DUA CINTA SATU MASA

Posted by arifah.suryaningsih on Nov 4, 2018 in Uncategorized |

“Lihatlah, ada dua titik yang bergerak di layar USG.” Sepenggal kalimat itu keluar dari mulut seorang bidan di sudut kota Jogja, ketika kami hanya ingin memastikan test pack  kehamilan kedua. Membawa saya dan suami kepada kesibukan luar biasa sesudahnya. Bukan hanya sekejab itu kami dibuat takjub. Bahkan hingga kini, pada sepuluh tahun setelah kelahirannya. Kami tidak pernah tidak sibuk, tidak pernah berhenti merasa takjub untuk setiap tahapan yang kita lalui. Sepuluh tahun nyatanya bukan waktu yang panjang, tidak sepanjang angan-anganku pada waktu mengandung mereka, bagaimana aku akan bisa melewatinya? Karena melewati setiap detik bersama mereka adalah sebuah keajaiban yang selalu kunikmati, tiada henti.

Sejak minggu ke tiga, hingga minggu ke-37 menjelang kelahiran mereka. Kami memutuskan bersama dengan Dr. Dyah Rumekti, Sp.OG., dokter yang juga mengawal kehamilan dan kelahiran sulung kami. Diawali dengan perjalanan panjang tujuh bulan pertama, betapa tidak mudah menaikkan berat badan janin, karena metabolisme tubuhku yang kurang baik. Muntah setiap minum vitamin ataupun minum susu. Hingga minggu ke-26 berat mereka tidak beranjak menuju “zona aman”. Sehingga Dr. Dyah memberikanku sebuah ultimatum, “Jika satu minggu kedepan berat janin tidak juga naik, sebaiknya kita keluarkan saja. Merawat di luar akan lebih mudah dengan berat yang kurang seperti ini.” Kalimat itu menyulut semangatku, untuk bisa memberikan mereka asupan terbaik, kukesampingkan rasa mual, malas dan juga segala hal yang berkaitan dengan memanjakan rasa. Demi mereka! Sehingga memasuki minggu ke-30 berat janin merangkak naik, hingga minggu ke 37 ketika aku sudah tidak bisa lagi berbaring dengan nyaman, bernafas dengan gampang, dan bergerakku semakin lamban. Sehingga mereka harus dilahirkan.

Dimulai dengan berat badan masing-masing 1800 gram untuk Najla dan 2300 gram untuk Najwa, mungkin bagi kebanyakan orang itu adalah Berat Badan Lahir Rendah yang mengkhawatirkan.  “Ketika semua organ tubuh telah lengkap dan berfungsi dengan sempurna, juga ketika usia telah siap itu tidak akan menjadi masalah,” lagi-lagi dokter cantik di depanku ini selalu memberikan semangat. Baiklah, sehingga sepuluh hari setelah melahirkan mereka, hidupku hanya terpusat untuk memberi ASI saja, tidak untuk yang lain. Makan dan tidur secukupnya untuk kemudian setiap  dua jam setor ASI kepada keduanya. Kami boleh membawa pulang mereka jika selama tiga hari berturut-turut berat badan mereka naik. Melewati sepuluh hari untuk itu, ketika syarat terpenuhi, maka kami boleh pulang dari  Instalasi Maternal Perinatal (IMP) Maternal RS. DR. Sardjito Yogyakarta.

Rumah. Sukacita, semua menyambut dua manusia kecil itu mengenal tempat mereka pulang. Termasuk sulung kami yang pada waktu itu berusia 4,5 tahun.   Matanya berbinar-binar melihat sepasang adiknya yang baru dilihat setelah 10 hari kelahirannya. Kupeluk dan kubisikkan, “Selamat sayang, Kak Nada menjadi kakak untuk dua adik sekaligus, kakak yang hebat dan istimewa!”, matanya mengerjap, kemudian mencium pipi mungil kedua adiknya.

“Terkadang saya lupa, kapan terakhir menyisir rambut.”  Mungkin itu kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan betapa sibuknya kami setelah itu, tiga sampai empat  jam adalah waktu terbaikku bisa memejamkan mata, tidak pernah lebih dari itu. Setiap dua jam mereka pasti terbangun, tapi dengan interval yang beriringan. Ketika si kakak selesai, adik selanjutnya. Atau bahkan, adik belum selesai menyusu, kakak sudah keburu menjerit-jerit di tengah malam buta. Melelahkan? Tidak, tentu saja. Yang lebih tepat adalah, sangat melelahkan. Tapi ternyata semua ini lebih ringan daripada ketika hanya membayangkan, “bagaimana bisa merawat dua bayi kembar sekaligus?.”

