Televisi dan Pendangkalan Moral

Posted by arifah.suryaningsih on Mar 2, 2014 in OPINI |

Opini | Dimuat di: Koran Sindo, Selasa 4 Februari 2014

 

Banyak kajian dan penelitian telah membuktikan bahwa kehadiran teknologi kotak ajaib bernama televisi bukan saja mempercepat penyebaran arus informasi, tapi juga sekaligus mereduksi tata nilai masyarakat. Sayangnya, sebagian besar masyarakat kita tidak menyadari bahwa perilaku dan kehidupannya telah dipengaruhi oleh tayangan televisi tersebut.

Kehadirannya telah melebur dalam setiap ruang keluarga. Begitu penghuninya membuka mata maka akan menyala pula televisi di sana. Bahkan, suarasuara bising yang berasal dari kotak ajaib itu akan lebih mendominasi mengalahkan percakapan- percakapan ringan yang terjadi dalam keluarga. Karena itu, momentum yang seharusnya bisa digunakan untuk menjalin komunikasi sebagai perekat penghuni rumah secara tidak langsung telah terebut oleh siaran televisi.

Kini televisi tidak lagi sendiri. Kehadiran teknologi internet bersama komputernya, laptop, telephone cellular, Black- Berry, iPad, iPhone dengan segala macam aplikasi chatting, browsingdan juga kebebasan dalam bermedia sosial semakin menambah semarak dunianya para net-generation, anak-anak kita. Lemahnya kesadaran masyarakat akan hal ini terjadi secara terus menerus dan menahun sehingga hal ini menimbulkan dampak perubahan perilaku masyarakat. Televisi menjadi trendsetter mulai dari gaya rambut, gaya berbusana, gaya tutur.

Menyeluruh hingga gaya hidup kita tanpa disadari lebih berkiblat kepada televisi. Rhenald Kasali (2013) dalam bukunya “Camera Branding” mengatakan, kita tengah hidup dalam peradaban Social TVyang jauh lebih terlihat dan saling memperlihatkan. Perbuatan dan perkataan, mimik dan bahasa tubuh, individu close-up dan kerumunan wartawan yang mengejar berita, komentar para ahli, telah memengaruhi moodkita sehari-hari. Dia mempengaruhi cara berpikir kita, anak-anak kita, murid- murid dan orang yang kita temui di jalan raya.

Semua meniru- niru yang disaksikan di televisi. Kini bukan hanya tayangan sinetron yang harus diwaspadai, acara hiburan lawakan pun banyak menyajikan kekerasan dan bullying dalam tindakan maupun perkataan, baik di skenario maupun spontan. Menampar, menendang, dan mengolok- olok kelemahan fisik lawan main sepertinya menjadi hal yang sangat lucu dan pantas ditayangkan. Hampir keseluruhan konten televisi kini senang menyajikan konflik dan ketegangan, pertempuran antarorang yang bertengkar dari masyarakat kelas bawah hingga para elite negeri.

Kehadiran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sejak 2002 yang diharapkan mampu memfilter siaran-siaran televisi yang semakin kebablasan belum juga memenuhi harapan masyarakat. Komisi ini nyatanya bekerja masih kurang optimal dan masih kalah dengan kekuatan modal yang ada dibalik kondisi media massa di Indonesia lebih banyak berpihak pada kekuatan modal dan kekuatan politik tertentu. Atas hal itu, publik merasakan bahwa media tidak terlalu memperhatikan lagi agenda publik, tapi bergerak menurut kepentingan internal media itu sendiri.

Rating program menjadi aspek paling penting bagi kebijakan strategi program media. Hal ini tentu saja masih jauh dari harapan dan semangat yang di amanatkan Undang- Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 untuk menempatkan publik sebagai pemilik dan pengendali utama ranah penyiaran. Apa yang baru saja dilakukan KPI dalam memberikan sanksi pengurangan durasi terhadap dua program siaran di dua stasiun swasta, yakni Pesbukers yang ditayangkan di ANTVdan Dahsyat yang ditayangkan di RCTI perlu diapresiasi.

Meski demikian, KPI seharusnya mempunyai taring yang lebih tajam untuk memfilter maraknya acara-acara abal-abal yang jauh dari unsur pendidikan. Independensi yang ada padanya harus benar-benar mampu mengayomi masyarakat. Semua harus bergerak dengan cepat jika tidak mau kecolongan. Meminjam istilah Chairman The Society of Heads, David Boddy bahwa negara-negara sedang dicengkeram oleh “national attention deficit syndrome” atau sindrom menurunnya konsentrasi karena anakanak menghabiskan banyak waktu pada hiburan-hiburan di depan layar.

Penurunan konsentrasi karena penjejalan konten-konten kekerasan akan berdampak kepada pendangkalan moral anak. Apalagi, seorang anak adalah peniru ulung. Dengan melakukan pengamatan atau yang disebut juga modeling atau “imitasi” seseorang (anak) secara kognitif menampilkan perilaku orang lain dan kemudian mungkin akan mengadopsi perilaku orang lain itu menjadi perilaku dirinya sendiri. Literasi media sebagai upaya untuk menanamkan pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana berinteraksi dengan media, menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak.

Lembaga negara seperti KPI, perguruan tinggi, sekolah, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat harus terus berusaha mengembangkan pendidikan literasi media bagi seluruh lapisan masyarakat. Akhirnya ketika televisi harus terus dituntut memberikan inovasi terhadap beragam acaranya, demi peningkatan rating dan kepentingan bisnisnya, tanpa kajian yang mendalam terhadap relevansi pendidikan bagi anak dan masyarakat.

Maka, keluargalah yang tetap harus menjadi ujung tombak nomor satu untuk merawat generasi mudanya dari bahaya laten televisi dan teknologi yang lebih muda lainnya. Artinya, filter yang paling ampuh itu sejatinya terletak pada ranah keluarga ini. Penanaman pendidikan moral sejak dini dan pendampingan secara masif harus terus dilakukan. Kita harus terus memantau, layak dan tidaknya siaran itu masuk ke ruang keluarga kita.

1 Comment

Achmad Zakki Falani
Mar 3, 2014 at 2:59 am

Artikel yang menarik..ijin cop-past & semoga bermanfaat


 

Reply

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.