0

Perspektif Baru Rahasia Sukses Memimpin Perusahaan

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 24, 2013 in RESENSI BUKU

RESENSI BUKU | Dimuat di: Koran Jakarta, Senin, 02 Desember 2013

Judul : GREAT SPIRIT GRAND STRATEGY
Penulis : ARIEF YAHYA
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit :  September 2013
Halaman : 304 halaman
ISBN : 979-979-22-7621-3

Belajar ilmu kepemimpinan tidak cukup hanya melalui pendidikan formal, pelatihan, ataupun kursus-kursus. Dibutuhkan lebih dari itu, yaitu keteladanan konkret dan mau belajar dari pengalaman para pemimpin sukses. Refleksi kepemimpinan mereka menjadi sebuah pelajaran yang lebih realistis dan autentik untuk kelengkapan.

Buku Great Spirit Grand Strategy menawarkan sebuah perspektif baru dan orisinal mengenai rahasia sukses organisasi melalui kekuatan harmoni spirit-strategi. Buku 304 halaman tersebut merupakan kumpulan pengalaman pribadi penulis kala memimpin salah satu BUMN terkemuka di negeri ini, mulai dari posisi kakandatel, kadivre, direktur, hingga kini sebagai direktur utama.

Dijelaskan dalam pendahuluan buku ini bahwa sukses berkesinambungan (sustainable success) sebuah organisasi terwujud karena adanya keseimbangan antara spirit dan strategi. Keseimbangan tersebut dimungkinkan karena peran sentral para pemimpin paripurna yang memiliki kemampuan untuk mengolah rasa, rasio, raga, dan karsa yang solid (hal xix).

Kunci sukses berkesinambungan terbagi ke dalam tiga elemen, yaitu filosofi korporat, arsitektur kepemimpinan, dan budaya perusahaan. Selanjutnya, ketiganya dijadikan subjudul buku, yaitu Bagian I Corporate Philosophy, II Leadership Architecture, dan III Corporate Culture. Tiga elemen tersebut merupakan senjata pamungkas pemimpin paripurna dalam membawa organisasi berlayar menuju sukses jangka panjang, puluhan, bahkan ratusan tahun.

The Corporate Philosophy: Always The Best adalah sebuah keyakinan dasar (bacic belief) yang harus dimiliki setiap insan untuk selalu memberi yang terbaik dalam setiap pekerjaan untuk mendedikasikan dan mempersembahkan sesuatu kepada perusahaan, bangsa, dan negara (hal 41).

Selain itu, seorang pemimpin haruslah mencintai bawahan dalam bentuk perhatian dan kontribusi. Ketika seseorang memberi cinta kepada para bawahan, dia akan balik dicintai orang-orang yang dipimpinnya tersebut.

The Heart of Leadership menekankan pada olah rasa dan roh, sementara the head of leadership lebih menekankan pada rasio dan raga. Di sini pemimpin lebih mengandalkan kemampuan dalam menghasilkan buah ide untuk mengembangkan bisnis dan meningkatkan perusahaan di pasar (hal 97).

Pada akhir buku diceritakan secara detail cara perusahaan menetapkan center of excellent sebagai srategic initiative pertama dan utama di perusahaan. Strategi kepemimpinannya tertuang secara jelas pada bagian ini sehingga pembaca mendapat sebuah contoh riil strategi kepemimpinan yang telah berhasil diterapkan di PT Telkom, yang dikenal dengan istilah The Telkom Way.

Buku ini bukan hanya tepat dibaca para calon pemimpin ataupun pemimpin sebuah perusahaan, namun juga dapat dikonsumsi para mahasiswa, dosen, guru, bahkan para birokrat. Buku juga dapat dijadikan sebagai bahan perenungan dan perbandingan untuk memperbaiki diri.

 
0

ISTRI, IBU DAN GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 24, 2013 in OPINI, Uncategorized

Dimuat di: Bernas Jogja, 24 Desember 2013

Ada seorang pejabat bersama istrinya sedang berhenti di sebuah pom bensin. Sementara sopir bertransaksi dan sang suaminya tetap sibuk dengan gadgetnya. Sang istri tiba-tiba menurunkan kaca jendela, dan selanjutnya terlibat mengobrol asyik dengan salah satu pegawai pom bensin selama proses pengisian bahan bakar. Sehingga dalam perjalanan selanjutnya, suami tidak tahan untuk bertanya kepada istrinya, “Mah, kok kamu sembarangan ngobrol dengan tukang bensin?”, selidiknya.