Melewati malam-demi malam pada dua bulan pertama tidaklah sedramatis fase membayangkan. Ditambah dengan  sebuah komitmen untuk memberikan ASI secara eksklusif kepada mereka. Sehingga kudapan berat, buah-buahan, susu dan juga jug air putih harus selalu ada di dalam jangkauanku. Termasuk lima kali sehari untuk makan harus dianggap wajar untuk busui dua bayi kembar, yaitu sarapan, brunch (breakfast lunch), lunch beneran, makan sore dan dinner. Dengan menu seputaran, sayur brongkos, sayur daun katu, bayam wortel, sop brokoli, daging bacem, telor ayam kampung, tahu, tempe, seafood. Yang kesemuanya hanya cukup di steam atau direbus saja. Simple, urusan dapur lebih cepat  dan menghasilkan banyak ASI. Lupakan sejenak nikmat-nikmat gorengan di lidah.

Satu hal yang paling berat adalah ketika saatnya tiba, harus meninggalkan bayi untuk kembali bekerja. Tidak banyak pilihan bagi seorang Aparatur Sipil Negara untuk bisa berlama-lama dengan sang bayi. Dua bayi tepatnya. Sehingga strategi terbaik yang sudah direncanakan harus segera direalisasikan. Memompa ASI di malam hari, menyimpan dalam kantong-kantong dan wadah ASI, menghangatkan untuk mereka sesuai dengan urutan tanggal yang seharusnya tertulis rapi. Namun urutan tanggal yang tertulis rapi di stok ASI tidak berlaku untuk mereka, karena stok di dalam semua wadah tidak cukup banyak untuk sempat diberi tanggal pumping.  Siang hari harus kembali ke rumah untuk setor ASI, demikian seterusnya hingga salah satu dari mereka terkadang menjerit-jerit karena sudah tidak sanggup untuk menunggu ASI bagiannya. Panik? Tentu saja. Mengeluh? Rasanya saya sudah tidak ada waktu untuk itu. Sehingga rencana untuk enam bulan eksklusif harus terhenti memasuki bulan ke-5.

Semakin nikmat mereka menghisap dot dengan susu formula, semakin berkurang ASI yang bisa kuhasilkan. Sehingga masa MPASI tiba di usia ke-6 bulan cukup melegakanku. Komitmen selanjutnya adalah tidak memberikan mereka MPASI instan. Tidak sekalipun. Perjuangan yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Keduanya selalu lahap dengan aneka menu yang kuberikan. Pure kentang brokoli dengan ikan salmon, adalah menu favorit mereka. Tanpa pernah melewati konstipasi, tanpa melewati sakit yang berarti, sekedar pilek, demam karena perubahan cuaca maupun kondisi pasca imunisasi, mereka tumbuh dengan sempurna. Mulai mengucapkan kata-kata pertamanya pada 12 dan 13 bulannya. Menapak dengan sempoyongan pada kaki-kaki kecilnya pada 13 dan 15 bulannya. Hingga berlarian kesana kemari, sehingga kami tidak boleh sekalipun kehabisan energi.

“9 bulan + 3.650 hari = teman diperut, partner bermain, belajar, berdebat, berebut, berkonflik, becanda dan juga bersekongkol. Selamat hari lahir, kembar-kembir.” – Kutuliskan sepenggal kalimat itu kemarin, pada 27 September 2018 di akun Instagram @arifahfafa untuk ulangtahun ke-10 mereka.  Untuk sepenggal kebersamaan kami dalam satu dasawarsa ini, waktu yang sebentar, karena masih kupinta waktu yang lebih dan lebih lama lagi dari Nya. Sehingga kelak bisa kulihat mereka terus menjadi bintang, memberi kebaikan dan menebarkan manfaat bagi  sekelilingnya, bagi negerinya. Hingga hari ini, ketika secara fisik, akademis, maupun hafalan surat-surat Al-Qurannya  telah melampaui teman sebayanya, itu semua cukup menjadi mood booster terbesar kami.

Tags: , ,

Reply

Copyright © 2019 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.