0

Perspektif Baru Rahasia Sukses Memimpin Perusahaan

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 24, 2013 in RESENSI BUKU

RESENSI BUKU | Dimuat di: Koran Jakarta, Senin, 02 Desember 2013

Judul : GREAT SPIRIT GRAND STRATEGY
Penulis : ARIEF YAHYA
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit :  September 2013
Halaman : 304 halaman
ISBN : 979-979-22-7621-3

Belajar ilmu kepemimpinan tidak cukup hanya melalui pendidikan formal, pelatihan, ataupun kursus-kursus. Dibutuhkan lebih dari itu, yaitu keteladanan konkret dan mau belajar dari pengalaman para pemimpin sukses. Refleksi kepemimpinan mereka menjadi sebuah pelajaran yang lebih realistis dan autentik untuk kelengkapan.

Buku Great Spirit Grand Strategy menawarkan sebuah perspektif baru dan orisinal mengenai rahasia sukses organisasi melalui kekuatan harmoni spirit-strategi. Buku 304 halaman tersebut merupakan kumpulan pengalaman pribadi penulis kala memimpin salah satu BUMN terkemuka di negeri ini, mulai dari posisi kakandatel, kadivre, direktur, hingga kini sebagai direktur utama.

Dijelaskan dalam pendahuluan buku ini bahwa sukses berkesinambungan (sustainable success) sebuah organisasi terwujud karena adanya keseimbangan antara spirit dan strategi. Keseimbangan tersebut dimungkinkan karena peran sentral para pemimpin paripurna yang memiliki kemampuan untuk mengolah rasa, rasio, raga, dan karsa yang solid (hal xix).

Kunci sukses berkesinambungan terbagi ke dalam tiga elemen, yaitu filosofi korporat, arsitektur kepemimpinan, dan budaya perusahaan. Selanjutnya, ketiganya dijadikan subjudul buku, yaitu Bagian I Corporate Philosophy, II Leadership Architecture, dan III Corporate Culture. Tiga elemen tersebut merupakan senjata pamungkas pemimpin paripurna dalam membawa organisasi berlayar menuju sukses jangka panjang, puluhan, bahkan ratusan tahun.

The Corporate Philosophy: Always The Best adalah sebuah keyakinan dasar (bacic belief) yang harus dimiliki setiap insan untuk selalu memberi yang terbaik dalam setiap pekerjaan untuk mendedikasikan dan mempersembahkan sesuatu kepada perusahaan, bangsa, dan negara (hal 41).

Selain itu, seorang pemimpin haruslah mencintai bawahan dalam bentuk perhatian dan kontribusi. Ketika seseorang memberi cinta kepada para bawahan, dia akan balik dicintai orang-orang yang dipimpinnya tersebut.

The Heart of Leadership menekankan pada olah rasa dan roh, sementara the head of leadership lebih menekankan pada rasio dan raga. Di sini pemimpin lebih mengandalkan kemampuan dalam menghasilkan buah ide untuk mengembangkan bisnis dan meningkatkan perusahaan di pasar (hal 97).

Pada akhir buku diceritakan secara detail cara perusahaan menetapkan center of excellent sebagai srategic initiative pertama dan utama di perusahaan. Strategi kepemimpinannya tertuang secara jelas pada bagian ini sehingga pembaca mendapat sebuah contoh riil strategi kepemimpinan yang telah berhasil diterapkan di PT Telkom, yang dikenal dengan istilah The Telkom Way.

Buku ini bukan hanya tepat dibaca para calon pemimpin ataupun pemimpin sebuah perusahaan, namun juga dapat dikonsumsi para mahasiswa, dosen, guru, bahkan para birokrat. Buku juga dapat dijadikan sebagai bahan perenungan dan perbandingan untuk memperbaiki diri.