Dengan tenang sang istri menjawab, “Ohh.. itu tadi ya Pah, hmmm Papa lupa ya, itu kan Bang Asnawi, orang yang pernah naksir mamah dulu”.  Sang pejabat terbeliak kaget, dan sambil tertawa sisnis dia berkata,” hohoho…. walah-walah mah.. Mah! Coba Mamah dulu jadi istri si Asnawi itu, pasti Mamah sekarang tidak ada di dalam mobil mewah ini, anak-anak kita sekolah di sekolah kampung dan mamah cuma jadi istri seorang tukang bensin!”.  Sambil tersenyum, sang istri menjawab kalem, “Papah salah…, misalnya saya jadi istri Bang Asnawi, bisa jadi dia yang jadi pejabat, dan Papah yang jadi tukang bensin lho…. “

Ada ungkapan yang populer yang mengatakan “dibalik kesuksesan seorang pria pasti ada wanita yang hebat di belakangnya”.  Maka menjadi salah besar jika seorang pria sukses dengan gagahnya menepuk  dada sambil berkata, “Inilah hasil kerja kerasku”. Karena Tidak ada satu hasil kerja keras satu pun yang bisa terlahir tanpa dukungan seorang istri.

Perempuan sebagai “kanca wingking” atau orang yang mengatur segala hal tetang urusan rumah tangga, sudah tidak perlu diragukan lagi. Hasil penelitian yang ditunjukan Professor Keith Laws, seorang psikolog di University of  Hertfordshire Inggris, membuat para ilmuwan percaya bahwa perempuan lebih mampu merefleksikan masalah, sambil terus menyeimbangkan komitmen mereka yang lain ketimbang laki-laki. Perempuan dapat mengandalkan kedua tangan dan dua otak untuk bekerja simultan.

Maka seorang perempuan akan dengan mudah melakoni kehidupannya menjadi seorang istri sekaligus sebagai ibu dan juga merangkap menjadi guru bagi anak-anaknya. Seorang Ibu telah menjadi guru ketika ketika seorang anak manusia mulai ditiupkan Ruh-nya oleh Sang Pencipta. Kelahiran seorang bayi di dunia, akan disambut oleh guru pertamanya. Sejak pertemuan pertama itulah, dimulainya sang bayi menerima pelajaran – demi pelajaran yang diberikan oleh sang ibu, mulai dari membuka mulut, menerima makanan, mengucapkan satu kata sampai dengan saatnya dia mencoba berjalan dengan kakinya sendiri, seorang bayi akan tumbuh besar bersama guru sejatinya.

Lebih dari itu seorang ibu harus terus belajar. Pola pendidikan anak di dalam keluarga banyak yang dilakukan dengan cara autodidak (berdasarkan pengalaman turun temurun atas apa yang diperoleh dan dirasakan dari orangtuanya terdahulu) harus segera ditinggalkan. Karena pengetahuan ibu terhadap pola asuh, perkembangan fisik dan psikis anak pada setiap usianya, sampai dengan pola makan anak adalah sebuah faktor penentu keberhasilan anak dalam mencapai kualitas hidupnya.

Pesatnya perkembangan jaman nyatanya telah merubah juga karakteristik anak pada setiap generasinya. Sehingga problematika yang dialami anak sudah pasti berbeda dengan apa  yang orangtuanya alami pada jamannya. Maka Kehidupan dunia modern yang penuh dengan tantangan serta persaingan menuntut seorang ibu menjadi guru atas anaknya tidak boleh hanya berbekal insting, naluri dan pengalaman orang tuanya di masa lalu.

Peran penting ibu sebagai seorang guru akan terus dibutuhkan oleh seorang anak. Jiwa pendidik yang telah melekat dalam hakikat seorang ibu, akan terus dibawanya dalam mendampingi setiap jengkal pertumbuhan anak-anaknya. Dorothy Law Nolte (1954), menggambarkan hubungan antara lingkungan yang diciptakan oleh orangtuanya dengan reaksi yang dilakukan anak, dalam sebuah puisi “Children Learn What They Live”, beberapa bait diantaranya antara lain: Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan….

Ketangguhan seorang perempuan dengan sebutan ibu, bahkan mengalahkan egonya sendiri. Dia tidak akan peduli dengan posisi dan kelelahannya. Dia akan segera menyingsingkan lengan bajunya ketika keluarganya didera problematika ekonomi. Solusinya adalah ibu akan bekerja.  Mulai dari menjadi buruh, menjajakan kue atau bahkan menjadi pahlawan devisa bagi negaranya.  Semua dilakoninya demi keselamatan keluarganya, terutama demi anak-anaknya.

Istri ataupun Ibu tidak boleh lelah, tidak boleh lemah, dan juga tidak boleh lengah.  Dia harus selalu merawat kesadaran, bahwa dirinya adalah “nyawa” dari keluarganya.  Segala sikap dan perbuatannya akan memberi dampak bagi kehidupan keluarganya dan menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Terjerembabnya banyak perempuan dan juga ibu dalam berbagai permasalahan menjadi sebuah alarm, bahwa jabatan, kemewahan maupun popularitas  yang ingin dicapai  dengan ambisi dan jalan pintas yang melewati batas akan dapat mematikan mimpi dan masa depan anak-anaknya.

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.