GURU MENUJU MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

Posted by arifah.suryaningsih on Oct 11, 2014 in OPINI |

Opini | Dimuat di: Kedaulatan Rakyat, Sabtu/11 Okt 2014

KR_11_okt2014_guruMenujuMEAEra Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 tinggal beberapa saat lagi. Bentuk Integrasi ekonomi ASEAN ini memaksa kesepuluh negara anggotanya untuk bergegas mempersiapkan segala potensi yang dimiliki agar dapat meningkatkan daya saing dengan negara-negara besar di sekitarnya. Pasar tunggal berbasis produksi yang sangat kompetitif ini tentunya menuntut terlahirnya sumber daya manusia yang kompeten serta profesional agar bisa bersaing dengan sumber daya manusia dari luar negeri.

Sektor pendidikan merupakan tulang punggung untuk dapat menjadi penghasil SDM yang berdaya saing. Hal ini tentu saja menuntut juga kualitas tenaga pendidik di dalamnya, agar bisa mencetak sumber daya manusia yang siap bersaing di era MEA tahun 2015. Secara jumlah kita tidak kekurangan guru. Dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya rasio antara jumlah guru dan siswa di Indonesia sudah mencapai 1:25. Sayangnya kita masih juga terjebak pada permasalahan pemerataan dan kualitas guru.

Mengubah ataupun memperbaiki tata kelola pendidikan perlu menjadi agenda yang mendesak untuk segera dilakukan pada pemerintahan yang baru. Sehingga ketika sistem pendidikan ini tertata dengan baik, maka guru dapat lebih berkonsentrasi kepada pemberian pelayanan yang terbaik kepada siswanya. Bagaimana setiap saat mereka dapat melakukan peningkatan profesionalismenya secara kolektif maupun mandiri.

Selanjutnya permasalahan kualitas guru setidaknya bersumber kepada dua hal, yaitu eksternal dan internal, kurangnya pelatihan bagi guru ataupun kurangnya kemauan guru untuk meningkatkan diri. Tidak sedikit guru kita bekerja tanpa pelatihan yang memadai, sedangkan beberapa lagi beralasan bahwa peningkatan kompetensi secara swadaya juga tidak mudah dikondisikan. Mengingat banyaknya beban guru dalam memenuhi kewajiban mengajarnya serta kegiatan administrasi lainnya. Akhirnya guru menghadapi murid dengan keadaan seadanya, minim atau bahkan tanpa inovasi-inovasi baru yang membuat murid menjadi lebih bergairah dalam belajar.

 

Artinya pendidikan yang diharapkan sebagai penghasil sumber daya manusia yang berkualitas harus terus berbenah. Seruan untuk menyadari bahwa investasi pada guru merupakan sebuah kunci keberhasilan dalam pendidikan merupakan tema besar yang diusung oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) berkaitan dengan peringatan Hari Guru se-dunia, pada 5 Oktober 2014. UNESCO menyerukan negara-negara untuk berinvestasi secara serius pada guru.

Payung hukum untuk agenda itu sudah jelas. Pasal 75 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa profesi guru/dosen wajib memperoleh perlindungan dalam pelaksanaan tugasnya. Perlindungan itu meliputi peningkatan mutu dan kesejahteraan guru, yang semestinya berjalan beriringan. Dengan anggaran pendidikan yang memadai, seharusnya pemerintah lebih mampu melaksanakan agenda peningkatan guru secara lebih berkualitas, berkelanjutan dan merata sesuai dengan kebutuhan masing-masing guru.

Selain itu guru juga harus lebih berdaya untuk peningkatan dirinya secara swadaya, terutama bagi mereka yang telah menerima tunjangan profesi. Keadaan tersebut dapat didukung oleh sekolah dengan melaksanakan pelatihan-pelatihan secara mandiri. Sekolah dapat mendesain sendiri program-program pelatihan yang menjadi kebutuhan guru. Sikap, kemampuan dan kemauan guru untuk melakukan perubahan merupakan sebuah modal besar untuk peningkatan dirinya.

Meminjam istilah Maister (1997) dalam Tilaar (2006) yang menulis tentang True Professionalism, bahwa profesionalisme tidak hanya sekedar pengetahuan teknologi dan manajemen, namun profesionalisme lebih merupakan suatu sikap (attitute). Seorang guru bukan hanya highly skilled, tetapi akan disebut profesional jika dia juga bertanggungjawab, inisiatif, serta menunjukkan komitmen personal terhadap kualitas pada pekerjaannya.

Perguruan tinggi termasuk di dalamnya LPTK tentu juga akan menjadi garda terdepan dalam proses pembentukan guru-guru masa depan yang profesional. Sehingga tuntutan ini harus segera diimbangi dengan perbaikan kualitas yang harus mampu menjadikan modal intelektual para mahasiswa pilihan di dalamnya untuk menghasilkan produk-produk yang berkualitas.

Persaingan di era MEA 2015 bukan hanya memberikan tempat kepada para ahli, namun juga bagi mereka yang mempunyai attitude. Ketrampilan dapat diajarkan secara cepat, namun pembentukan watak membutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Siklus pembentukan watak harus terus berjalan dan beriringan. Bukan hanya di sekolah, namun juga di rumah dan di lingkungan. Kondisi demikian yang kini menjadi tuntutan untuk melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

*Arifah Suryaningsih. Guru SMK N 2 Sewon. Alumni UNY dan MM UGM.

Reply

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.