 
0

ISTRI, IBU DAN GURU

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 24, 2013 in OPINI, Uncategorized

Dimuat di: Bernas Jogja, 24 Desember 2013

Ada seorang pejabat bersama istrinya sedang berhenti di sebuah pom bensin. Sementara sopir bertransaksi dan sang suaminya tetap sibuk dengan gadgetnya. Sang istri tiba-tiba menurunkan kaca jendela, dan selanjutnya terlibat mengobrol asyik dengan salah satu pegawai pom bensin selama proses pengisian bahan bakar. Sehingga dalam perjalanan selanjutnya, suami tidak tahan untuk bertanya kepada istrinya, “Mah, kok kamu sembarangan ngobrol dengan tukang bensin?”, selidiknya.

Dengan tenang sang istri menjawab, “Ohh.. itu tadi ya Pah, hmmm Papa lupa ya, itu kan Bang Asnawi, orang yang pernah naksir mamah dulu”.  Sang pejabat terbeliak kaget, dan sambil tertawa sisnis dia berkata,” hohoho…. walah-walah mah.. Mah! Coba Mamah dulu jadi istri si Asnawi itu, pasti Mamah sekarang tidak ada di dalam mobil mewah ini, anak-anak kita sekolah di sekolah kampung dan mamah cuma jadi istri seorang tukang bensin!”.  Sambil tersenyum, sang istri menjawab kalem, “Papah salah…, misalnya saya jadi istri Bang Asnawi, bisa jadi dia yang jadi pejabat, dan Papah yang jadi tukang bensin lho…. “

Ada ungkapan yang populer yang mengatakan “dibalik kesuksesan seorang pria pasti ada wanita yang hebat di belakangnya”.  Maka menjadi salah besar jika seorang pria sukses dengan gagahnya menepuk  dada sambil berkata, “Inilah hasil kerja kerasku”. Karena Tidak ada satu hasil kerja keras satu pun yang bisa terlahir tanpa dukungan seorang istri.

Perempuan sebagai “kanca wingking” atau orang yang mengatur segala hal tetang urusan rumah tangga, sudah tidak perlu diragukan lagi. Hasil penelitian yang ditunjukan Professor Keith Laws, seorang psikolog di University of  Hertfordshire Inggris, membuat para ilmuwan percaya bahwa perempuan lebih mampu merefleksikan masalah, sambil terus menyeimbangkan komitmen mereka yang lain ketimbang laki-laki. Perempuan dapat mengandalkan kedua tangan dan dua otak untuk bekerja simultan.

Maka seorang perempuan akan dengan mudah melakoni kehidupannya menjadi seorang istri sekaligus sebagai ibu dan juga merangkap menjadi guru bagi anak-anaknya. Seorang Ibu telah menjadi guru ketika ketika seorang anak manusia mulai ditiupkan Ruh-nya oleh Sang Pencipta. Kelahiran seorang bayi di dunia, akan disambut oleh guru pertamanya. Sejak pertemuan pertama itulah, dimulainya sang bayi menerima pelajaran – demi pelajaran yang diberikan oleh sang ibu, mulai dari membuka mulut, menerima makanan, mengucapkan satu kata sampai dengan saatnya dia mencoba berjalan dengan kakinya sendiri, seorang bayi akan tumbuh besar bersama guru sejatinya.

Lebih dari itu seorang ibu harus terus belajar. Pola pendidikan anak di dalam keluarga banyak yang dilakukan dengan cara autodidak (berdasarkan pengalaman turun temurun atas apa yang diperoleh dan dirasakan dari orangtuanya terdahulu) harus segera ditinggalkan. Karena pengetahuan ibu terhadap pola asuh, perkembangan fisik dan psikis anak pada setiap usianya, sampai dengan pola makan anak adalah sebuah faktor penentu keberhasilan anak dalam mencapai kualitas hidupnya.

Pesatnya perkembangan jaman nyatanya telah merubah juga karakteristik anak pada setiap generasinya. Sehingga problematika yang dialami anak sudah pasti berbeda dengan apa  yang orangtuanya alami pada jamannya. Maka Kehidupan dunia modern yang penuh dengan tantangan serta persaingan menuntut seorang ibu menjadi guru atas anaknya tidak boleh hanya berbekal insting, naluri dan pengalaman orang tuanya di masa lalu.

