini sehingga pembaca mendapat sebuah contoh riil strategi kepemimpinan yang telah berhasil diterapkan di PT Telkom, yang dikenal dengan istilah The Telkom Way.

Buku ini bukan hanya tepat dibaca para calon pemimpin ataupun pemimpin sebuah perusahaan, namun juga dapat dikonsumsi para mahasiswa, dosen, guru, bahkan para birokrat. Buku juga dapat dijadikan sebagai bahan perenungan dan perbandingan untuk memperbaiki diri.

 
0

Dilema Mengembangkan Rasa Nasionalisme

Posted by arifah.suryaningsih on Nov 22, 2013 in RESENSI BUKU

Resensi | dimuat di: Koran Jakarta, Sabtu, 21 September 2013

Judul : Ibu Pertiwi Memanggilmu Pulang
Pengarang : Pepih Nugraha
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Agustus 2013
Halaman : 268 halaman
ISBN : 978-602-7888-62-3

 

Banyak orang mengatakan nasionalisme bangsa mulai memudar. Satu indikator yang paling populer untuk melihat kenyataan tersebut adalah banyaknya pemakaian produk impor dibanding buatan negeri sendiri. Maka, di mana-mana, gencar dikumandangkan iklan-iklan untuk selalu mencintai produksi lokal.

Namun, kecintaan pada Ibu Pertiwi bukan hanya seperti itu. Buku ini memuat 50 catatan tentang Ibu Pertiwi. Karya yang berjudul Ibu Pertiwi Memanggilmu Pulang ini pun bukan sekadar menuliskan tentang putra-putri bangsa yang lebih memilih bekerja di luar negeri dan mengabdi pada negara asing karena kecewa terhadap pengelolaan negeri, namun juga mengingatkan agar masyarakat berada di jalur yang benar sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa, di antaranya mempunyai karakter kebangsaan yang kuat, memaknai perjuangan perebutan kemerdekaan yang telah dilakukan para pahlawan.
Setiap esai dalam buku 268 halaman ini menggunakan pendekatan gaya tutur masyarakat, lugas dan lincah, sehingga bisa lebih mudah dipahami. Buku ini menarik karena di dalamnya mengangkat isu-isu terbaru.

Contoh konkret permasalahan ini, begitu banyak kaum intelek, putra-putri terbaik Ibu Pertiwi yang lebih memilih meninggalkan Tanah Air untuk mengabdikan diri ke negara lain. Namun, belum ada upaya pemerintah untuk menyerukan agar mereka pulang. Misalnya, dengan menyediakan lapangan kerja berimbalan memadai. Iklan kampanye parpol dan calon legislatif yang lebih gencar (halaman 30).
Bukan hanya para kaum intelek yang dibahas dalam buku, tapi juga para “pahlawan”” devisa yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau tenaga kerja sektor lain. Mereka terpaksa mencari nafkah ke negeri orang karena negara tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan. Ibu Pertiwi belum mampu “menghidupi”” anak-anaknya sendiri.

Namun demikian, tulisan ini menjadi netral ketika diserukan rasa nasionalisme yang memang harus terus dipupuk. Dia mengajak mereka untuk pulang, ” Jangan hanya cukup puas dan merasa diri nasionalis jika dari kejauhan merasa telah berbuat sesuatu dengan hanya mengingat dan mengenang Indonesia (halaman 26).

Permasalahan lain yang diangkat mengenai gerakan pemisahan daerah, kerusuhan, perilaku koruptor, status pulau-pulau terluar, “berkibarnya”” bendera Malaysia di Indonesia, hingga pesan-pesan moral. Di dalamnya juga ada kisah-kisah inspiratif sebagai upaya membangkitkan semangat juang dan rasa nasionalisme.

Setiap orang harus mempertahankan hidup, bagaimanapun caranya. Ada yang harus menggunakan gondola untuk membersihkan gedung tanpa proteksi memadai. Mereka sedang bertaruh nyawa demi kelangsungan hidup dirinya dan keluarganya (halaman 230).

Kisah-kisah yang disajikan bukan saja tentang kegetiran dalam perjuangan hidup di Bumi Pertiwi, tapi juga secara proporsional menghadirkan keteladanan dalam upaya menghadapi kesulitan tersebut.

Diresensi Arifah Suryaningsih, Guru SMKN 2, Sewon, DIY

Judul : Ibu Pertiwi Memanggilmu Pulang
Pengarang : Pepih Nugraha
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Agustus 2013
Halaman : 268 halaman
ISBN : 978-602-7888-62-3

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.