Menilik Kembali Seni Tutur Hikayat Aceh

Posted by arifah.suryaningsih on Nov 22, 2013 in Uncategorized |

Artikel dimuat di: Analisa Daily, Jumat 22 No 2013

Kejayaan Aceh dimasa lalu pernah membawa pula kegemilangan sebuah kesenian bersyair yang disebut seni tutur hikayat, yang kini nyaris hilang karena kurangnya pelestarian. Padahal seni tutur hikayat ini adalah ibu dari semua seni di Aceh. Hal ini disebabkan karena semakin jarangnya seniman menekuni seni tutur hikayat seiring sepinya panggung. Bahkan kini tinggal ada enam seniman di Aceh yang menguasai seni tutur hikayat dan aktif. Banyak masyarakat Aceh yang tidak kenal lagi akan adanya kesenian ini. (Kompas, 20 Sept 2013)

 

Seni tutur hikayat merupakan sebuah media interaktif untuk menyampaikan dongeng mengenai kepahlawanan, perjuangan, petunjuk kehidupan, sanjungan kepada raja hingga kisah-kisah keseharian. “Dongeng interaktif “ ini yang merupakan hiburan rakyat Aceh di masa lalu. Kini semakin tergusur ketika “Alladin, Malin Kundang, Bawang Merah Bawang Putih” dan beberapa kisah dongeng klasik lainnnya tayang di televisi. Walaupun heroisme dan keindahannya kurang begitu terasa, dengan alur cerita yang seperti dipaksakan serta terlalu banyak improvisasi di dalamnya. Namun jika kita lihat saat anak-anak menontonnya, mereka terpaku di depannya, menikmati dengan begitu asyiknya sampai mungkin lupa waktu.

 

Ada beberapa sisi yang kurang pas terhadap lahirnya dongeng-dongeng klasik yang ber-casing modern ini. Antara lain, pertama, jam tayang sinetron dongeng ini kebanyakan hadir di jam-jam wajib belajar anak yaitu antara pukul 19.00 sampai dengan 22.00 yang itu bertepatan dengan jam prime time-nya siaran televisi, dimana pada jam tersebutlah produser membidik jumlah audience terbesar untuk pendapatan dari iklan.

 

Iklan juga mempunyai pengaruh besar bagi tumbuh kembangnya anak. Iklan bisa berpengaruh terhadap karakter si anak. Sebuah riset menjelaskan, anak-anak yang cenderung materialis percaya bahwa lewat benda dan produk-produklah kebahagiaan dan kesuksesan bisa diraih. “Iklan di televisi adalah penghasut. Anak-anak yang kurang puas dalam kehidupan mereka berubah menjadi materialistis dari waktu ke waktu,” kata Suzanna Opree, pimpinan riset dari Jurusan Komunikasi Universitas Amsterdam. (Kompas.com, 23/8/2012)

 

Kedua, improvisasi yang terkadang berlebihan terhadap cerita yang sesungguhnya, melahirkan versi dongeng yang lain dan menjadikan dongeng tersebut terasa jauh dari sisi originalitasnya. Banyak sekali tambahan-tambahan cerita yang berkonotasi “lebay” (berlebihan) di dalamnya, yang pastinya hal tersebut menjadi tuntutan produser untuk memanjang-manjangkan seri tayangan sinetron dongeng tersebut kaitannya dengan ongkos produksi dan sisi bisnis. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, relakah kita, ketika daya imajinasi anak-anak menjadi tidak terasah dengan baik, tergantikan dengan visualisasi “apa adanya”, dan bahkan kedekatan kita direbut oleh tayangan-tayangan dongeng versi sinetron tersebut di televisi?

 

Menurut pengamat anak, Seto Mulyadi: “Dalam menyampaikan isi cerita, televisi bisa saja menarik perhatian si anak karena dilakukan melalui visualisasi. Tapi dalam hal-hal lain ada yang hilang dan tidak bisa digantikan, yaitu kesempatan berkomunikasi secara langsung dan kesempatan berdialog. Mendongeng, kini menjadi sebuah tantangan besar bagi orangtua, yang terlalu sibuk dengan segala macam aktivitas dan rutinitasnya sehingga kedekatan dengan anak-anaknya kurang bisa terbangun melalui sebuah kegiatan sederhana tersebut.