Peran penting ibu sebagai seorang guru akan terus dibutuhkan oleh seorang anak. Jiwa pendidik yang telah melekat dalam hakikat seorang ibu, akan terus dibawanya dalam mendampingi setiap jengkal pertumbuhan anak-anaknya. Dorothy Law Nolte (1954), menggambarkan hubungan antara lingkungan yang diciptakan oleh orangtuanya dengan reaksi yang dilakukan anak, dalam sebuah puisi “Children Learn What They Live”, beberapa bait diantaranya antara lain: Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan….

Ketangguhan seorang perempuan dengan sebutan ibu, bahkan mengalahkan egonya sendiri. Dia tidak akan peduli dengan posisi dan kelelahannya. Dia akan segera menyingsingkan lengan bajunya ketika keluarganya didera problematika ekonomi. Solusinya adalah ibu akan bekerja.  Mulai dari menjadi buruh, menjajakan kue atau bahkan menjadi pahlawan devisa bagi negaranya.  Semua dilakoninya demi keselamatan keluarganya, terutama demi anak-anaknya.

Istri ataupun Ibu tidak boleh lelah, tidak boleh lemah, dan juga tidak boleh lengah.  Dia harus selalu merawat kesadaran, bahwa dirinya adalah “nyawa” dari keluarganya.  Segala sikap dan perbuatannya akan memberi dampak bagi kehidupan keluarganya dan menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Terjerembabnya banyak perempuan dan juga ibu dalam berbagai permasalahan menjadi sebuah alarm, bahwa jabatan, kemewahan maupun popularitas  yang ingin dicapai  dengan ambisi dan jalan pintas yang melewati batas akan dapat mematikan mimpi dan masa depan anak-anaknya.

