Guru dan Kurikulum 2013

Posted by arifah.suryaningsih on Jan 29, 2014 in OPINI |

Dimuat di: SUARA KARYA, Sabtu 25 Januari 2014

Hasrat besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk melaksanakan Kurikulum 2013 (K-13) secara menyeluruh sudah di depan mata. Sebanyak 208.000 sekolah dengan 31 juta siswa akan menggunakan K-13 secara serentak mulai tahun ajaran 2014/2015 mendatang. Keputusan Kemdikbud ini berangkat dari hasil monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan K-13 di beberapa sekolah melalui metode sensus beberapa waktu lalu.Hasil sensus menyebutkan bahwa K-13 terbukti mampu meningkatkan daya nalar siswa, hasrat membaca, semangat belajar dan juga mendorong anak lebih inovatif. Linier dengan hasil sensus tersebut, guru sebagai ujung tombak pelaksana tentu saja minimal harus memiliki kompetensi yang selaras dengan tujuan K-13 tersebut. Tidak ada yang meragukan konsep yang diusung kurikulum baru ini menyongsong era globalisasi yang ditandai dengan semakin lajunya tuntutan masyarakat konsumen terhadap kualitas produksi yang tinggi dan layanan prima di segala bidang.Termasuk tentunya bidang pendidikan. Investasi bidang ini sangat disadari oleh sebagian besar masyarakat sebagai tonggak majunya suatu peradaban dengan terbentuknya generasi penerus bangsa yang handal. Yaitu, bukan saja dalam penguasaan ilmu pengetahuan namun juga keterampilan menghadapi persaingan dunia.Tilaar (2012), mengatakan bahwa legitimasi dari suatu pekerjaan atau jabatan dalam masyarakat abad ke-21 tidak lagi didasarkan pada amatirisme, tetapi berdasarkan pada kemampuan yang diperoleh secara sadar dan terarah dalam menguasai berbagai jenis ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Maka, profesionalisme guru menjadi syarat mutlak untuk mengantarkan generasi muda memasuki era global ini.Namun sayangnya profesionalisme guru sendiri tidak seindah yang tertulis di atas kertas. Data menunjukkan bahwa tunjangan profesional yang telah dikucurkan untuk mendongkrak kinerja guru masih jauh dari harapan. Hasil penelitian Bank Dunia pada 14 Maret 2013 mengejutkan banyak pihak. Guru yang telah memperoleh tunjangan sertifikasi dan belum, menunjukkan prestasi yang relatif sama. Artinya perbaikan mutu pendidikan nasional setelah program sertifikasi tidak berdampak secara signifikan.Penelitian tersebut dilakukan sejak 2009 di 240 SD negeri dan 120 SMP di seluruh Indonesia, melibatkan 39.531 siswa. Hasil tes antara siswa yang diajar guru yang bersertifikasi dan tidak, untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, IPA dan Bahasa Inggeris, tidak terdapat pengaruh program sertifikasi guru terhadap hasil belajar siswa, baik di SD maupun SMP, (Kompas, 12 Juni 2013).Seperti diungkapkan Sumardianta (2013), permasalahan guru kini bukan lagi soal kesejahteraan, melainkan spirit dan keteladanan. Banyak guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik dan memperoleh tunjangan. Namun, perubahan yang dialami oleh sebagian besar guru, baru sebatas bergeser dari mediocre teacher menjadi superior teacher. Dari guru yang kerjanya sepanjang hari ngomong di depan kelas menjadi guru yang kerjanya mendemonstrasikan kewibawaan dan otoritasnya di hadapan murid.Tipe guru yang lain yaitu good teacher dan great teacher seperti yang dicita-citakan undang-undang tentang profesionalisme harus terus diperjuangkan. Sehingga, guru benar-benar sanggup membawa misi besar K-13 secara riil di lapangan, yaitu mengantarkan anak didik menjadi generasi yang tangguh.Pelatihan guru seperti yang dijanjikan pemerintah memasuki awal tahun ini, akan menjadi sebuah angin segar bagi 2,8 jutaan guru di seluruh penjuru negeri. Guru boleh berharap bahwa pelatihan kali ini seharusnya berbeda, bukan seperti pelatihan-pelatihan yang digelar hanya sekedar legitimasi pelaksanaan program dengan metode ceramah dan tanpa melibatkan peran aktif guru. Sehingga yang terjadi guru hanya datang, duduk, dengar, kemudian (mendengkur, karena kebosanan mengikuti acara.Metode paralel dan konsep master teacher (satu guru akan melatih sekian guru lainnya) yang hendak diusung jangan sampai sekedar kejar tayang, alias cepat kelar. Karena, apa yang mampu diserap guru dalam pelatihan tersebut akan menentukan nasib guru yang lain. Selepas mengikuti pelatihan, guru harus memberikan pengetahuan yang sama kepada rekannya.Sementara laporan hasil studi Jacques Delors (UNESCO) sejak 16 tahun lalu (1996), telah merekomendasikan empat soko guru pendidikan di abad XXI yaitu penguasaan pengetahuan (learning to know), kemampuan bekerja (learning to do), kemampuan mencapai tingkatan kepribadian yang mantap dan mandiri (learning to be) dan kemampuan hidup dalam bekerja sama (learning to live together). Ironisnya sistem pendidikan dan latihan yang selama ini dilaksanakan masih berkutat pada soko guru pertama, yaitu learning to know.Inilah tantangan besar bagi pemerintah. Kemendikbud harus mencari metode yang tepat untuk melatih para guru menuju kesiapan mereka terhadap pelaksanaan K-13 ini, karena inti dari pelatihan adalah perubahan. Pelatihan ini setidaknya memungkinkan guru untuk melakukan sendiri kegiatan inkuiri (pembelajaran yang mengedepankan observasi, bertanya menyimpulkan dan mengkomunikasikan) dan mendapatkan pengalaman langsung bagaimana pembelajaran terjadi (how people learn). Sehingga pola pikir guru akan lebih mudah berubah.

Lebih dari itu, kesinambungan terhadap apa yang telah diperoleh guru dari pelatihan harus terus berjalan. Melalui program pelatihan lanjutan yang dilakukan secara berkala, dengan tetap memperhatikan keberagaman budaya lokal yang dimiliki guru yang berasal dari berbagai daerah. Sehingga, pelaksanaan kurikulum tidak akan seragam dan kaku yang menganut satu atau dua model saja. Namun, penuh warna dengan tetap mempertahankan local wisdom. ***

Penulis adalah pendidik, alumni
Manajemen Kepengawasan Pendidikan, MM UGM.

Reply

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.