SEKOLAH TANPA KEKERASAN

Posted by arifah.suryaningsih on Aug 23, 2015 in OPINI |

Dimuat di: Suara Karya, Jumat/14 Agustus 2015

Tahun ajaran baru dimulai, hanya berselang beberapa hari setelah peringatan Hari Anak Nasional. Isu-isu mengenai anak dengan segala macam permasalahannya masih menggema jelas, menguatkan pesan kepada seluruh lapisan masyarakat, bahwa belum sepenuhnya hak anak terpenuhi dan terlindungi. Masih banyak kasus-kasus kekerasan pada anak terjadi di sekitar kita, di lingkungan masyarakat, rumah, bahkan juga sekolah.

Termasuk, pada pelaksanaan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB), masih juga dihiasi dengan aksi-aksi perploncoan dan kekerasan yang bahkan beberapa kasus disinyalir berujung kepada kematian. Hal ini tentu menjadi tamparan keras dunia pendidikan. Padahal, larangan praktik perpeloncoan dalam kegiatan pengenalan siswa baru telah digaungkan oleh Kemendikbud jauh hari sebelum tahun ajaran baru dimulai. Ini tercantum dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 59389 Tahun 2015 yang sudah dikirimkan ke sekolah-sekolah, sekaligus dengan ancaman sangsi yang keras dan tegas jika ada pelanggaran.

Nyatanya, tahun ini MOS masih dijalankan berdasar kebiasaan di sebagian sekolah. Kegiatan MOS belum sepenuhnya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat di sekolah sesuai aturan. Sebagian murid masih menggunakan berbagai atribut dan kegiatan yang tidak terkait dengan pendidikan.

Ironis sekaligus tragis. Masa depan anak lebih banyak digantungkan melalui sekolah, sebuah tempat yang seharusnya steril dari kekerasan, justru merenggut masa depan sekaligus nyawanya. Kasus Evan hanyalah fenomena gunung es. Di beberapa sekolah di sejumlah daerah, masih banyak kasus perploncoan berkedok orientasi siswa baru yang tidak tercium media dan khalayak umum.

Kenyataan ini dari tahun ke tahun menjadi momok bagi siswa maupun orangtua. Perundungan (bullying), menurut beberapa penelitian, lebih banyak terjadi di sekolah. Seperti pada penelitian Losel dan Blesener (dalam Elvigro, 2014) memperoleh hasil bahwa 60,1% bullying terjadi di sekolah, 17,3% saat perjalanan pulang sekolah, dan 9,2% ketika berada dalam kelas atau toilet.

Siswa baru rentan menjadi objek sasaran kakak kelas, karena kegiatan orientasi juga biasanya didominasi siswa senior. Dengan modus pengenalan kepada lingkungan dan kepada kakak kelas, siswa baru justru dipermalukan dengan atribut-atribut yang tidak jelas, seperti kuncir rambut, kantong tas plastik, tali sepatu warna-warni dan sebagainya. Ini bertentangan dengan pendidikan karena tidak menumbuhkan motivasi belajar, rasa percaya diri dan juga pemborosan.

Padahal, seharusnya pihak sekolah, khususnya pendidik, berperan secara dominan karena menyangkut proses belajar dan visi serta misi sekolah. Profesionalisme di bidang pedagogis menuntut guru supaya memahami peserta didik secara mendalam, termasuk dalam memahami peserta didik dengan memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.

Artinya, seorang guru tidak boleh abai terhadap perubahan perilaku anak didik. Kedekatan guru secara personal kepada masing-masing siswa paling tidak akan membuat mereka merasa lebih nyaman berada di sekolah. Kenyamanan tersebut akan membawa keterbukaan terhadap persoalan mereka dalam pergaulannya di sekolah. Ironisnya, kondisi itu tidak sepenuhnya berjalan. Waktu guru seolah hanya habis pada ranah administrasi pengajaran, termasuk pada guru dengan tugas tambahan wali kelas, dan juga guru BP.

Lalu, kepada siapakah anak-anak bisa berlindung dari perundungan yang sangat mungkin menimpanya? Diperlukan sebuah sinergi dari seluruh warga sekolah untuk membuat sekolah menjadi tempat yang nyaman. Sekolah dapat menerapkan sistem ‘Guru Sahabat Siswa’. Seluruh siswa baru dibagi rata kepada seluruh guru, untuk dijadikan ‘sahabat’ di sekolah. Dengan ilustrasi, jika satu sekolah ada 300 siswa baru dengan 50 orang guru, maka satu guru dapat menjadi ‘sahabat’ sebanyak enam siswa. Para guru akan mengawal mereka sejak masuk sekolah hingga kenaikan kelas. ‘Guru Sahabat Siswa’ dapat membuat pertemuan-pertemuan kecil untuk mengetahui perkembangan siswa di luar pembelajaran, mendengarkan keluh-kesah siswa ataupun sekedar sharing hal-hal di luar materi pelajaran.

Kelompok-kelompok kecil seperti itu diharapkan dapat mendeteksi keadaan masing-masing siswa dengan lebih mudah. Siswa akan merasa dekat dengan guru, merasa nyaman dan aman di sekolah. Perundungan terjadi biasanya karena pelaku merasa aman melakukannya setelah merasa yakin bahwa korban sebagai adik kelas tidak akan mengadu kepada orang lain. Dan, korban tidak tahu lagi, kepada siapa harus mengadu.

Dengan diterapkannya sistem ‘Guru Sahabat Siswa’, perundungan di lingkungan sekolah diharapkan dapat diminimalisasi. Tentu saja dengan dukungan aturan yang tegas dari pemerintah, bukan sekedar gertak di awal namun minim sangsi. Diperlukan koordinasi yang jelas dalam menetapkan sangsi antara Kemendikbud bersama dengan pemda masing-masing. Jika aturan ditegakkan dengan tegas, niscaya akan membawa dampak kepada sekolah-sekolah yang lain untuk benar-benar mengawal dan menjamin keamanan serta kenyamanan seluruh siswa sejak mulai masa orientasi. Semoga. ***

Penulis adalah guru SMKN 2 Sewon, alumnus UNY dan MM UGM.

Reply

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.