 
0

Sinergi Tiga Pilar Pendidikan

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 11, 2013 in OPINI

Dimuat di: SINAR HARAPAN,  10 Desember 2013

Mulai tahun depan, tidak akan ada lagi anak sekolah dasar (SD) yang tidak naik kelas. Meskipun belum mampu menguasai pelajaran pada jenjang kelasnya, anak tersebut akan dapat terus melanjutkan ke kelas berikutnya dengan mengikuti remedial yang telah diprogramkan guru di sekolahnya.
Itulah kebijakan pendidikan terbaru yang dikeluarkan pemerintah yang didasarkan kepada tuntutan pola penilaian yang mengutamakan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Apakah itu sebuah kabar baik? Sekilas kebijakan tersebut mampu menenteramkan hati bukan saja bagi para siswa, namun juga orang tua.
Selama ini, banyak masyarakat kita memberikan label bodoh kepada anak-anak yang terpaksa tinggal kelas. Akibatnya fenomena tersebut membuat anak menjadi takut gagal (fear of failure) dan menilai belajar sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan (task aversiveness).
Pada akhirnya anak-anak belajar hanya untuk mencapai nilai akademis yang tinggi; sehingga di satu sisi kebijakan itu memang dirasakan lebih memanusiakan murid. Secara psikologis murid yang tertinggal tidak akan lagi harus menanggung malu ketika harus tetap tinggal di kelas lamanya.
Namun, hal itu justru patut menjadi kewaspadaan kita semua, karena di sisi lain kelonggaran itu tentu saja tidak akan memacu siswa untuk memiliki daya saing yang tinggi, bahkan mungkin akan menggerogoti motivasi diantara mereka. Ditambah lagi, model remedial yang direncanakan diberlakukan untuk anak-anak yang belum mampu menguasai pelajaran bukanlah perkara mudah.
Pembelajaran remedial pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan atau kelambatan belajar. Pemberian pembelajaran remedial meliputi dua langkah pokok, yaitu pertama mendiagnosis kesulitan belajar dan kedua memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran remedial.
Sementara itu, ada dua permasalahan besar pendidikan kita yang akan sangat memengaruhi program ini. Pertama, pemerataan guru yang masih jauh dari harapan dan kedua, negara kita masih defisit guru SD sebanyak 112.000 orang. Jumlah guru SD di sekolah negeri dan swasta yang ada sekitar 185.000 orang. Dari jumlah tersebut, hanya 60 persen guru yang sudah memenuhi kualifikasinya, yaitu telah menempuh S-1. Sisanya 40 persen bukan S-1 (Kemdikbud.org).
Jadi, bisa dibayangkan jika sebuah sekolah yang gurunya saja masih jauh dari jumlah ideal, bahkan banyak terjadi satu guru mengajar sekaligus beberapa jenjang kelas. Kemungkinan seorang guru tersebut akan mampu memberikan layanan kepada para muridnya yang “tertinggal” menjadi sangat kecil.
Selanjutnya kita juga tidak dapat menutup mata dengan kondisi masyarakat dan kebanyakan keluarga di Indonesia, bahwa kita termasuk masyarakat pemburu materi yang masih harus memenuhi kebutuhan hidup.
Kondisi ini membuat sebagian besar keluarga di negeri ini menyandarkan pendidikan anaknya di bangku-bangku sekolah. Kelelahan yang mendera karena kesibukannya memenuhi kebutuhan materi membuat mereka tidak lagi mempunyai energi yang lebih untuk pendidikan anak-anaknya di rumah.
Bahkan, studi dari berbagai lembaga internasional seperti TIMSS, PIRLS, dan PISA menunjukkan, kemampuan bernalar dan juga berliterasi bangsa ini masih rendah. Jika kebijakan tersebut terburu-buru dilaksanakan tanpa kajian yang lebih mendalam, dikhawatirkan hal tersebut justru mengendorkan daya saing di dalam lingkungan belajar.
Padahal, meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan bertambahnya kelas menengah yang bertumbuh hingga mencapai 131 juta orang pada 2010 menuntut upaya peningkatan kualitas SDM sehingga mampu memiliki daya saing yang tinggi. Ini karena dengan meningkatkan daya saing, kualitas SDM maupun daya saing produk yang dihasilkan negara kita dapat mengungguli negara lain; sehingga tidak lagi menjadi konsumtif akan produk dari negara lain.
Temuan Paul Stoltz pada 1997 tentang ketangguhan pribadi (Adversity Quotient) sebagai prediktor baru dalam melihat kesuksesan, melengkapi IQ, EQ, SQ yang lebih dulu populer jelas-jelas harus mendapatkan tempat disekolah dasar.
Mulai dari pendidikan dasar inilah anak harus mempunyai motivasi tinggi. Pencapaian motivasi ini akan diraih jika ada lingkungan yang mendukung. Reward dan punishment tetap harus diberlakukan, tentu saja harus sejalan dengan rohnya pendidikan yang humanis.
Tidak naik kelas adalah sebuah punishment yang memang harus diterima oleh mereka yang tidak dapat mencapai standar yang ada. Tidak naik kelas adalah sebuah pelajaran “kecewa” yang harus dialami anak. Itu akan menjadi cambuk, bukan saja bagi anak yang malas dan belum mampu bersaing, namun juga bagi mereka yang mungkin sudah dapat melewatinya.
Jika kini semua anak pasti akan naik kelas, pembelajaran yang berdaya saing harus kita ciptakan kepada mereka. Dengan demikian, mereka tetap akan menjadi anak-anak yang tidak lembek, tetapi mempunyai daya juang yang tinggi.
Bukan hanya di sekolah, namun juga di dalam keluarga dan lingkungan tempat anak tersebut bertumbuh. Dituntut peran yang lebih besar lagi dari kedua pilar ini, karena memang sinergitas sekolah, keluarga dan lingkungan adalah mutlak diperlukan bagi keseimbangan pendidikan seorang anak manusia. ●

 

