Tontonan dan Tuntunan Miss World

Posted by arifah.suryaningsih on Nov 22, 2013 in Tempat Curhat |

Dimuat di: SUARA KARYA, 10 September 2013

 

Perhelatan akbar Miss World terus melenggang, di tengah hiruk-pikuk pro dan kontra atas pelaksanaannya. Kontes ratu sejagad tersebut tentu akan menyita perhatian mayoritas penduduk di 160-an negara seluruh dunia. Terlebih, bagi masyarakat Indonesia sebagai tuan rumah, suka tidak suka selama beberapa hari ke depan masyarakat kita akan disuguhi gebyar kontes ratu sejagat yang memenuhi ruang-ruang media di seantero Nusantara.
Pemerintah mengklaim bahwa satu sisi positif dari pelaksanaan kegiatan ini adalah sebagai ajang memperkenalkan Indonesia di kancah dunia. Sedangkan menurut saya, inilah cara instan yang ditempuh untuk mencuatkan nama Indonesia di kancah internasional. Bukan dengan menciptakan prestasi, tapi cukup menjadi tuan rumah Miss World saja.
Sementara yang terjadi, Indonesia tetaplah negara peringkat terbawah di bidang pendidikan, tetap menjadi negeri nomor tiga terkorup dunia, dan masih juga jarang mencetak prestasi di event-event dunia. Munculnya Indonesia sebagai tuan rumah dengan kemolekan Pulau Bali-nya seolah mengabarkan kepada dunia, meskipun negeri ini sedang dirundung banyak permasalahan, namun tetap cantik di mata dunia.
Perhelatan ini bahkan diadakan ketika dunia pendidikan kita sedang diterpa berbagai permasalahan, mulai dari kurikulum baru yang belum juga menunjukkan arah yang jelas, buku-buku ajar yang berbau kekerasan, pornografi, tawuran pelajar, ditambah lagi kasus yang memiriskan, yaitu ratusan guru di Indonesia terindikasi melakukan tindak amoral dengan ditemukannya pemalsuan ijazah yang mereka miliki. Ketika kita miskin tuntunan dan keteladanan, kehadiran tontonan-tontonan yang menghibur dan menyenangkan hati akhirnya akan dijadikan tuntunan.
Bahkan ketika remaja kita sedang resah dengan kehadiran kuesioner yang mempertanyakan ukuran alat vitalnya, ketika mereka berada pada masa yang paling penting untuk mengembangkan kepribadian dan fisik yang sehat, televisi-televisi di ruang keluarga mereka sedang menyiarkan kemolekan dan lekuk tubuh sempurna para finalis Miss World. Maka, kegamangan akan mempengaruhi kehidupan remaja kita, ketika pada saat fisik mereka mulai bertumbuh dan keinginan mengembangkan daya tarik mulai hadir. Sehingga, persepsi remaja terhadap kecantikan akan bermuara pada aspek lahiriah semata.
Gaya hidup masyarakat kita sudah terlalu banyak dijejali dengan siaran-siaran televisi yang selama ini telah mereduksi moral serta minim keteladanan terutama bagi para remaja kita. Syahputra, 2013 menyebutnya sebagai ‘rezim media’. Menurutnya, televisi sebagai bagian dari rezim media telah menentukan gerbang di mana informasi – budaya, sosial, ekonomi, politik dan bahkan isu agama, senantiasa mengalir membentuk lingkungan yang dibaca, dipercaya dan disikapi (diskurtif). Di sinilah akhirnya tontonan yang disajikan dalam media (termasuk ajang Miss World) akhirnya akan menjadi tuntunan, masyarakat khususnya kaum remaja akan menerima semua informasi tersebut sebagai sesuatu yang sah dan tanpa masalah.
Kontes kecantikan apa pun namanya, kegiatan semacam ini lebih kental dengan glamour dan hedonis. Apa yang dipertontonkan kepada publik hanyalah gemerlapnya, lenggak-lenggoknya dan bahkan mereka dilekati dengan berbagai macam produk kosmetik serta fashion yang diprediksi akan menguasai pasar mode ke depannya. Para wanita akan berkiblat kepada apa yang mereka kenakan.
Menengok sejarahnya, tujuan awal kegiatan ini adalah demi kepentingan kapitalis belaka. Eric Morley, perancang sekaligus koseptor kapitalisme global di London, sejak 1951 telah mengenalkan Festival Kontes Bikini. Acara ini dilaksanakan untuk memperkenalkan pakaian renang yang disebut oleh media sebagai ajang Miss World. Akhirnya melalui event inilah, Miss World menjelma menjadi sebuah bentuk waralaba (franchise). Ada 130 negara telah membeli waralaba yang akan menghasilkan keuntungan materi yang menggiurkan.
Pelaksanaan Miss World memiliki konsep 3B, brain (kecerdasan), beauty (kecantikan) dan behavior (keperibadian). Namun, kita tahu bahwa mereka lolos memasuki gerbang adu 3B ini atas dasar pesyaratan huruf B kedua, yaitu beauty – cantik secara fisik menjadi persyaratan mutlak mengiringi 2B yang lain. Artinya, ajang ini menjadi tuntunan yang keliru ketika para remaja kita memaknai kecantikan harus mengikutkan fisik di dalamnya.
Padahal, perempuan dengan kecantikan yang sesungguhnya adalah mereka yang bisa memberikan energi positif bagi lingkungan sekitar. Dengan demikian, kriteria perempuan yang cantik bukan lagi fisik, melainkan perempuan yang memiliki kemampuan dan prestasi tinggi, yang dapat memberikan kemanfaatan bagi dirinya sendiri dan orang lain. seperti yang dikatakan oleh Ainna Amalia. (Baca:
‘Kecantikan dalam Perangkap Kuasa’)
Maka, wanita-wanita tangguh, cerdas, berkepribadian luar biasa dan menginspirasi harus terus dihadirkan dalam ruang-ruang publik kita. Kolektivitas yang melibatkan media dalam memberikan role model bagi generasi kita perlu dibangun, bukan semata untuk kepentingan kapitalisme yang mampu meraup keuntungan dolar maupun rupiah. Remaja kita harus segera disadarkan dengan keteladanan. Bahwa menjadi cantik itu harus terdidik. Karena, melalui pendidikan, sebuah peradaban akan dibangun untuk mengangkat harkat dan martabat diri, keluarga dan juga bangsanya. ‚óŹ

Reply

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.