UKG DAN HARAPAN PENINGKATAN MUTU GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Oct 29, 2015 in OPINI |

Dimuat di: Kedaulatan Rakyat, Selasa, 27 Okt 2015

Jpeg

KR, 27.10.2015

Mutu guru yang rendah menjadi salah satu permasalahan pendidikan kita hingga saat ini. Terbukti dari hasil tes-tes yang diselenggarakan untuk siswa maupun tes untuk guru sendiri. Sebagai contoh, Peringkat tes PISA (Programme for International Student Assessment) maupun PIRLS (Proggress in International Reading and Literacy Study) – studi kemampuan dalam hal literasi matematika, sains dan membaca, siswa Indonesia hampir selalu menjadi langganan pada urutan terbawah dunia. Pun demikian dengan hasil UKG (Ujian Kompetensi Guru), UKKS (Ujian Kompetensi Kepala Sekolah) dan juga UKPS (Ujian Kompetensi Pengawas Sekolah), semua masih jauh dari nilai yang dipersyaratkan. Hasil capaian UKG pada tahun 2012 baru memiliki nilai rata-rata sebesar 4,7. Sedangkan hasil capaian UKKS dan UKPS adalah, 45,75 dari standar minimal kelulusan 70 skala 0-100.

Kondisi ini menjadi tantangan seluruh pelaku pendidikan. Apalagi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kemendikbud tahun 2019, menghendaki rata-rata kompetensi guru dapat mencapai angka 8.00 (delapan).   Artinya gap antara capaian dengan target yang diinginkan masih menganga sangat lebar. Dibutuhkan semangat dan kerja keras dari guru dengan dukungan pemerintah untuk menuju titik ideal pendidikan yang bermutu.

UKG yang akan diselenggarakan pada pertengahan bulan November mendatang menjadi sebuah upaya peningkatan mutu guru yang patut disambut dengan persiapan yang matang dari berbagai pihak. Tiga ribuan guru, baik itu PNS maupun GTT, baik itu sudah tersertifikasi maupun belum, akan mencoba kompetensi pedagogis dan profesionalnya melalui tes ini. Setidaknya ada empat hal yang harus dipersiapkan dalam UKG 2015 supaya bisa mencapai target angka delapan pada empat tahun mendatang. Pertama peningkatan kompetensi guru secara terus menerus, kedua penyiapan sistem yang baik, ketiga kekinian substansi soal, dan yang keempat adalah tindak lanjut pasca tes.

Pertama peningkatan kompetensi guru secara terus menerus. Modernitas menuntut kehadiran sosok guru yang profesional di bidangnya, dalam arti dia bukan sekedar memiliki ilmu pengetahuan pada bidangnya, namun juga menguasai ilmu pendidikan yang bersifat praksis. Kita tidak lagi berada dalam masyarakat sederhana, yang masih menganggap bahwa setiap orang dewasa adalah guru seperti dikatakan oleh Linda A. Dove (1986). Masyarakat kita telah berkembang pesat menjadi masyarakat yang modern, yang didalamnya sudah banyak juga yang mengenyam pendidikan secara memadai. Wajar jika tuntutan masyarakat terhadap kemampuan guru menjadi lebih tinggi. Sehingga mutlak bagi seorang guru untuk terus menerus meningkatkan kompetensinya, melalui berbagai macam cara, secara swadaya maupun kolektif melalui diklat-diklat yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Kedua pesatnya perkembangan infrastruktur dan jaringan internet di seluruh Indonesia tetap belum bisa menjamin sistem UKG ini dilaksanakan serentak secara daring (dalam jaringan)/online. Keterbatasan akses internet di beberapa pelosok nusantara serta kondisi geografis yang beragam, masih menjadi tantangan besar tercapainya sistem online yang menyeluruh. Artinya diterapkannya dua sistem yang berbeda dalam tes ini, yaitu daring dan luring (luar jaringan) menuntut penyiapan UKG yang lebih matang, sehingga pelaksanaannya bisa berjalan secara lancar dan hasil yang diperoleh tetap objektif.

Ketiga, kekinian substansi soal. Materi yang akan diujikan dalam UKG ini meliputi dua hal, yaitu pedagogis dan mata pelajaran yang diampu oleh masing-masing guru. Ilmu pedagogis atau ilmu kependidikan adalah ilmu yang terus mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan jaman. Termasuk juga ilmu pengetahuan yang diampu oleh masing-masing guru. Perkembangan jaman dan pesatnya teknologi informasi, membawa dampak yang luas, bukan saja pada ilmu pengetahuan namun juga pada karakteristik peserta didik. Substansi soal UKG seharusnya mengakomodir perubahan ini. Kekinian soal akan menjadi tolok ukur sampai sejauh mana guru mengikuti trend perkembangan ilmu pendidikan dan pengetahuan yang diajarkannya kepada peserta didik. Sehingga kemampuan ataupun ketidakmampuan guru dalam mengupdate informasi dan pengetahuannya akan terekam juga pada hasil ujian ini.

Keempat adalah tindak lanjut setelah UKG dilakukan. Dengan sistem yang handal, tentunya hasil perolehan UKG akan dapat dengan cepat diketahui dan dipublikasikan. Data ini akan menjadi dasar penentu kebijakan selanjutnya. Mau diapakan guru dengan nilai rendah, sedang dan tinggi. Harapan besar dari masyarakat, khususnya guru bahwa hasil pemetaan ini akan segera dituangkan menjadi langkah strategis pemerintah dalam rangka peningkatan mutu guru secara berkesinambungan dan menyeluruh. Semoga.

Reply

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.