 
0

Meningkatkan Profesionalitas Guru

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 11, 2013 in OPINI

Dimuat di: SUARA KARYA,  26 November 2013

Kita telah memasuki abad millenium, dimana kemudahan akses informasi semakin mendominasi segala lini kehidupan. Keadaan ini merupakan sebuah tantangan bagi bangsa kita untuk mensejajarkan diri dengan bangsa lain, dengan segala potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Jika tidak terus bergerak, maka kita pasti akan tertinggal. Patut disyukuri beberapa hal kita bisa unggul dibandingkan dengan bangsa lain, namun di sisi lain beberapa hal kita juga masih dinilai jauh tertinggal, semisal rendahnya kemampuan bernalar serta rendahnya minat membaca yang keduanya merupakan suatu indikator kemajuan sebuah bangsa.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan dalam pidato kenegaraan, 16 Agustus 2013 lalu bahwa kemungkinan bangsa ini akan terjebak dalam ekonomi menengah (middle income trap). Dimana masyarakat kita merupakan orang-orang yang pengeluaran per kapita per harinya sebesar 2-20 dolar AS. Dari pengertian tersebut, menurut McKinsey, jumlah kelas menengah di Indonesia dari 2003 sejumlah 81 juta naik sekitar 50 juta orang menjadi 131 juta orang pada 2010. Hal ini tentu merupakan peningkatan yang sangat fantastik.
Namun, peningkatan ini tetap harus diwaspadai. Jangan sampai kita terlena dan terjebak dengan hasil yang sangat cepat. Banyak contoh dari berbagai negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang masuk dalam jebakan kelas menengah, namun pertumbuhannya justru malah jadi tersendat dan menjadi konsumtif akan produk dari negara lain. Maka, peningkatan kualitas SDM harus terus dilakukan agar kita akan mampu bertahan dan bahkan mampu mengungguli negara lain.
Pendidikan merupakan sebuah jalan yang diharapkan mampu membawa bangsa ini kepada kemajuan, dengan guru sebagai garda terdepan pemimpinnya. Tilaar (2012), mengatakan, bagaimanapun bentuk masyarakat yang akan datang, profesi guru tetaplah diperlukan. Fungsi dan peranannya bisa saja terus berubah, namun profesi ini akan tetap langgeng selama manusia memerlukan sosok guru untuk membantu setiap perkembangannya, yang tidak mungkin diserahkan begitu saja kepada kekuatan alam.
Guru diharapkan mampu membimbing anak manusia melalui setiap tahap perkembangannya. Guru dianggap mempunyai pengalaman dan kemampuan khusus dalam membantu anak manusia menjadi seorang yang berkepribadian dan sanggup memasuki dan menghadapi dunia baru yang penuh dengan tantangan dan harapan.
Guru sekarang, bukan lagi disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Hal ini terjadi setelah tunjangan sertifikasi guru digulirkan, sehingga guru dituntut untuk benar-benar profesional menjalankan pekerjaannya. Menjadi profesional dibutuhkan sebuah mental transformasional, bukannya malah menjadi transaksional (sekuler-kapitalistik), yaitu sebatas mentransfer ilmu untuk siswanya selama 24 jam mengajar, dan sebagai imbalannya mereka mendapatkan tunjangan profesional.
Itulah tantangan besar seorang guru. Maka, perubahan atas dirinya pun mutlak diperlukan, karena tanggung jawab besar ada di pundaknya. Seorang guru seharusnya mempunyai dasar ilmu pengetahuan yang kuat serta mau dan mampu meng-update informasi dan pengetahuan yang ada padanya. Masyarakat yang kompetitif tentu saja hanya bisa terlahir dengan bantuan seorang guru yang profesional juga.
Keberanian seorang guru melakukan sebuah transformasi dalam model pembelajarannya adalah sebuah langkah besar bagi dirinya untuk memberikan satu hal terbaik bagi siswanya. Keputusan bertransformasi itu dapat diartikan guru mampu melepaskan segala macam kungkungan status quo lingkungan, keterbelakangan dan juga ketertinggalan. Artinya, ia dia telah menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri dalam mengalahkan egoisme, kemalasan dan juga kenyamanan. Semua dilakukan untuk orang lain, yaitu siswanya.
Hari guru yang diperingati setiap tanggal 25 November bertepatan juga dengan hari kelahiran organisasi terbesarnya, PGRI, yang kini telah memasuki usianya yang ke-68. Di usianya ini, profesi guru di negeri ini boleh dikatakan baru menggeliat beberapa tahun terakhir, setelah kesejahteraannya mulai diperhatikan.