 

Adalah sebuah asumsi yang salah ketika perkembangan teknologi mulai menggeser paradigma bahwa segala macam dongeng ataupun cerita dapat tersampaikan melalui media-media modern yang ada. Pada penggunaan teknologi untuk penyampaian pesan cerita, tidak ada pola hubungan face-to-face, komunikasi, dan kehangatan yang dapat anak terima dari orangtuanya.

 

Sedangkan hal tersebut dapat berdampak luar biasa terhadap perkembangan anak. Seperti yang dikatakan Lilian Holewell dalam bukunya: A book for Children Literature, sedikitnya ada enam manfaat dongeng, yaitu: 1) Mengembangkan daya imajinasi dan pengalaman 2) memuaskan kebutuhan ekspresi diri. 3) memberikan pendidikan moral tanpa menggurui anak. 4) Memperlebar cakrawala mental si anak dan memberikan kesempatan untuk meresapi keindahan. 5) Menumbuhkan rasa humor dalam diri anak dan 6) memberikan persiapan apresiasi sastra dalam kehidupan si anak setelah ia dewasa.

 

Kehadiran dongeng kepahlawanan, perjuangan, petunjuk kehidupan, sanjungan kepada raja hingga kisah-kisah keseharian dapat diceritakan melalui seni tutur hikayat. Karena pada dasarnya kesenian ini bisa menjadi media yang sangat interaktif bagi anak dengan orangtua maupun gurunya. Dalam moment tersebut anak bisa melihat secara langsung bagaimana penutur berekspresi, menatap, berkelakar atau menyisipkan hal-hal lucu yang dapat membuat mereka tertawa bersama, menangis bersama ataupun berdiskusi bersama. Komunikasi yang dibangun melalui kesenian mendongeng seperti ini tidak akan pernah mengalami bias atau distorsi dalam penyampaian pesannya. Berbeda sekali ketika dongeng hanya tersampaikan melalui media TV, dongeng tidak tersampaikan secara interaktif, statis dan anak tidak dirangsang untuk menjadi lebih kritis.

 

Kita hidup di era global. Dimana pola pergaulan dan gaya hidup menjadi lebih terbuka serta permisif terhadap hampir semua permasalahan. Kebebasan pers, reformasi, perekonomian global, semua membawa pengaruh pola hidup dan tatanan sosio kultural yang berdampak juga terhadap transformasi nilai-nilai agama, moral dan budaya nasional.

 

Menghidupkan kembali seni tutur hikayat diantara anak-anak dalam pendidikan keluarga maupun pendidikan formal, sebenarnya bukanlah perkara sulit. Terlibasnya kesenian yang sarat dengan muatan pendidikan ini seharusnya menjadi sebuah tantangan besar bagi rakyat Aceh untuk memperjuangkannya. Pekan Kebudayaan Aceh yang kini sedang digelar adalah sebuah momentum yang tepat untuk kembali mengingatkan akan kejayaan kesenian ini dalam perannya menyampaikan pesan-pesan moral positif.

 

Kehadiran dongeng melalui seni tutur hikayat sama artinya, orangtua maupun guru mampu berfokus menciptakan sumber-sumber kebahagiaan bagi anak, membangun berjuta harapan agar mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang humanis, peka terhadap lingkungan sosial dan budaya. Semuanya bisa diciptakan lewat cinta, persahabatan, permainan, dan sikap yang jauh dari materialis. Bagi anak-anak, setiap hari adalah hal yang istimewa dan luar biasa, jika ada daya dukung yang diberikan oleh semua orangtua ataupun orang dewasa didekatnya. ***

 

Penulis adalah Pendidik. Alumnus Program Manajemen Kepengawasan Pendidikan MM UGM.

Reply

Copyright © 2017 fafa arifah's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek.