0

Belajar Menjadi Manusia yang Hidup Tulus

Posted by arifah.suryaningsih on Aug 15, 2014 in RESENSI BUKU

Resensi | Dimuat di: Koran Jakarta, 15 Agustus 2014

Kondisi sekarang korupsi merajalela, penuh kekerasan, pornografi , tawuran pelajar/ antarkampung. Itulah wajah Indonesia. Seperti yang ditulis dalam sampul buku, “Terkadang kita malu memandang wajah kebudayaan sendiri. Dalam semangat melawan korupsi, kemunafi kan muncul di sana-sini. Pejabat-pejabat tertinggi kerap melindungi anggotanya yang korup. Ini kebiasaan terkutuk di mata masyarakat, tetapi menjadi tradisi agung di kalangan pejabat.”

Mohamad Sobary mengajak pembaca untuk memandang wajah kebudayaan Indonesia melalui kumpulan esai-esainya. Dengan gaya bahasanya yang sederhana, bahkan terkadang nylekit, namun justru itulah yang membuat tulisan-tulisannya menarik. Budayawan yang juga mantan peneliti bidang kebudayaan dan agama LIPI ini selalu menyerukan kepada masyarakat luas untuk terus bangkit. Hidup dan berkembang bukan karena dijaga dan dirawat, melainkan diberontak. Read more…

 
0

MELINDUNGI ANAK DARI KEKERASAN

Posted by arifah.suryaningsih on Aug 6, 2014 in OPINI

Dimuat di: KEdaulatan Rakyat, Senin 4 agustus 2014

Masalah kekerasan pada anak di Indonesia begitu luas dan kompleks. Mulai dari penelantaran, kekerasan di dalam rumah maupun di sekolah, pelecehan seksual, pembunuhan, dan sebagainya. Rentetan kajadian ini begitu intensif terjadi bukan hanya sekali dua kali. Bahkan berbagai data survei menunjukkan terjadinya peningkatan yang signifikan dari tahun-ke tahun atas kasus kekerasan kepada anak.

Banyak anak masih dipandang sebagai makhluk lemah dan selalu menjadi objek atas setiap kehidupan yang dilaluinya. Bahwa mereka tidak perlu didengar, mereka harus tunduk dan patuh tanpa syarat kepada orang dewasa, dan pengkerdilan hak-hak anak yang lainnya. Pandangan keliru tersebut masih banyak kita jumpai dalam kelompok-kelompok masyarakat yang meyakini bahwa pendidikan dan pola asuh anak didasarkan pada pengalaman turun temurun atas apa yang diperoleh dan dirasakan dari orangtuanya terdahulu.

Pesatnya perkembangan jaman nyatanya telah merubah juga karakteristik anak pada setiap generasinya. Sehingga problematika yang dialami anak sudah pasti berbeda dengan apa  yang orangtuanya alami pada jamannya. Sehingga diperlukan upaya untuk terus mengedukasi masyarakat dan juga para orangtua mengenai hal ini, termasuk juga bagi para guru.

Ketika orang tua maupun guru masih bertindak sebagai penguasa atas hak-hak anak, dengan segala otoritasnya dia akan menjadikan dirinya eksclussive. Dan terbangunlah pola hubungan top-down (vertikal),  yang membuka celah untuk terjadinya kekerasan. Sementara Tapscott, telah mengatakan dalam Growing up Digital (1998), bahwa proses belajar dalam kebudayaan global menuntut guru untuk bertindak sebagai fasilitator, proses belajar adalah sesuatu yang menyesuaikan dengan siswa (costumized), sekolah sebagai pusat untuk bergembira, dan pembelajaran berpusat kepada siswa. Read more…

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.