Repotkan Guru
Sinyalemen ini pun nyatanya mampu mendongkrak minat lulusan SMA memasuki LPTK. Terlepas dari pandangan bahwa niatan mereka ini karena sekedar mengejar materi, namun hal ini merupakan sebuah kabar baik, bahwa peningkatan jumlah peminat menjadi guru akan memberikan ruang untuk menyeleksi calon-calon guru yang lebih baik.
Maka, harapan besar akan terlahirnya guru-guru yang lebih berkualitas mulai terbangun. Semua tentu saja harus diimbangi dengan peningkatan kualitas guru yang sudah ada. Keluhan-keluhan dari berbagai pihak akan stagnannya kinerja guru, bahkan menurun pasca kesejahteraannya dinaikkan, harus menjadi lampu kuning bagi pemerintah maupun guru sendiri.
Pemerintah harus menetapkan standar yang lebih jelas dan tegas untuk penilaian keprofesionalan seorang guru. Berubah-ubahnya persyaratan dan ketatnya aturan seharusnya bukan malah menyulitkan dan merepotkan apalagi menambah pekerjaan guru. Kecenderungan yang ada, banyak guru kini malah sibuk memperjuangkan nasibnya sendiri, bolak-balik mengurusi berkas ini dan itu, yang kesemuanya itu justru akan mengganggu kinerjanya pada tataran proses belajar mengajar yang menjadi pekerjaan utamanya.
Sebaliknya guru harus memberikan umpan balik yang seimbang atas perbaikan yang telah diupayakan oleh pemerintah. Integritas, konsistensi dan komitmen seorang guru adalah sebuah harga mati yang harus dimiliki untuk mengantarkan anak-anak didiknya menjadi manusia yang lebih unggul dan berkualitas. Selamat Hari Guru! ●

 
0

ZAKATNYA PARA GURU PROFESIONAL

Posted by arifah.suryaningsih on Dec 4, 2013 in OPINI

Dimuat di: SUARA KARYA, Jumat, 27 Desember 2013

Guru menjadi sebuah profesi yang semakin diminati sejak pemerintah mengalokasikan anggaran yang besar untuk peningkatan kesejahteraannya. Besarnya anggaran untuk keperluan ini pun tidak main-main, dari total anggaran fungsi pendidikan sebesar Rp 337 triliun di tahun 2013, pemerintah mengalokasikan Rp 43 triliun untuk tunjangan profesi guru. Data Pokok Pendidikan tahun 2012 menyebutkan, dari 2.744.379 orang guru yang ada, sejumlah 1.168. 405 orang yang telah tersertifikasi.

Apa yang telah dicapai ini, tentu saja tidak terlepas dari perjuangan para guru sendiri melalui organisasi profesi yang telah mulai menampakkan geliatnya pasca reformasi berlangsung. Tumbuh suburnya berbagai macam organisasi profesi guru membuat guru tidak kehilangan suaranya. Karena kenyataannya suara guru terlalu lama dibungkam untuk kepentingan politik para penguasa.

Merujuk dari keberhasilan para guru memperjuangkan hak-haknya untuk mendapatkan penghargaan yang sepadan dengan profesi lainnya, maka organisasi ini pasti juga akan mampu jika kini saatnya guru berbalik memberikan hak-hak orang lain melalui tunjangan profesi yang telah didapatnya tersebut. Satu program mengenai pemungutan dan pendistribusian zakat tunjangan profesional dapat dilahirkan melalui organisasi profesi guru ini.

Zakat yang bersumber dari tunjangan profesi guru-guru muslim jika dikelola secara terpusat bukan tidak mungkin akan memberikan kontribusi  bagi peningkatan perekonomian masyarakat Indonesia.  Seorang guru negeri dan impassing menerima tunjangan profesi sebesar 1 kali gaji dalam setiap bulannya. Artinya tambahan pendapatannya tersebut bisa masuk nishab yang dipersyaratkan. Maka di dalam tunjangan profesi tersebut terdapat hak-hak orang lain yang harus guru muslim sadari untuk diberikan kepada yang berhak.

