1

MEMBACA MENUJU KEMATANGAN BERFIKIR

Posted by arifah.suryaningsih on Apr 3, 2014 in OPINI

Dimuat di: Suara Karya| Sabtu, 29 Maret 2014

Membaca pada jaman dahulu merupakan kegiatan yang hanya dilakukan oleh para kaum elit dari kalangan istana dan juga para pemuka agama. Penemuan mesin cetak oleh Johannes Guttenberg pada tahun 1450 telah membongkar eksklusivitas sumber pengetahuan menjadi terbuka lebar. Kini buku bisa ditemukan dengan mudah dan murah dimana-mana. Sayangnya keterbacaannya masih  menjadi sebuah hal langka di negeri ini.

Indonesia hanya menerbitkan sekitar 24.000 judul per tahun dengan rata-rata cetak 3.000 eksemplar per judul. Sehingga dalam satu tahun Indonesia hanya menghasilkan 72 juta buku.  Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, berarti satu buku rata-rata dibaca oleh tiga hingga empat orang. Sementara UNESCO menstandarkan idealnya  satu orang membaca  tujuh judul buku per tahun. (Kompas, 16 Januari 2014). Bahkan hasil Proggress in International Reading and Literacy Study (PIRLS) menunjukkan bahwa siswa Indonesia untuk literasi membaca di tahun 2012 masih jauh dibawah rata-rata dunia, yaitu pada posisi ke 61 dari 65 negara dengan skor 396.

Maka tidak berlebihan jika Seno Gumira Ajidarma pernah menyampaikan dalam sebuah pidatonya, “Saya berasal dari negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, namun yang bisa dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca secara benar – yakni membaca untuk Read more…

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.