Seperti kita ketahui, satu diantara prinsip-prinsip ekonomi Islam adalah distributive justice yang berguna untuk membangun keadilan sosial dan ekonomi yang lebih besar melalui redistribusi penghasilan dan kekayaan yang lebih sesuai untuk kelompok miskin dan kelompok yang membutuhkannya.

Jika kita asumsikan jumlah guru muslim di seluruh Indonesia ada sekitar 90%, maka  akan didapatkan jumlah sebanyak 38,7 Trilliun. Selanjutnya dapat dihitung  potensi zakat yang dapat dikumpulkan pada tahun 2013 adalah sebesar 2,5 % dari jumlah tersebut yaitu sebanyak 967, 5 M.

Dari ilustrasi tersebut didapatkan sebuah potensi strategis untuk dapat menyumbangkan peningkatan perekonomian masyarakat kita. Muflih (2006), mengatakan sekiranya umat Islam kelas ekonomi menengah atas di setiap daerah cenderung berperilaku konsumsi yang adil dan ihsan, maka kemanunggalan sosial ekonomi kita akan berjalan dengan baik sekalipun mereka berbeda suku dan daerah. Karena aturan dalam keberagamaan termasuk didalamnya zakat dan sedekah adalah sama.

Jika pengelolaan zakat tunjangan profesi ini mampu secara profesional dikelola oleh organisasi guru yang tersebar di seluruh nusantara, niscaya akan didapatkan beberapa keuntungan, diantaranya:

Petama, masyarakat penerima zakat akan ikut merasakan nikmatnya kenaikan kesejahteraan guru. sehingga kecemburuan sosial bisa teredam. Kedua, akan tercipta program-program swadaya yang dapat dikembangkan oleh organisasi profesi dengan sharing dana zakat yang ada, yang dapat dipergunakan untuk pelatihan-pelatihan kepada masyarakat yang berhak mendapatkannya. Ketiga, membuka mata guru muslim bahwa kewajiban berzakat merupakan hakiki yang tersurat dalam rukun Islam. Zakat bukan sekedar zakat fitrah, namun juga zakat mal yang lebih sering diabaikan. Keempat, gerakan guru berzakat merupakan sebuah modal sosial yang dapat dipergunakan untuk memberikan keteladanan konkrit bagi negara ini, dimana banyak sekali para pelaku koruptor yang seolah harta hanya akan diraup untuk kepentingannya sendiri. Keteladanan yang muncul dari guru akan terasa sangat menyejukkan, dimana status guru yang masih dianggap mulia oleh masyarakat kita. Kelima, zakat guru bisa disharingkan untuk kegiatan pemberian beasiswa bagi siswa miskin berprestasi. Dengan program ini bukan tidak mungkin akan melahirkan cikal bakal enterpreuner dari kaum pelajar.

Selain itu, wujud penyaluran zakat sebagai dana produktif, yang sumbernya berasal dari guru bersertifikasi akan menguatkan dua ciri keprofesionalan sang guru, yaitu kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Sehingga peran guru bukan saja berada dalam lingkungan tempatnya mereka bekerja, namun juga  dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat.

Diperlukan cara untuk mengubah sikap, memberikan motivasi yang tepat, serta menciptakan lingkungan sosial yang peka dan terbuka. Guru sebagai kaum intelek di dalam masyarakatnya akan menjadi teladan  dan bersama-sama membangun semangat berzakat dan bersedekah demi mewujudkan  masyarakat yang adil dan sejahtera.

Seperti yang telah dijanjikan oleh Allah SWT dalam QS Al-A’rof ayat 96, Padahal jika sekiranya penduduknya negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah-berkah dari langitdan bumi, tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa merekadisebabkann apa yang mereka lakukan.

Maka seiring dengan semakin tingginya populasi masyarakat dan ekonomi yang terus berkembang, gerakan ekonomi syariah ini diharapkan bisa membawa Indonesia menuju kekuatan perekonomian yang lebih kokoh dan dapat dirasakan untuk memakmurkan seluruh rakyat Indonesia. Semoga

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.